Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Kereta Cepat - Biaya dan Keuntungan Harus Seimbang

Pembangunan Rel Thailand – Tiongkok Kembali Dilanjutkan

Pembangunan Rel Thailand – Tiongkok Kembali Dilanjutkan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Tahap pertama pembangunan rel kereta cepat dengan total 1.260 kilometer itu menghubungkan Ibu Kota Bangkok ke wilayah selatan Tiongkok.

BANGKOK — Pembangunan tahap pertama rel kereta cepat, yang menghubungkan Tiongkok dengan Thailand, kembali dikerjakan setelah sempat terhenti. Pembangunan rel itu kembali dilanjutkan setelah mendapatkan persetujuan terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pembangunan rel kereta cepat ini.

Lembaga kebijakan lingkungan dan perencanaan Thailand akhirnya menyetujui kemungkinan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat pembangunan rel kereta cepat ini.

Dalam situs resminya, pembangunan tahap pertama sudah dilakukan pada 30 November 2017 lalu. Dengan turunnya persetujuan ini, maka pada gelombang pertama akan dibangun 250 kilometer rel kereta api cepat yang menghubungkan Bangkok menuju Provinsi Nakhon Ratchasima.

Pembangunan ini harusnya dimulai sejak awal November. Menurut Sekjen Dewan Nasional Thailand, Vallobh Muangkeo, setelah dampak lingkungan diatasi, sekarang muncul kekhawatiran baru, yakni rendahnya permintaan untuk jasa layanan ini. Muncul pula keraguan apakah para penumpang akan mampu membayar harga tiket kereta api cepat ini, mengingat biaya pembangunan rel kereta api cepat ini menghabiskan 5,2 miliar dollar AS.

Selain itu, muncul kekhawatiran apakah rel kereta cepat ini bisa dimanfaatkan sebagai transportasi barang. Sebelumnya pada Juli 2017, pemerintah Thailand sudah menyetujui untuk mengucurkan pendanaan sebesar 5,2 miliar dollar AS untuk membangun tahap pertama rel kereta api cepat.

Akan tetapi, proyek pembangunan ini telah dihentikan karena beberapa alasan, di antaranya kendala dana, lingkungan, hak-hak, hingga masalah buruh yang terlibat dalam proyek pembangunan ini. “Proyek ini sebelumnya dinilai oleh pemerintah Thailand tidak layak karena biaya pembangunannya kelewat mahal dan potensi penumpang yang akan menggunakannya rendah.

Untuk itu, kami akan melakukan pembicaraan dengan pemerintah Tiongkok untuk mendapatkan jawaban pasti, termasuk kemungkinan apakah rel kereta api cepat ini bisa digunakan untuk mengangkut barang atau penumpang saja,” kata Muangkeo, di sela-sela Konferensi Internet Dunia di Wuzhen, Provinsi Zhejiang.

 

Pengangkut Barang

 

Di bawah kesepakatan pembangunan kereta api cepat Thailand–Tiongkok, pemerintah Thailand memiliki proyek ini sepenuhnya dan akan bertanggung jawab dalam hal pendanaan konstruksinya, sedangkan Beijing bertugas merancang dan memberikan jasa teknisi, insinyur, sistem jalur dan peralatan.

“Biaya untuk pembangunan ini miliaran dollar, jadi setidaknya harus ada sembilan juta sampai 10 penumpang per tahun yang diangkut dalam kereta cepat ini dengan perbandingan total populasi Thailand sekitar 60 juta sampai 70 juta jiwa. Maka, saya akan meminta kereta cepat ini bisa digunakan pula sebagai transportasi pengangkut barang jika memungkinkan,” kata Muangkeo.

Tahap pertama pembangunan rel kereta cepat total 1.260 kilometer menghubungkan Ibu Kota Bangkok ke wilayah selatan Tiongkok. Jika proyek ini rampung, akan menjadi kereta cepat Thailand pertama dan proyek tingkat tinggi yang dikembangkan sebagai bagian dari ambisi pemerintah Tiongkok untuk menghubungkan negara itu dengan negara-negara ASEAN.

Jaringan rel kereta cepat ini nantinya akan menghubungkan Provinsi Yunnan, Tiongkok menuju Laos, Thailand, Malaysia, lalu ke Singapura. Seksi pembangunan di Laos sudah dimulai tahun lalu. “Biaya yang dikeluarkan dan keuntungan harus seimbang.

Saya ingin meminta kepada pemerintah Tiongkok agar mempertimbangkan dan menemukan solusi terbaik, termasuk meminimalkan biaya pengeluaran dan memaksimalkan keuntungan bagi seluruh negara, yang dilalui jalur kereta cepat,” kata Muangkeo. 

 

uci/South China Morning Post/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment