Koran Jakarta | December 16 2017
No Comments

Pembunuhan Kim Jong Nam

Pembunuhan Kim Jong Nam

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Berita terkait Korea Utara atau Korut terus bergulir. Setelah pekan lalu dunia dikhawatirkan keberhasilan uji coba rudal balistik berdaya jelajah sedang dan jauh, pekan ini pemberitaan soal Korut makin panas. Ini terkait pembunuhan adik ipar Kim Jong Un, penguasa Korut, bernama Kim Jong Nam. 

Kim Jong Nam dan Kim Jong Un putra mendiang penguasa Korut Kim Il Sung II beda ibu. Media Jepang, NHK melaporkan Kim Jong Nam, putra tertua Jong Il dengan Song Hye Rim. Ia dikatakan telah menempuh pendidikan di sekolah-sekolah internasional di Moskwa dan Jenewa.

Berita kematian Jong Nam menyebar Senin (12/2) dikabarkan diserang menggunakan jarum beracun di bandara Kuala Lumpur. Dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kepolisian Malaysia menjelaskan, Jong Nam (45) sedang berjalan di terminal keberangkatan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) saat diserang. Fadzil Ahmat, Komandan Badan Reserse Selangor mengungkapkan, Jong Nam mengatakan kepada resepsionis bahwa seseorang memegang wajahnya dari belakang dan menyemprotkan cairan kepadanya. 

Yang menarik dari kasus pembunuhan di lingkaran keluarga penguasa Korut ini melibatkan pembunuh bayaran dan ditemukannya paspor Indonesia terkait terduga pelaku. Bagaimana rantai pembunhan di antara keluarga pengusa negeri sosialis yang selama ini tetutup? Dan apa kaitannya dengan WNI yang ditangkap oleh aparat Malaysia yang menduga ada keterlibatan mereka?

Setelah kasus ini mencuat, banyak media mengaitkan dengan suksesi kepemimpinan di Korut. Seperti banyak diungkap, awalnya Kim Jong Nam masuk nominasi pengganti Kim Jong-il. Namun sang ayah murka setelah pada tahun 2001 putra sulungnya itu tertangkap di Jepang untuk mengunjungi Disneyland menggunakan paspor palsu. Penunjukan sang adik sebagai pemimpin Korut pascameninggalnya Kim Jong-il pada 2011 ditentang Kim Jong Nam.

Sejak beberapa tahun lalu, Kim Jong Nam telah menjadi target pembunuhan rezim sang adik. Pada tahun 2012, Korsel mengatakan, seorang mata-mata Korut yang ditahan telah mengakui keterlibatannya dalam komplotan tabrak lari tahun 2010 di Tiongkok yang menargetkan Kim Jong Nam. Fakta ini menunjukkan betapa persaingan mempertahankan tahta kekuasaan bisa membuat penguasa bersikap kejam.

Selain itu, kasus kematian Jong Nam menarik perhatian publik Indonesia karena kepolisian menangkap seorang bernama Siti Aisyah (25) yang berpaspor Indonesia. Sebelumnya, polisi juga menangkap seorang perempuan berusia 28 tahun, Doan Thi Huong berpaspor Vietnam dalam kasus yang sama. Kedua perempuan ditangkap terpisah. 

Pertanyaan muncul, apakah Siti Aisyah yang berpaspor Indonesia terlibat dalam jaringan pembunuhan? Kepolisian Malaysia sendiri tengah memeriksa dan menahan Aisyah. Sedangkan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, telah berkoordinasi dengan otoritas keamanan Malaysia.

Dengan asumsi bahwa kasus pembunuhan ini melibatkan penguasa Korut, kita bisa menyatakan, kekuasaan memang tidak mengenal keluarga. Kekuasan seakan terpisah dari geneologi keluarga. Jika di antara calon pengusa bersaing dan yang kalah atau tidak diangkat menjadi pemimpin, maka dendam bisa membawa pembunuhan. Sejarah kerajaan-kerajaan masa silam baik Indonesi maupun negara lain memperlihatkan fakta berbagai kasus pembunuhan.

Karena kasus ini sangat keji dan brutal, maka kita hanya ingin mengingatkan bahwa dunia sudah sangat modern. Aturan hukum mesti menjadi pegangan utama dalam kehidupan baik bermasyarakat maun bernegara. Tidak bisa lagi cara-cara keji masa lalu diterapkan, hanya untuk mempertahankan kekuasaan. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment