Koran Jakarta | December 16 2017
No Comments
Surat Utang - “Capital Outflow” Membuat Pasar Obligasi Tertekan

Pasar Obligasi Berpotensi Melemah

Pasar Obligasi Berpotensi Melemah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sejumlah tekanan masih terjadi pada laju pasar obligasi sehingga berimbas pada kembali melemahnya sejumlah harga obligasi.

JAKARTA - Pasar obligasi berpotensi terjadi pelemahan lanjutan apabila imbal hasil obligasi terus bergerak naik. Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, mengatakan pergerakan imbal hasil obligasi dalam negeri yang masih cenderung naik dapat memberikan potensi akan kembali terjadinya pelemahan lanjutan. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri dapat kembali memicu aksi jual.

“Meski demikian, diharapkan aksi jual yang terjadi dapat lebih terbatas agar tidak membuat pergerakan harga obligasi dalam tren pelemahan lanjutan. Tetap waspadai berbagai sentimen yang dapat kembali menahan peluang kenaikan pada pasar obligasi,” ungkapnya, Rabu (11/10). Menurut Reza, sejumlah tekanan masih terjadi pada laju pasar obligasi sehingga berimbas pada kembali melemahnya sejumlah harga obligasi. Minimnya sentimen positif yang dibarengi kembali melemahnya laju rupiah turut berimbas pada turunnya pasar obligasi. Termasuk juga pergerakan imbal hasil obligasi AS yang mulai kembali naik seiring antisipasi rilis risalah pertemuan FOMC pada Rabu malam turut berimbas pada pergerakan obligasi di dalam negeri.

Adapun rata-rata pergerakan tenor pendek (1–4 tahun) naik 4,34 bps, tenor menengah (5–7 tahun) naik 4,11 bps, dan panjang (8–30 tahun) naik 1,16 bps. Kembalinya aksi jual membuat sejumlah obligasi bergerak turun. Tak terkecuali sejumlah obligasi acuan yang masih terkena aksi jual sehingga cenderung melemah. Pada FR0061 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 102,98 persen memiliki imbal hasil 6,24 persen atau naik 0,024 bps dari sebelumnya di harga 103,07 persen memiliki imbal hasil 6,22 persen. Untuk FR0072 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 109,17 persen memiliki imbal hasil 7,337 persen atau turun -0,005 bps dari sehari sebelumnya di harga 109,13 persen memiliki imbal hasil 7,34 persen.

Pada Rabu (11/10), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun -0,12 bps di level 117,95 dari sebelumnya di level 118,09. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun -0,12 bps di level 109,23 dari sebelumnya di level 109,37. Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10 tahun di level 6,59 persen masih sama seperti dan US Govn’t bond 10 tahun di 2,370 persen juga masih sama seperti sebelumnya 2,373 persen sehingga spread masih di level 421,6.

Pengaruh “Capital Outflow” Sementara itu, Kepala Riset PT Indo Mitra Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah. Dengan tembusnya support beberapa acuan obligasi benchmark maka tren penurunan semakin berpotensi terjadi. “Melemahnya rupiah serta capital outflow membuat pasar obligasi cenderung tertekan,” ujar dia.

Menurut Nico, ruang pelemahan masih tersedia, dan pemerintah pun sudah menyiapkan strategi Bond Stabilization Framework untuk menahan apabila penurunan di luar batas toleransi. Hal yang paling penting adalah jangan sampai terciptanya panic selling akibat adanya capital outflow. “Ini merupakan momentum yang paling penting bagi perekonomi Indonesia untuk mampu menahan riak ombak dari eksternal. Tentu hal ini menarik kita lihat dalam beberapa hari ke depan. Untuk itu, fokus pada strategi jangka pendek,” papar dia. yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment