Koran Jakarta | June 23 2017
1 Comment

Pasar Senen dan Kenangan Keren

Pasar Senen dan Kenangan Keren

Foto : Koran Jakarta/Ones
A   A   A   Pengaturan Font

Pasar Senen, terbakar. Lagi. Api mengabukan, bukan sekadar menghanguskan, kompleks pertokoan yang memiliki riwayat panjang. Bangunan dan terutama isinya menjadi abu. Tak tersisa apa-apa. Sering diceritakan korban banjir menderita. Namun setelah air surut, harta benda masih ada yang tersisa. Tidak demikian halnya dengan bencana kebakaran. Orang bilang, kutu busuknya pun tak berbekas.

Dikenal dengan nama Snees, pasar yang berjualan di hari Senin, bersamaan dengan dibangunnya pasar Tanah Abang, pada 30 Agustus 1735. Nama Senen yang melekat karena beroperasi di hari Senin. Sebagaimana nama Pasar Rebo, yang hanya beroperasi pada hari Rabu. Begitulah lahirnya sebuah pasar, tempat bertemunya komunikasi, bertemunya jual-beli, dan juga tawar menawar. Bukan kebetulan kalau para pemikir negeri ini seperti Chairul Saleh, Adam Malik, bahkan Bung Karno –Bung Hatta berkumpul di tempat itu menggalang ide, bertukar pikiran. Di zaman Jepang, tahun 40an, dikenal istilah Seniman Senen, yang berkumpul. Nama-nama seniman yang kemudian dikenal luas seperti Ayip Rosidi, HB Jassin, atau juga Chairil Anwar menggelandang di situ. Bahkan lirik puisi Chairil yang berbunyi “Bung, ayo Bung” yang patrotik heroik itu berasal dari ajakan pelacur di situ. Di era gubernur Ali Sadikin dikenal dengan sebutan Proyek Senen, dan pusat pertokoan dipermodern. Bahkan konon parkir mobil bertingkat pertama kali ada di situ.

Pasar Senen bukan sekadar pasar. Di sekitar itu ada stasiun kereta api. Ada Gelanggang Remaja, untuk berkesenian dan olah raga. Di sekitarnya ada deretan kios obat—obat apa saja ada, baik obat kuat atau penangkal penyakit. Ada juga pencopet atau penodong—yang sebagian akrab dengan saya karena berkenalan di Lembaga Cipinang. Saya diberi tahu kode dengan lipatan baju atau lengan yang menandakan tak akan diganggu.

Jauh sebelum itu saya bagian dari “umat Proyek Senen”. Di tahun 70an saya mengontrak di daerah Kalipasir—daerah terdapat di Jakarta, wilayah Cikini. Pasar utama yang paling mewah dan dekat ya di tempat itu. Pertama kali membeli jam dinding, dan kursi memakai roda, lalu barang itu diangkut dengan becak.

Kenangan, romantisme bersatu. Teman saya belanja cincin perkawinan dari situ. Juga pakaian yang “in” modenya. Maklum karena yang namanya Pasar Senen adalah pasar serba ada, termasuk belanja sayur, sampai buku loak, dan relatif murah. Dan bisa dimengerti kalau kaum urbanis—pedatang dari daerah, mempunyai kenangan manis untuk pertama kalinya. Termasuk mungkin menemukan jodoh—atau mengadakan perpisahan. Sesuatu yang membekas terus, termasuk ketika terjadi Malari, malapetaka lima belas Januari, proyek itu dibakar. Atau huru hara dan kerusuhan rasial tahun 1998. Lalu terbakar lagi , cukup besar dua tahun lalu.

Begitu banyak kenangan, dari begitu banyak penduduk dari berbagai lapisan selama sekian tahun yang panjang. Sungguh sayang kalau semua itu harus hilang, harus musna. Betapa rapuhnya bangunan kenangan itu tersapu habis oleh alasan yang itu-itu, karena listrik arus pendek. Betapa lemahnya dokumentasi kenangan yang berlapis-lapis dan kaya dengan berbagai cerita menjadi sesuatu yang sia-sia. Bahkan kita kesulitan hanya untuk mengenangnya.

Pasar Senen, atau juga pasar tradisional, memiliki kelebihan dibandingkan mal, plaza, kompleks pertokoan yang serba dingin—udara maupun suasananya. Karena Pasar Senen bukan sekadar tempat, tapi juga kehidupan.

Harapan , optimisme pembeli dari gaji pertama diterima, makan bakso atau gado-gado bersama dengan anak istri, dan masih ada anak-anak menawarkan jasa menyemir sepatu, atau juga jasa pijit di tempat itu juga. Ini semua bagian dari kehidupan, yang memberi kenangan, kesan tak terhapuskan. Juga, mungkin, tak tergantikan.

Makanya kebakaran besar dua hari lalu itu membuat pilu.

Apakah harus berakhir begitu, ataukah bisa dilakukan upaya-upaya agar pasar, seperti Senen atau tempat lain, tak menjadi abu dan dibiarkan berlalu.

Pasar Senen, saya ingin meneruskan rindu padamu.

View Comments

Anjii
Minggu 12/3/2017 | 09:58
Komentar dihapus

Submit a Comment