Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Politik Inggris

Parlemen Inggris Tetap Menolak Perjanjian Brexit

Parlemen Inggris Tetap Menolak Perjanjian Brexit

Foto : JESSICA TAYLOR/UK PARLIAMENT/AFP
MAY DI PARLEMEN - Perdana Menteri Theresa May saat menanggapi hasil pemungutan suara di Parlemen Inggris, London, Rabu (13/3).
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON - Sebagian be­sar anggota Parlemen Inggris menolak proposal Britain Exit (Brexit) tanpa kesepakatan da­lam skenario apa pun yang di­ajukan Perdana Menteri (PM) Theresa May.

Bahkan, perkembangan terakhir Parlemen membuka ja­lan bagi pemungutan suara untuk menentukan kelanjutan kemungkinan penundaan Bre­xit hingga akhir Juni 2019.

Telah dua kali Parlemen Inggris menolak proposal Bre­xit PM Theresa May, dan pada Rabu (13/3) waktu London, Parlemen menolak skenario Brexit tanpa kesepakatan. Par­lemen memilih untuk menen­tang prospek keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. Si­kap Parlemen telah melemah­kan otoritas May dan harus terus negosiasi Brexit dengan Uni Eropa.

Partai Konservatif sen­diri memunculkan spekulasi bahwa kabinet dapat memaksa memecat May sebagai perdana menteri.

Sementara itu, New York Times edisi 14 Maret 2019 me­laporkan Theresa May setuju untuk mosi meminta anggota Parlemen memilih bahwa me­reka menentang meninggalkan Uni Eropa sesuai jadwal, pada tanggal 29 Maret, kecuali ada perjanjian dengan blok itu.

Pemungutan suara pada Rabu diharapkan meminta Parlemen untuk menunda am­bang batas Brexit pada 29 Ma­ret, dalam pemungutan suara yang dijadwalkan pada Kamis waktu setempat.

Berbicara setelah pemu­ngutan suara, PM May me­ngatakan bahwa jika anggota Parlemen dapat mendukung kesepakatan dalam bebera­pa hari ke depan, ia dapat meminta penundaan Brexit hingga 30 Juni. “Tanggung ja­wab ada pada kita masing-ma­sing di Parlemen untuk menca­ri tahu apa itu,” ujar May.

Saat otoritas May berada pada titik terendah sepanjang masa, Menteri Keuangan May, Philip Hammond, mengatakan rencana perdana menteri ada­lah untuk kembali meneruskan proses negosiasi sesuai agen­da. Sayangnya, kesepakatan yang sudah disusun oleh May selama kurang lebih dua ta­hun dengan Uni Eropa, ditolak untuk yang kedua kalinya oleh parlemen pada Selasa (12/3).

Menurut Hammond, se­jumlah kolega perdana men­teri berubah pikiran selama rentang waktu voting pertama pada Januari lalu dan voting pada awal pekan ini.

“Jelas sekali bahwa Dewan Rakyat harus segera mencapai konsensus, apa pun itu. Jika mereka tetap menolak proposal perdana menteri, saya yakin pe­nawaran parlemen tidak akan cukup untuk memuaskan para Brexiters garis keras di Partai Konservatif,” kata Hammond.

Dua Cara

Menanggapi hasil pemu­ngutan suara, seorang juru bi­cara Uni Eropa mengatakan bahwa hanya ada dua cara un­tuk meninggalkan Uni Eropa, yakni dengan atau tanpa kese­pakatan.

“Kami telah menyetujui ke­sepakatan dengan Perdana Menteri Theresa May dan Uni Eropa siap menandatanganin­ya,” ujar dia.

Sementara itu, Menlu Be­landa, Stef Blok, mengatakan PM Theresa May harus bisa meyakinkan setiap dan semua negara UE untuk memberikan penundaan. AFP/ang/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment