Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Pariwisata Penggerak Ekonomi Nasional

Pariwisata Penggerak Ekonomi Nasional
A   A   A   Pengaturan Font

Pariwisata kembali ditegaskan pemerintah sebagai sektor utama penggerak ekonomi nasional. Performa pariwisata diproyeksikan menjadi tulang punggung PDB. Pada 2019, sektor ini diprediksi akan mendonasikan devisa hingga 280 triliun rupiah. Proporsinya pun mencapai 15 persen dari jumlah global PDB. Lebih kompetitif lagi, sek­tor ini mampu menyerap minimal 13 juta tenaga kerja pada 2019. Pemerintah menargetkan 20 juta kunjungan untuk ta­hun ini.

Keinginan pemerintah menjadikan pariwisata sebagai sektor utama penggerak ekonomi nasional bukan tanpa alas­an. Indonesia pernah mengalami masa emas perkembangan pariwisata pada tahun 1995 dengan penghasil devisa terbe­sar sekitar 15 miliar dollar AS saat ekspor kayu, tekstil, dan migas turun.

Namun setelah tahun 1998, sektor ini menurun signifi­kan karena dampak gejolak sosial politik dalam negeri. Kun­jungan wisatawan mancanegara (wisman) menurun drastis. Selain itu, peristiwa terorisme, flu burung, dan gangguan keamanan, turut menurunkan wisman. Ini termasuk travel warning beberapa negara untuk berkunjung ke Indonesia.

Kondisi ini tentu sangat merugikan. Apalagi pemba­ngunan sektor ini memiliki efek domino. Selain menyerap tenaga kerja, berkontribusi dalam penerimaan devisa, inves­tasi di sektor pariwisata juga mampu mendorong pemerataan kesempatan berusaha, berperan mengentaskan kemis­kinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pariwisata merupakan industri pendukung yang sangat potensial da­lam memperbaiki stuktur ekonomi dan dapat meningkatkan kemandirian daya saing sebuah daerah.

Sektor pariwisata diharapkan menjadi salah satu alterna­tif, di samping industri manufaktur, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari–Maret 2019, jumlah wisman mencapai 3,82 juta. Pada tahun 2018 tercatat 15,81 juta atau naik 12,61 per­sen dari 2017 yang berjumlah 14,04 juta. Mereka masuk lewat bandara 10,08 juta, dermaga 3,22 juta dan darat 2,51 juta.

Kini, pemerintah kembali ingin mengenjot sektor ini. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar 6,4 triliun ru­piah dalam RAPBN 2020, un­tuk pembangunan infrastruk­tur empat destinasi prioritas, yakni Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur. Keempat destinasi tersebut ditargetkan bisa memberikan devisa bagi negara hingga 5,5 miliar dollar AS.

Meski saat ini pariwisata mulai berkembang cukup pesat, tetapi masih ada beberapa kendala. Pertama, sarana dan prasarana, Kedua, SDM. Ketiga, komunikasi dan publisitas. Masalah keempat kebijakan dan peraturan dalam lingkup daerah. Kelima teknologi informasi yang memungkinkan turis mengakses banyak info soal wisata Indonesia. Masalah lain yang tidak kalah pentingnya kesiapan masyarakat. Inilah PR kita ke depan.

Perlu dipahami untuk mengukur keberhasilan suatu des­tinasi wisata tidak cukup dengan angka-angka atau jumlah kunjungan wisatawan. Ada beberapa elemen penting yang harus diperhatikan pemerintah serta para pelaku wisata Tanah Air. Kepuasan wisatawan merupakan poin utama. Wisatawan yang puas akan menjadi bagian jaringan promosi secara tidak langsung.

Persoalan kedua, masalah keamanan dan keteraturan. Keamanan menjadi pertimbangan utama berwisatawan. Kurang menarik apa kawasan wisata Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat? Tapi , orang akan berpikir berkali-kali ke Raja Ampat kalau terus disuguhi berita kerusuhan atau penembakan di wilayah itu.

Dalam upaya pengembangan destinasi wisata daerah, pemerintah juga harus membuat sebuah program khusus demi meningkatkan mutu dan kualitas SDM. Tujuannya, menciptakan destinasi wisata yang friendly atau bersahabat. Misalnya, sopir taksi harus dilatih agar mampu berinteraksi dengan wisatawan. Jadi saat bertemu wisatawan, mereka tidak ragu-ragu lagi menyapa, mengucapkan salam untuk memberi impresi awal yang baik.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment