Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments

Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pembangunan

Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pembangunan

Judul : Membangun Desa Penulis : Gunawan Prayitno dan Aris Subagyo
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Membangun Desa
Penulis : Gunawan Prayitno dan Aris Subagyo
Tebal : xvi + 216 halaman
Penerbit : UB Press
Cetakan : Juli 2018
ISBN : 978-602-432-505-3

Desa sering diidentikkan dengan kemiskinan dan keterbelakangan atau menjadi antitesis kota. Hal tersebut memicu aliran sumber daya dari desa ke kota, sehingga pembangunan desa semakin tertinggal. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah seperti Inpres Desa Tertinggal, PNPM Mandiri sampai alokasi Dana Desa. Namun, jurang pembangunan desa dan kota masih besar. Data BPS per September 2018 menunjukkan kemiskinan di desa masih 13,1 persen. Angka ini jauh di bawah kota sebesar 6,89 persen.

Buku Membangun Desa mencoba mengupas proses pembangunan desa berbasis pemberdayaan masyarakat. Selama ini, perencanaan top down masih lebih dominan dari bottom up. Hal tersebut tidak memberi ruang partisipasi dan pemberdayaan masyarakat desa. Mereka hanya dijadikan objek dalam proses perencanaan pembangunan.

Desa identik dengan sektor ekonomi didominasi pertanian. Nilai adatnya masih kuat serta struktur masyarakatnya homogen (halaman 6). Karakteristik desa sangat beragam karena dipengaruhi kondisi geografis, sosial, ekonomi, maupun budaya. Keberagaman menyebabkan potensi dan tantangan dalam proses pembangunan lebih bervariasi.

Pembangunan desa perlu mendapat perhatian khusus karena sebagian besar masyarakat masih tinggal di sini. Selama ini, pembangunan selalu berpihak ke kota atau urban bias. Hal ini menyebabkan berbagai masalah seperti alih fungsi lahan. Kemudian, kualitas SDM dan daya saing ekonomi rendah. Kondisi tersebut membuat perkembangan desa selalu tertinggal dari kota.

Yang belum dipertimbangkan dalam proses pembangunan desa adalah modal sosial, yaitu kemampuan masyarakat bekerja sama untuk mewujudkan tujuan bersama. Karakteristik masyarakat desa yang masih menjunjung tinggi gotong-royong merupakan bukti kuatnya modal sosial. Buku bahkan menegaskan pentingnya modal sosial “Pemberdayaan tidak akan berhasil jika tidak dilandaskan pada modal sosial setempat,”(halaman 91).

Salah satu proses perencanaan yang dirasa mampu mengakomodasi modal ini adalah “Participatory Rural Appraisal (PRA).” Dia melibatkan masyarakat dalam seluruh proses identifikasi wilayah. Pihak luar hanya sebagai fasilitator. Masyarakat dapat mengidentifikasi wilayahnya dengan berbagai teknik PRA seperti pemetaan, transek, kalender musim, atau sketsa kebun.

Bekal hasil partisipasi diharapkan menjadi modal penting bagi proses perencanaan pembangunan. Masyarakat dapat berpartisipasi mengawal dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan. Kondisi tersebut dapat menghasilkan pengelolaan sumber daya alam desa lebih terorganisasi. Selain itu, menyebabkan perubahan mindset masyarakat dari pasif menjadi aktif untuk berpartisipasi dalam pengelolaan desa.

Pembahasan buku diakhiri dengan konsep pembangunan desa berkelanjutan. Desa menjadi ujung tombak terakhir beberapa sumber daya seperti lahan pertanian, hutan atau mata air. Konsep “Green Economy” menjadi solusi membangun desa, tanpa harus merusak lingkungan hidup.

Buku ini coba menggambarkan pentingnya modal sosial dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Stakeholder terkait perlu mengubah mekanisme skema pembangunan desa. Jangan langsung memberi dana dan perintah yang harus dilakukan. Stakeholder hanya sebagai fasilitator.

Masyarakatlah yang memegang peran utama dalam semua proses. Harapannya, pelaksanaan program dapat tepat sasaran dan berdampak maksimal. 

Diresensi Gilang Adinugroho, Alumnus Magister Geografi UGM

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment