Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Merajut Persatuan

Pembangunan Indonesia Sentris Harus Konsisten Dilakukan

Pembangunan Indonesia Sentris Harus Konsisten Dilakukan

Foto : Koran Jakarta/M Fachri
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Joko Widodo (Jokowi) bersama KH Ma’ruf Amin sudah dinyatakan sebagai peraih suara terbanyak berdasarkan hasil rekapitulasi suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tinggal sekarang menunggu putusan Mahkamah Konsitusi (MK), karena rivalnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memutuskan menggugat hasil pemilihan ke mahkamah. Tapi jika putusan MK menguatkan keputusan KPU, Jokowi harus konsisten melanjutkan pembangunan Indonesia sentrisnya. Ini sangat penting, untuk mengikis dikotomi sekaligus sisa-sisa pembelahan masyarakat dalam pemilihan presiden kemarin. Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata mengatakan itu di Jakarta, Minggu (26/5). Menurut Dian, dikotomi masyarakat akibat ekses Pilpres akan tetap ada. Namun tidak besar seperti yang dikhawatirkan. Ini given.

“Kita ditolong lebaran, pelaksanaan pilkada serentak 2020, 2022. Pemilih kedua kutub tersebut akan cair,” katanya. Tapi Dian yakin resistensi masyarakat yang ada di basis Prabowo pada Pilpres kemarin akan perlahan mencair. Kuncinya, Jokowi harus mampu merayu daerah basis Prabowo dengan infrastruktur dan belanja modal ekonomi. Dian yakin tingkat kepercayaan masyarakat di basis Prabowo kepada pemerintah akan naik dengan sendiri. Sebaliknya, jika tidak demikian maka pemerintahan Jokowi tidak mendapatkan respon positif. terutama pada basis-basis 02. Dan, ini sebuah hal lumrah. Maka, pembangunan Indonesia sentris harus dilaksanakan dengan konsisten,” katanya. Jangan sampai kata dia, masyarakat yang ada di basis Prabowo menganggap pembangunan masih dengan pola Jawa sentris. Karenanya isu pembangunan Jawa sentris harus mampu dijawab Jokowi dengan Indonesia sentris.

Pembelahan Masyarakat

Sementara pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Wawan Fahrudin mengatakan, pembelahan masyarakat dalam Pilpres itu terjadi karena kandidat memang bersaing secara head to head. Dengan persaingan seperti itu pembelahan tidak terhindarkan. Apalagi belum ada aturan yang jelas soal penggunaan sosial media dalam kampanye. Ke depan harus dibuat aturan dan sistem pengaturan kampanye di sosial media yang beradab. Sekarang yang paling penting yang harus dilakukan Jokowi kata Wawan, adalah merangkul seluruh komponen bangsa dan elit politik. Serta yang tak kalah penting melahirkan program keumatan. Sedangkan Direktur Eksekutif Riset Indonesia Toto Sugiarto berpendapat, agar pemerintahan lebih kuat dan stabil, Jokowi bisa merangkul beberapa kekuatan politik di kubu Prabowo. Tapi ia menyarankan tidak perlu terlalu banyak. Merangkul PAN sudah cukup.

ags/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment