Koran Jakarta | May 21 2018
No Comments
Antisipasi Terorisme - Jangan Kasih Ruang Teroris Berlindung di Balik HAM

Pembahasan RUU Antiterorisme Selesai Bulan Ini

Pembahasan RUU Antiterorisme Selesai Bulan Ini

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk memperkuat payung hukum dalam mengatasi terorisme, DPR dan pemerintah akan menyelesaikan RUU Antiterorisme dalam bulan ini.

SURABAYA - Ketua De­wan Perwakilan Rakyat (DPR), Bambang Soesatyo meminta pemerintah satu suara dalam pembahasan finalisasi revisi UU terorisme di DPR. RUU Antiterorisme segera disahkan pada masa sidang DPR di bu­lan Mei ini.

“Presiden minta RUU Anti­terorisme selesai paling lambat bulan Juni. Kami di DPR mene­gaskan siap untuk ketuk palu di bulan Mei ini. Tinggal pemer­intah menyelesaikan masalah di internalnya agar satu suara dalam menyikapi revisi UU an­titerorisme ini,” kata Bambang, di Surabaya, kemarin.

Politisi dengan panggilan akrab Bamsoet ini meminta aparat kepolisian dan penegak hukum lainnya bertindak te­gas tanpa takut melanggar hak asasi manusia (HAM). Aparat kepolisian ditekankannya ha­rus menyusup masuk ke dalam sel-sel kelompok teroris. De­ngan cara itu, aparat kepolisian bisa langsung menangkap dan memeriksa jika dirasa ada dug­aan kuat dan bukti yang cukup tanpa menunggu teroris me­lancarkan aksi teror.

“Kepentingan bangsa dan negara harus didahulu­kan. Kalau ada pilihan antara HAM atau menyelamatkan masyarakat, bangsa dan nega­ra, saya akan memilih menye­lamatan masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Soal HAM, kita ba­has kemudian. Terbukti kita proses hukum, tidak terbukti dilepaskan. Jangan kasih ruang bagi teroris untuk berlindung di balik nama HAM,” tandasnya.

Politisi Golkar ini turut me­minta pemerintah tidak ragu menutup situs maupun konten yang bermuatan radikal. Ber­dasarkan informasi dari Ka­polri, para teroris memanfaat­kan media sosial online untuk merakit bom.

“Pemerintah jangan takut untuk meminta provider mau­pun penyedia layanan platform digital menutup situs mau­pun konten yang bermuatan radikal. Jika provider maupun platform digital lambat menu­tup, kita bisa paksa. Ini untuk kepentingan bangsa dan nega­ra,” tegas Bamsoet.

Tingkatkan Kewaspadaan

Dalam kesempatan yang sama Bamsoet mengajak semua pihak meningkatkan kewasp­adaan serta menjaga diri, ke­luarga, maupun lingkungan se­kitar terhadap ideologi radikal dan ekstrim yang dibawa oleh orang-orang tak bermoral. Para tokoh masyarakat dan pemuka agama diharapkan ikut ambil peran dalam menjaga ketedu­han di masyarakat.

“Masyarakat kita sangat heterogen dan kental dengan ketaatan terhadap tokoh mau­pun pemuka agama. Saya mengajak untuk menciptakan keteduhan dan keharmonisan. Para tokoh dan pemuka agama harus mencerahkan umatnya agar tak termakan isu yang da­pat memecah bangsa maupun mengganggu kedamaian di In­donesia,” ucapnya.

Bamsoet datang ke Markas Polrestabes Surabaya bersama Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Wakil Ketua Komisi I DPR Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaedi Mahesa serta sejum­lah anggota Komisi III DPR. Mereka, antara lain Herman Hery,Arteria Dahlan, Masinton Pasaribu, Adies Kadir, Wihadi, dan Ahmad Sahroni.

Ahmad Sahroni mengutuk keras tindakan pelaku teror yang melibatkan anak dalam melakukan aksinya. “Sangat bi­adab mereka yang malakukan hal demikian (bom bunuh diri) sampai anak-anak menjadi korban brutal orangtuanya. Se­dih melihat kejadian di negeri tercinta kita ini. Semoga badai cepat berlalu dan semua kem­bali normal,” kata Sahroni.

Pakar keamanan siber, Prata­ma Persadha memandang perlu langkah preventif dengan men­elusuri potensi bibit terorisme yang bisa dilacak dari aktivitas digital. Langkah tersebut sebagai antisipasi penyebaran paham radikalisme melalui internet, terutama lewat media sosial.

Aparat, tambah Pratama, juga dituntut segera memeta­kan jaringan kelompok teror­isme berdasarkan informasi hasil penangkapan tersangka. Sekalipun aksi teror dilakukan secara tunggal, tentu sudah ada komunikasi dan koordinasi de­ngan jaringan utamanya.

ion/SM/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment