Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Pembangunan SDM | 1.000 BLK Komunitas Akan Dibangun Tahun 2019

Pelatihan Vokasi Terus Digenjot

Pelatihan Vokasi Terus Digenjot

Foto : KORAN JAKARTA/SIDIK SUKANDAR
KUNJUNGI BLK | Kepala Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Soes Hindharno (kedua dari kiri) didampingi Pelaksana Tugas Kepala BLK Makassar, As’asdiah, saat mengunjungi ruang praktik, di BLK Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (10/4). Kemnaker tahun ini memprioritas pada pelatihan vokasi.
A   A   A   Pengaturan Font
Setelah ada arahan dari Presiden Jokowi agar pada 2019 prioritas pembangunan SDM, Kemnaker semakin masif melakukan pelatihan vokasi.

 

MAKASSAR - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus fokus dan konsisten menggenjot pelatihan vokasi secara masif. Ini merupakan tindak lanjut dari program prioritas pembangunan sum­ber daya manusia (SDM) se­perti yang dicanangkan Presi­den Joko Widodo (Jokowi).

“Setelah ada arahan Presi­den Jokowi 2019 untuk prio­ritas pembangunan SDM, Kemnaker semakin masif me­lakukan pelatihan vokasi, le­bih digenjot lagi,” kata Sekjen Kemnaker dalam sambutannya yang dibacakan Karo Humas Kemnaker, Soes Hindharno, pada acara Press Tour bertema Sinergi Pers dan Pemerintah dalam Pembangunan SDM In­donesia, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (10/4).

Soes mengatakan konsis­tensi keseriusan Kemnaker dalam pelatihan diperlihatkan dengan terus melakukan be­berapa terobosan, yakni mas­ifikasi pelatihan di Balai Latih­an Kerja (BLK), pemagangan terstruktur dan sertifikasi uji kompetensi.

Ia menambahkan, masifika­si pelatihan lainnya di BLK se­bagai upaya peningkatan daya saing manusia Indonesia, yak­ni memberikan triple skilling yaitu skilling, up-skilling, dan re-skilling. Skilling untuk ang­katan kerja yang ingin menda­patkan skill. Up-skilling untuk pekerja yang ingin meningkat­kan skill, re-skilling untuk pe­kerja yang ingin mendapatkan keterampilan baru.

Triple skilling tersebut un­tuk memastikan agar daya sa­ing tenaga kerja lebih baik dan sesuai dengan perubahan di pasar kerja,” katanya.

Soes menegaskan untuk mendekatkan akses pelatih­an vokasi kepada masyarakat, pemerintah juga membangun BLK Komunitas. Tahun 2017 dengan 50 BLK Komunitas, dan meningkat setahun berikutnya menjadi 75 BLK Komunitas. “Tahun 2019 naik menjadi 1.000 BLK Komunitas berba­sis pesantren,” ujar Soes Hind­harno.

Soes menegaskan mema­suki industri 4.0 dan teknologi digital, persaingan bisnis dan pembangunan yang semula banyak bertumpu pada pe­manfaatan sumber daya alam, bergeser pada persaingan pada penguasaan teknologi infor­masi dan kompetensi angkatan kerja yang membutuhkan SDM berkualitas.

“Saya yakin bahwa SDM In­donesia tidak kalah, bila diban­dingkan dengan negara lain, maka kita harus bersemangat meningkatkan potensi diri,” katanya.

Kepala Dinas Ketenaga­kerjaan dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Provinsi Sulawesi Selatan, Agustinus Appang, menyambut positif si­tuasi ketenagakerjaan di Sulsel berjalan kondusif selama tiga tahun terakhir.

Dewan Pengupahan yang terdiri dari unsur Apindo, SP/ SB, pemerintah dan akademisi, meskipun berbeda pandangan tetap happy.

“Saya senang perkembang­an serikat pekerja di Sulsel tiga tahun terakhir ini. Tiga tahun terakhir ada kepuasan tersen­diri menghadapi secara lang­sung dengan buruh/pekerja,” katanya.

Agustinus mengatakan dari hasil pantauannya, dalam ber­bagai diskusi di dewan peng­upahan dan tripartit berjalan kondusif. “Satu minggu ter­akhir ini tidak ada persoalan atau riak-riak kecil persoalan serikat pekerja atau demo bu­ruh di kabupaten/kota Sulsel,” ujarnya.

Langsung Bekerja

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BLK Makassar, As’asdiah, mengatakan seba­nyak 80 persen lulusan BLK Makassar, Sulawesi Selatan, terserap di lapangan kerja, dan sebagiannya bekerja di luar negeri seperti Jepang. “Yang terserap di luar negeri umum­nya adalah lulusan permesi­nan,” kata dia.

As’asdiah mengatakan BLK Makassar terdiri dari 12 keju­ruan, seperti pariwisata, kelis­trikan, permesinan, permebe­lan, informasi teknologi (IT), dan sebagainya.

Menurut As’asdiah, setiap tahun sebanyak 1.600 yang dididik dan dilatih (diklat) di BLK Makassar. “Yang datang diklat di sini berasal dari ber­bagai provinsi di Sulawesi bah­kan dari luar Sulawesi seper­ti dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua,” katanya.

Ia menambahkan, ta­hun lalu anggaran untuk BLK Makassar hanya sebesar 80 mi­liar rupiah. Untuk tahun 2019, anggarannya meningkat men­jadi sebesar 182 miliar rupiah. “Kenapa tahun ini lebih besar? Ya, karena tahun 2019 ini pe­merintah konsen dalam pem­bangunan sumber daya manu­sia,” kata dia. sdk/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment