Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - Perbaiki Defisit Perdagangan untuk Memperkuat Rupiah

Pelemahan Rupiah Bakal Pacu Inflasi

Pelemahan Rupiah Bakal Pacu Inflasi

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Dampak tekanan rupiah terhadap inflasi sudah mulai terasa pada paruh kedua tahun ini.

>>Rupiah berpotensi menembus level psikologis baru di tingkat 15 ribu rupiah per dollar AS.

 

JAKARTA - Depresiasi rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh level terlemah dalam tiga tahun terakhir, berpotensi memacu laju inflasi akibat kenaikan harga barang impor.

Untuk itu, pemerintah perlu mewaspadai laju kenaikan harga barang-barang tersebut karena akan menggerus daya beli dan konsumsi masyarakat. Padahal, konsumsi masyarakat hingga kini menjadi kontributor lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta, A Gunadi Brata, mengatakan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah mesti segera mengantisipasi terjadinya lonjakan inflasi.

“Stabilitasi kurs rupiah harus benar-benar dijaga agar tidak langsung mempengaruhi harga-harga,” kata dia saat dihubungi, Minggu (9/2).

Pada akhir pekan lalu, rupiah sempat menembus 14.844 rupiah per dollar AS, tertinggi dalam tiga tahun terakhir, sebelum akhirnya ditutup pada level 14.711 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, juga menilai pelemahan kurs rupiah dari hari ke hari hingga menyentuh 14.700-an rupiah per dollar AS berpotensi memacu laju inflasi.

Sebab, pelemahan rupiah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. Namun, importir tidak berani segera mengerek harga demi menjaga daya beli dan permintaan masyarakat.

Akibatnya, importir biasanya memilih jalan tengah dengan mengurangi potensi keuntungan yang bisa didapat. Akan tetapi, importir tidak bisa terus-menerus menerapkan strategi tersebut ketika rupiah kian anjlok karena ujungujungnya importir bisa merugi.

Akibatnya, importir harus menaikkan harga jual barang impor ke konsumen. Kenaikan harga itu akan membuat inflasi meningkat. “Jadi, mungkin juga lamalama inflasi terpengaruh (nilai tukar rupiah) dari imported inflation (inflasi harga barang impor).

Meski, sejauh ini belum, tapi core inflation (inflasi inti) sudah naik sedikit,” jelas Darmin, akhir pekan lalu.

Ada tiga komponen pembentuk inflasi yang jadi perhatian BI dan pemerintah, yakni inflasi inti (core inflation), inflasi dari volatile food, dan inflasi yang diakibatkan perubahan nilai tukar rupiah (imported inflation).

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Sedangkan inflasi tahunan sebesar 3,18 persen dan inflasi inti tahun kalender 2,18 persen.

Darmin mengungkapkan dampak tekanan rupiah ke inflasi sudah mulai terasa pada paruh kedua tahun ini dan akan terus berlanjut hingga tahun depan.

Meskipun demikian, dia mengatakan pemerintah tetap mengupayakan agar inflasi tahun depan tidak meleset dari target sebesar 3,5 persen.

Untuk itu, langkah antisipasi pembengkakan inflasi dari depresiasi rupiah dipastikan akan segera dilakukan pemerintah. “Tapi selama masih impor, ya akan terpengaruh terus,” tukas Darmin.

Normalisasi The Fed

Terkait nilai tukar, ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, menjelaskan dari faktor eksternal penyebab pelemahan nilai tukar rupiah adalah normalisasi kebijakan Bank Sentral AS (The Fed).

“Pelemahan rupiah baru berakhir jika normalisasi kebijakan suku bunga The Fed berakhir dan kinerja ekonomi domestik, khususnya neraca perdagangan membaik,” kata Bhima.

Dia menambahkan The Fed mengisyaratkan akan kembali menaikkan bunga 2–3 kali lagi. Oleh karena itu, nilai tukar rupiah berpotensi menembus level psikologis baru.

Hal ini dipicu dari faktor domestik, yakni defisit neraca perdagangan akibat meningkatnya proteksionisme global dan fluktuasi harga komoditas yang menjadi input negatif bagi pertumbuhan ekonomi.

“Ada potensi pelemahan nilai rupiah, bahkan menembus level psikologis 15.000 rupiah per dollar AS,” ujar Bhima. Menurut dia, krisis mata uang sudah terjadi di Argentina dan Turki.

Kedua negara tersebut kini masuk dalam kelompok fragile five atau lima negara yang memiliki kerawanan mata uang akibat defisit transaksi berjalan yang tinggi.

Bhima menilai dengan kondisi seperti ini tinggal menunggu waktu untuk dampak yang cukup besar di ekonomi Indonesia. YK/ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment