Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Kelompok Radikal - Anak Anwardi Alami Luka Bakar di Wajah

Pelaku Bom Pasuruan Mantan Napi Teroris

Pelaku Bom Pasuruan Mantan Napi Teroris

Foto : ANTARA/Moch Asim
Periksa Penumpang Kereta Api - Tim Reaksi Cepat Tindak (Respati) Polrestabes Surabaya memeriksa identitas dan barang bawaan calon penumpang saat melakukan patroli di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (6/7). Patroli tersebut merupakan upaya untuk mempersempit ruang gerak pelaku teror bom di Pasuruan yang melarikan diri.
A   A   A   Pengaturan Font
Pelaku bom Pasuruan ini memiliki tiga identitas yang berbeda satu dengan lainnya.

 

SURABAYA - Terduga pelaku bom di Pasuruan, Jawa Timur, yakni Ahmad Abdul Robbani alias Abu Ali alias Anwardi, merupakan mantan narapidana teroris (napiter).

Anwardi dulu sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang lantaran menjadi pelaku bom sepeda Kalimalang pada tahun 2010 dan keluar tahun 2015.

“Tiga tahun setelah keluar dari penjara, Anwardi menikah dengan istrinya kini di Bangil, Pasuruan. Saat ini, istrinya telah ditangkap oleh petugas sebelum sempat kabur seperti Anwardi.

Dari pernikahannya, dia punya satu anak yang jadi korban,” tutur Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, usai menjenguk anak terduga pelaku yang menjadi korban bom, di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, Jumat (6/7).

Machfud menjelaskan, pelaku menggunakan KTP dengan tiga identitas yang semuanya palsu.

KTP pertama atas nama Ahmad Muslim, 38 tahun, kelahiran Malang, beralamatkan Desa Telogomas RT 10 RW 07, Kecamatan Lowok Waru, Kabupaten Malang.

Identitas kedua, yang bersangkutan bernama Anwardi, 50 tahun, kelahiran Jakarta, beralamatkan Desa Karang Tanjung RT 06 RW 07, Kecamatan Serang Banten, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Adapun identitas ketiga, pelaku mempunyai nama Abdullah, 43 tahun, kelahiran Lambideng, Desa Dayah Lampoh Awe, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

“Identitas aslinya masih dalam pengembangan. Namun, sapaan akrabnya atau sapaan istrinya, pelaku biasa dipanggil Abdullah,” tegas Kapolda.

Machfud bersyukur, bom yang dirakit pelaku tersebut meledak sendiri sebelum diledakkan walaupun berdaya ledak rendah.

“Kami tidak tahu, yang jelas, dia bawa tas hitam ransel ngelemparin massa sudah berkerumun, semacam bondet aja, bom ikan. Karena tidak ada isinya apa-apa, seperti petasan, hanya nakutin saja.

Ada empat kali ledakan,” tutur Machfud. Ketika ditanya tentang jaringan teroris yang menaungi pelaku, Machfud menjelaskan, yang bersangkutan masih terkait dengan pelaku serangkaian aksi teror di Surabaya, beberapa waktu lalu.

“Ya masih muter-muter di situ saja. Dia juga bersahabat dengan pelaku perampokan di Medan. Masih berkaitan dengan aksi di seputaran Depok,” kata Kapolda Jatim.

Saat ini, polisi masih mengamankan dan melakukan pemeriksaan terhadap, istri Abdullah, untuk mengembangkan kasus bom rakitan yang meledak di Jalan Pepaya, Pogar, Bangil, Pasuruan, Kamis (5/7) itu.

“Saat ini yang bersangkutan masih menjalani proses pemeriksaan di Polres Pasuruan, akan berlangsung sekitar tujuh hari. Jika pemeriksaan sudah selesai, baru diperbolehkan untuk bertemu dengan anaknya yang ini,” kata Kapolda.

Dia menambahkan, anak laki-laki berusia 3 tahun itu masih dalam keadaan kesakitan akibat menderita luka bakar pada bagian wajah dan terkena serpihan di kaki.

“Dia menangis karena kesakitan. Anak ini tidak tahu apa-apa, hanya korban dari peristiwa kemarin. Semua sudah ditangani oleh tim dokter, biaya perawatannya juga sudah ada yang menanggung,” pungkas dia.

Ke Arah Mojokerto

Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mengatakan polisi harus bisa segera menangkap pelaku bom Pasuruan itu.

Pelaku dikhawatirkan akan menebar aksi teror baru yang bisa mengganggu pelaksanaan Asian Games di Indonesia yang tinggal menghitung hari. “Pelaku kabur dengan menggunakan sepeda motor.

Belakangan diketahui pelaku meninggalkan sepeda motornya di tempat penitipan sepeda motor di Stasiun Pasuruan. Pelaku membuat kamuflase seolah-olah dia kabur dengan menggunakan kereta api,” kata Neta.

Padahal, ujar Neta, saksi mata melihat pelaku kabur dengan angkot ke arah Sidoarjo atau Mojokerto. Pelaku mengenakan jaket biru muda dan bercelana panjang abu-abu serta mengenakan sendal jepit kulit. SB/eko/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment