Patung Liberty Destinasi Utama AS | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Patung Liberty Destinasi Utama AS

Patung Liberty Destinasi Utama AS

Foto : koran jakarta/selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font

Landmark adalah fitur geografis, baik alami ataupun buatan manusia, yang diguna­kan sebagai patokan oleh para penjelajah dalam menemukan jalan pulang. Dalam bahasa Inggris, isti­lah landmark juga digunakan untuk me­nunjuk tempat-tempat wisata yang dianggap menarik karena punya wujud fisik yang men­colok dan sarat makna sejarah.

Amerika Serikat (AS) ada­lah negara multikultural, dihuni berbagai kelompok etnik, tradisi, dan nilai-nilai kebudayaan utama AS berasal dari kebudayaan Barat yang ber­sumber dari tradisi imigran Eropa (terutama Inggris di Utara dan Spanyol di Selatan), dan kemudian dipengaruhi oleh berbagai sumber seperti tradisi yang dibawa oleh budak-budak Afrika.

Munculnya gelombang migrasi bangsa Asia dan Amerika Latin juga turut memperkaya khazanah bu­daya negara Adi Daya tersebut. Para imigran ini tetap mempertahankan karakteristik budaya asli mereka.

Sebagai negara dengan per­ekonomian termaju di dunia, kini AS telah menjadi salah satu tujuan utama wisata dunia. Sejak dulu kala, konsep “American Dream” atau anggapan bahwa kehidupan sosial di Amerika lebih baik, berkembang di kalangan ba­nyak orang dan berperan penting dalam menarik para imigran dan kini wisatawan.

Melalui superioritas jaringan media dan industri film, AS juga berhasil membawa budayanya di­terima di seluruh dunia. Tak pelak, hal itu juga makin mendorong perhatian wisatawan, untuk datang dan melihat langsung keindahan lanskap, tempat-tempat bersejarah, dan hal-hal menarik lainnya.

Patung Liberty

Siapa tak mengenal Patung Liberty, bangunan setinggi hampir seratus meter yang terletak di Pulau Liberty, di muara Sungai Hudson, New York Harbor, AS. Sebagian besar wisatawan yang datang ke New York menjadikan patung yang ditetapkan UNESCO sebagai Si­tus Warisan Dunia pada 1984 ini menjadi destinasi utama. Pada 2009 saja, tercatat sebanyak 3,2 juta orang telah berkunjung ke patung yang ditetapkan sebagai monumen nasional AS oleh Presiden Calvin Coolidge itu. Ya, landmark sebuah negara memang selalu jadi buruan wisatawan karena merupakan simbol sekaligus sebagai kenangan-kenangan dalam foto bahwa sese­orang pernah berkunjung ke negara tersebut.

Sosok patung perunggu kar­ya perancang Menara Eiffel, Fred­eric Auguste Bartholdi dan Gustave Eiffel, itu menggambarkan Libertas, Dewi Kebebasan dalam mitologi Yunani. Wujud patung men­coba menjelaskan ideologi bangsa Amerika yang menganut faham kebebasan dari segala tekanan dan merdeka. Lady Liberty tampak memegang sebuah buku dengan tulisan JULI IV MDDCCLXXVI de­ngan obor berlapis emas 24 karat pada tangan kanan. Obor merupa­kan lambang dari penerang jalan agar manusia bebas dari kegelapan atau harapan akan masa depan yang cerah. Sementara buku me­rupakan lambang keadilan karena ditafsirkan berisi pasal-pasal hu­kum yang adil bagi siapa saja.

Terlihat pula mahkota dengan tujuh ujung di atasnya dan dengan ukuran wajah yang sangat tinggi sekitar lebih dari 8 meter. Adapun warna hijau muda patung berasal dari pelapukan alami perunggu yang digunakan sebagai bahan.

Fasilitas

Pada Mei 2019, fasilitas bagi pengunjung Lady Liberty bertam­bah dengan dibukanya Museum Patung Liberty. Bertempat di dalam Statue of Liberty, museum ter­sebut memiliki tiga galeri interaktif yang menceritakan sejarah patung dengan gaya yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu. Setiap galeri dirancang untuk menginspi­rasi pengunjung. Museum yang terletak di bagian dasar monumen itu membuat pengunjung dapat menikmati pengalaman yang ber­beda so sejarah oleh patung ikonik itu. Ketika memasuki museum ini pengunjung juga akan menemukan bahwa bagian kaki Lady Liberty dibelenggu oleh rantai.

Museum Patung Liberty ini merupakan destinasi wisata pada siang hari. Hal ini disebabkan se­tiap hari museum buka hanya dari jam 08.30–16.00 waktu setempat. Oleh karena itu, disarankan bagi para pengunjung untuk berangkat di pagi hari agar bisa lebih leluasa menikmati isi museum.

Barang-barang yang boleh di bawa masuk ke dalam museum dan menara patung hanyalah kamera dan obat-obatan. Jika kebetulan membawa barang-barang yang tidak diizinkan di bawa, pengelola monumen telah menyediakan loker untuk menyimpan barang bawaan yang tidak dibawa masuk.

Selain museum, pengun­jung juga dapat mencoba me­nikmati pengalaman dramatis selama 10 menit dengan menyak­sikan sarana multimedia di Teater Immersive. Saat masuk ruangan, pengunjung akan dikelilingi oleh gambar-gambar yang menjelaskan sejarah besar tentang Patung Lib­erty dan cita-cita yang diwakilinya. Suguhan tampil berupa sorotan presentasi termasuk kisah yang kaya tentang asal usul patung dan fly-through virtual di dalam patung.

Untuk pengunjung yang ingin mengeksplorasi proses karya sang pematung Frédéric Auguste Bartholdi dan tim, Galeri Pertunan­gan adalah tempatnya. Di galeri ini, pengunjung disuguhi tampilan multimedia yang yang memung­kinkan pengunjung untuk melihat proses rumit dari desain awal, fab­rikasi, dan pembangunan konstruk­si patung Liberty.

Sementara dalam Galeri In­spirasi, pengunjung dapat lebih dalam merenungkan apa yang telah mereka lihat dan alami di museum. Kita dapat mendokumentasikan kunjungan mereka dan berekspresi dengan menambahkan potret diri ke kolase digital yang disebut Becoming Liberty. Simbol Liberty yang paling ikonik, obor asli, ditem­patkan di dalam galeri ini. Melalui dinding kaca yang mengelilingi galeri, pengunjung dapat menik­mati pemandangan Lady Liberty dan cakrawala Kota New York yang indah.

Sedangkan pada dek obesravasi di bagian paling atas museum, pengunjung dapat menikmati pemandangan patung Liberty dan Pelabuhan New York. Namun dek di atap museum ini akan ditutup bilamana terjadi berbagai kondisi cuaca buruk seperti angin kencang, hujan salju, hujan es, dan hujan air.

Sementara di Pulau Liberty sendiri ada beberapa titik menarik yang untuk diekspolarasi. Salah satunya adalah teleskop di bagian belakang pulau. Dari sini kita bisa melihat kota New York dari kejau­han. Caranya, masukkan beberapa koin dan kita bebas meneropong ke berbagai sudut pencakar langit dari kota dengan julukan “The Big Apple” tersebut. Sedangkan bagian lain yang patut menjadi lokasi swa­foto adalah sebuah dermaga kayu yang menjorok ke laut, dengan puluhan burung merpati liar yang singgah dan terbang.

Sejarah

Sudah lebih dari 100 tahun, Patung Liberty menyambut dengan hangat para imigran yang datang dengan kapal-kapal dari Samude­ra Atlantik. Mereka rela berlayar berbulan-bulan demi mengubah nasib dan mencari kehidupan baru di AS. Patung ini juga menyambut para pengunjung dan warga Ame­rika yang kembali dari perantauan.

Patung dengan nama asli “The Statue of Liberty Enlightening the World” ini dan merupakan hadiah seratus tahun kemerdekaan AS dari Rakyat Prancis pada akhir abad ke-19. Mahakarya ini per­tama kali dipamerkan di Paris, lalu dikirimkan ke AS dalam bentuk 200 potongan besar. Berat total patung seberat 225 ton dengan tinggi dari kaki 46 meter ini akhirnya disusun kembali di Pulau Liberty yang saat itu bernama Pulau Bedloes. Karena masalah biaya pengiriman dan penyusunan ulang patung di Pulau Liberty cukup lama, maka peresmi­an Patung ini baru dilakukan pada 28 Oktober 1886.

Penggalangan dana juga sempat dilakukan untuk membangun Lib­erty. Namun aliran dana dari kas New York, Philadelphia dan Boston nyaris tidak mencukupi. Hingga akhirnya raja media, Joseph Pulit­zer, turun tangan untuk memimpin penggalangan dana.

Dalam perjalanan, patung yang dikelola oleh National Park Service itu sempat mengalami bebera­pa kali pemugaran pada 1938, 1984–1986, dan 2011–2012.

Ada beberapa cara bagi wi­satawan untuk menikmati Patung Liberty. Bila ingin hemat alias gra­tis, pengunjung bisa pergi ke Staten Island lalu naik kapal feri yang ber­operasi selama 24 jam melintasi Patung Liberty. Dari kapal, kita akan dapat menikmati peman­dangan lanskap Lady Liberty lebih luas berlatar belakang Kota New York dengan langit birunya. Sedikit sensasi ala imigran yang baru tiba dengan kapal akan kira rasakan, sambil memuaskan rasa ingin tahu dengan melemparkan pandangan ke arah monumen itu. Namun dengan cara ini kita memiliki ke­terbatasan karena kapal feri tidak berhenti di Pulau Liberty sehingga tidak bisa mendekati patung.

Sedangkan cara lain menikmati Patung Liberty adalah dengan ber­layar menggunakan kapal Cruise. Statue Cruises adalah satu-satunya operator kapal yang melayani dan membawa pengunjung ke Pulau Liberty. Untuk itu, pengunjung ha­rus membayar harga tiket 18 dolar AS, dan sudah termasuk paket tur ke Pulau Liberty serta Pulau Ellis.

Untuk menuju destinasi wisata di negeri Paman Sam tersebut, Anda bisa menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. selocahyo/E-3

Menikmati Pemandangan di Sekitar Jembatan Brooklyn

Setelah menikmati Patung Liberty, jangan melewatkan berkeliling di Kota New York. Ya, “Big Apple” ada­lah magnet lain bagi jutaan wisatawan dari seluruh dunia untuk datang menik­mati kegemerlapannya.

Kawasan yang pada awal abad ke-17 didiami oleh suku Indian Algonquian, Iroquois, dan Lenape ini, dikenal de­ngan sejarahnya sebagai pintu gerbang para imigran untuk masuk ke Amerika Serikat. Tak hanya itu New York City kini telah menjelma menjadi salah satu pusat keuangan, budaya, transportasi, dan manufaktur dunia.

Bicara soal landmark, New York me­miliki banyak pilihan landmark yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu­nya adalah Jembatan Brooklyn. Jem­batan yang menghubungkan wilayah Manhattan dan Brooklyn ini merupa­kan salah satu jembatan suspensi tertua, serta jembatan suspensi kabel baja per­tama di AS.

Jembatan ini diberi sebutan Jembatan Brooklyn dalam surat untuk editor Brook­lyn Daily Eagle, pada 25 Januari 1867, dan resmi dijadikan nama oleh pemerintah Kota New York pada 1915. Sejak pem­bukaannya, jembatan ini telah menjadi bagian utama dari kaki langit New York. Jembatan Brooklyn ditetapkan sebagai National Historic Landmark pada tahun 1964 dan National Historic Civil Engi­neering Landmark pada tahun 1972.

Masih di Brooklyn yang merupakan wilayah terpadat New York dengan popu­lasi hampir 3 juta penduduk, wisatawan juga bisa mengunjungi salah satu sarana hiburan tempo dulu yang paling terke­nal, Jane’s Carousel. Jane’s Carousel ada­lah sebuah komidi putar kayu, dengan 48 kuda yang siap ditumpangi siapa saja. Se­lain itu, alat permainan yang sarat ukiran ini memiliki 30 “jumper,” 18 “standers,” dua kereta, dan Gebrüder Bruder Band Organ yang menyedikan musik saat ko­midi berputar.

Jane’s Carousel dibangun pada 1922 untuk taman hiburan Idora di Youngstown, Ohio oleh Philadelphia Toboggan Company. Ketika Idora Park ditutup untuk umum pada 1984, korsel dibeli lewat lelang oleh Jane dan David Walentas dan dipindahkan ke Brook­lyn, New York, untuk restorasi. Kemudi­an Jane’s Carousel dibuka untuk umum di Brooklyn Bridge Park di East River di Brooklyn pada 16 September 2011.

Sementara itu, bagi Anda yang ingin menikmati ketenangan di tengah hiruk pikuk metropolitan kelas dunia, cukup datang ke Central Park, hutan kota nan asri seluas 3,41 kilometer persegi.

Taman yang dikunjungi sekitar 25 juta orang setiap tahun ini dirancang oleh Frederick Law Olmsted dan Calvert Vaux pada 1859. selocahyo/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment