Pelibatan Publik Sangat Penting agar Semua Aspirasi Terakomodasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Direktur Advokasi dan Jaringan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, Fajri Nursyamsi, Terkait Pembahasan RUU Cipta Kerja

Pelibatan Publik Sangat Penting agar Semua Aspirasi Terakomodasi

Pelibatan Publik Sangat Penting agar Semua Aspirasi Terakomodasi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Keinginan Presiden Joko Widodo untuk membereskan sejumlah undang-undang yang saling tumpang tindih dan menghambat masuknya investasi modal asing ke dalam negeri, makin mendekati kenyataan.

 

Naskah akademik atau draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja telah diserahkan Pemerintah ke DPR RI, Rabu (12/2). Bagaimana pembahasan RUU yang kerap disebut RUU Sapu Jagat ini, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Advokasi dan Jaringan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Fajri Nursyamsi, di Jakarta, Jumat (14/2). Berikut petikannya.

Bagaimana pandangan Anda mengenai RUU Omnibus Law yang drafnya baru diserahkan ke DPR?

Sebenarnya secara garis besar dari segi proses dan substasi ada permasalahan. Prosesnya memang yang paling kentara karena kurang­nya partisipasi publik mulai dari tahap sebelum usulan pemerintah masuk ke DPR itu harusnya sudah membuka partisipasi publik. Sebab sebenarnya kuncinya ada di penye­barluasan draf sejauh ini nggak ada draf yang tersebar secara resmi.

Apa masih sangat kurang peli­batan masyarakat?

Pelibatan hanya kepada kepala daerah pengusaha yang sifatnya elitis. Padahal, RUU ini akan sangat berdampak pada kelompok di luar itu seperti buruh, wirausaha, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Lingkup dari dampak peraturan ini sangat luas. Jadi, pertama itu kelompok ma­syarakat yang harus dilibat­kan itu seharunya menyelu­ruh, bukan tertentu saja.

Jika begitu adakah cara agar dapat mengakomodir kepentingan pemerintah dan buruh?

Langkah pertama adalah pelibatan pembentukan jangan hanya dianggap urusan pemerintah saja, tapi publik harus dilibatkan. Tidak adanya kelibatan justru akan memperkeruh suasana akan mun­cul rasa saling curiga dan perma­salahannya tidak akan selesai. Oleh karena itu, fungsi pertama adalah pelibatan berikan draf yang resmi itu seperti apa. Makanya karena belum disah­kan pelibatan itu menjadi penting.

Respons DPR sendiri harus seperti apa?

DPR kan sudah dapat draf resminya DPR itu sebenarny punya fungsi legislasi dan pengawasan untuk melibatkan pemerintah. Nah ini perannya sangat strategis karena protes atau keberatan dari publik itu seharusnya tecermin dari DPR untuk menjalankan fungsi sebagai lembaga perwakilan.

Keterlibatan buruh diperlukan untuk menyampaikan aspirasi apa hanya sekadar kehadiran?

Sebagai sebuah proses pem­bentukan peraturan memang kewenangan ada di pemerintah dan DPR. Tapi pelibatan masyara­kat menjadi syarat juga dalam UU pelibatan konstituen atau publik itu menjadi salah satu langkah yang harus dicapai. Karena tidak bisa langsung masuk ke dalam persetujuan kalau belum melakukan uji publik, Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan seterusnya. Nah ketika pelibatan ini memang seharusnya ada forum RDP dan Rapat Dengar Pemdapat Pendapat Umum (RDPU).

Presiden ingin pembahasan RUU selesai 100 hari kerja. Apakah hal itu bisa tercapai?

Pertama itu bukan syarat mutlak. Itu hanya sebuah keinginan dan rencana, jadi tidak ada keharusan sebuah UU itu harus diselesaikan dalam jangka waktu 100 hari bahkan banyak contoh UU itu diselesaikan lebih dari 100 hari. Kedua bahwa apakah ini akan cepat selesai? Saya pikir seharusnya yang jadi indikator itu bukan waktu, akan tetapi seberapa terbuka dan banyak pihak yang sudah terakomodir ke­pentingannya. Itu seharusnya yang menjadi patokan. yasir arafat/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment