Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Perubahan Iklim - Energi Terbarukan Indonesia Masih Jauh dari Target

Pemanasan Global Ancam Jakarta Tenggelam

Pemanasan Global Ancam Jakarta Tenggelam

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

KATOWICE - Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat seka­ligus pegiat lingkungan, Al Gore, mengatakan akibat pe­manasan global, sejumlah kota besar terancam tenggelam, ter­masuk Jakarta dan New York.

“Akibat pemanasan global, 95 persen es di Arktik men­cair. Imbasnya, permukaan air laut naik, ribuan pulau di Indonesia, termasuk Jakarta, terancam tenggelam, bersama dengan New York, Mumbai, Bangladesh, bahkan Miami,” kata Gore seperti dilansir BBC. com, Jumat (14/12).

Sebelumnya, Al Gore men­datangi paviliun Indonesia di sela-sela konferensi perubahan iklim PBB 2018 (COP24) yang berlangsung di Katowice, Polandia. Gore mengatakan konferensi PBB tentang pe­rubahan iklim adalah harapan dan peluang negara-negara di dunia untuk memperbarui ke­bijakan terhadap lingkungan.

Menurutnya, manusia me­miliki political will (keinginan politik) untuk mengubah krisis iklim yang terjadi saat ini. Dia mengatakan suhu permukaan bumi telah naik satu derajat Celsius dan semua pihak bu­tuh percepatan perbaikan ling­kungan. “Bila kita ragu akan political will, yakinlah, political will itu juga sumber daya yang bisa diperbarui,” kata Gore.

Pesan Al Gore juga dituju­kan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait penarikan diri Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris pada COP21. “Jika ingin benar-benar lepas dari Kesepakatan Paris, dia (Donald Trump) harus menunggu usai masa pemilu selanjutnya, itu aturan­nya. Jadi, jika ada presiden baru yang menang dalam pe­milu menggantikan Donald Trump, hanya butuh 30 hari bagi Amerika Serikat untuk kembali fokus pada Kesepakatan Paris,” kata Gore.

Soal ancaman tenggelam­nya pulau-pulau di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengutarakan bahwa akibat kenaikan muka air laut, daratan akan berkurang yang menyebabkan migrasi manu­sia ke tempat yang lebih aman. “Sekitar 300.000 kepala ke­luarga kehilangan rumahnya karena kenaikan permukaan air laut,” kata Siti.

Indonesia sendiri memiliki target penurunan emisi pada 2020 hingga 2030 sebesar 29 persen dan sektor energi dini­lai masih lambat bergerak.

Jauh dari Target

Pesan Al Gore lainnya ter­kait fakta dari para ilmuwan tentang percepatan transisi menuju energi terbarukan dan meningkatkan ambisi penu­runan emisi domestik. “Jika 10 tahun lalu kita masih bermim­pi bahwa energi terbarukan dapat direalisasikan, para il­muwan telah menetapi janjin­ya. Kini, listrik yang dihasilkan dengan tenaga surya dan angin lebih murah dari batu bara, maka dunia harus menghen­tikan penggunaan batu bara, termasuk Indonesia,” katanya.

Menko Maritim, Luhut Bin­sar Pandjaitan, mengutarakan penggunaan energi terbarukan ditargetkan sebesar 23 persen dari konsumsi energi nasional pada 2025 mendatang. “Hing­ga kini (2018), Indonesia baru dalam kisaran pencapaian 11 persen, masih jauh dari target,” katanya.

Diperoleh laporan, negara-negara berkembang dan maju melalukan perundingan alot selama dua minggu pada KTT Perubahan Iklim yang berakhir Jumat (14/5), di Polandia. Para delegasi dari 200 negara masih belum mencapai kata sepakat dalam beberapa masalah, mulai dari teknologi lingkungan terba­ru hingga pendanaan aksi iklim di masa depan.  AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment