Pariwisata, Selain Kuantitas juga Kualitas | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Pariwisata, Selain Kuantitas juga Kualitas

Pariwisata, Selain Kuantitas juga Kualitas

Foto : ANTARA/Heru Suyitno.
Pelaku UMKM yang memproduksi kerajinan dari bahan bekas mengikuti gebyar UMKM di Balai Ekonomi Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
A   A   A   Pengaturan Font

Hampir tidak ada yang menyangkal jika dikatakan Indonesia mempunyai alam yang indah. Selain itu, aneka ragam suku dan budaya menjadi keunikan sendiri. Itu semua salah satu modal besar Indonesia menjadi tujuan utama turis mancanegara. Beberapa tempat wisata bahkan telah menjadi destinasi wisata kelas dunia, seperti Bali, Lombok, dan Borobudur.

Namun sampai hari ini, jumlah kunjungan turis asing ke Indonesia masih kalah dengan negara-negara Asean lain, seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia. Bahkan dengan Vietnam yang baru membangun pariwisatanya tiga dasawarsa lalu, Indonesia juga tertinggal. Indonesia hanya unggul dari Filipina, Laos, dan Kamboja. Myanmar, Brunei Darussalam, dan Timor Leste untuk sementara kita kesampingkan dulu.

Sepanjang 2018, Thailand dikunjungi 38,2 juta wisatawan asing. Capaian ini terbilang fantastis karena satu dekade ­yang lalu negara Gajah Putih ini hanya dikunjungi oleh sekitar 15 juta wisatawan asing, kalah dari Malaysia yang pada tahun tersebut berhasil dikunjungi lebih dari 24 juta turis asing. Itu berarti hanya dalam kurun waktu 10 tahun saja Thailand mampu meningkatkan kunjungan wisatawan asingnya menjadi lebih dari dua kali lipatnya.

Yang lebih fantastis lagi, Thailand juga berhasil mengonversi kunjungan wisatawan asing ini menjadi penerimaan negara secara efektif dan efisien. Jika kunjungan wisatawan meningkat dua kali lipat selama satu dekade, penerimaan uang Thailand dari turis asing meningkat hingga tiga kali lipatnya, dari yang tadinya 20 miliar dollar AS di 2010, menjadi 63 miliar dollar AS di 2019 atau sekitar 900 triliun rupiah. Di dunia, Thailand hanya kalah dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Prancis. Luar biasa!

Indonesia sendiri, ada 13,39 juta turis asing berkunjung sepanjang 2018. Uang yang diperoleh 14,1 juta miliar AS atau sekitar 200 triliun rupiah. Tentu di masa pandemi Covid-19 ini, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia turun drastis. Di Mei 2020, jumlah turis asing yang berkunjung ke ­Indonesia turun 86,9 persen. Turis asing yang masuk pun banyak pelintas batas tradisional. Maka jangan heran jika di bulan Mei 2020, menurut kebangsaan, turis asing yang paling banyak datang ke Indonesia berasal dari Timor Leste, Malaysia, Tiongkok, Filipina, dan Singapura.

Bukan hanya Indonesia, seluruh dunia juga mengalami hal yang sama. Pariwisata merupakan salah satu sektor usaha yang paling parah terkena dampak pandemi. Jangankan pergerakan manusia dari satu negara ke negara lain, pergerakan barang saja susah. Hampir semua negara mengalami penurunan ekspor yang menjadi penyebab resesi, seperti Korea Selatan dan Australia.

Di balik terpuruknya bisnis wisata dunia di masa pandemi korona ini, ada harapan besar terbentang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya. Saat ini, hampir semua negara berada di titik yang sama, termasuk negara-negara Asean. Semua maskapai mengurangi jumlah penerbangannya, tingkat hunian hotel turun drastis, tempat wisata sepi pengunjung. Situasi ini hendaknya digunkaan pemerintah untuk memperbaiki semua kekurangannya, mulai dari infrastruktur, manajemen wisata, serta keamanan dan kenyamanan.

Sebanyak 11 destinasi wisata prioritas yang sudah dicanangkan, saat ini harus mulai berbenah. Dengan anggaran yang tersisa karena sebagian besar banyak direalokasikan untuk mengatasi pandemi Covid-19, pemerintah harus segera melangkah, harus segera serius menggarap lima destinasi superprioritas, yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Ditambah satu lagi yang terakhir dicanangkan yaitu Likupang di Sulawesi Utara.

Pemerintah juga harus memperbaiki cara penghitungan turis mancanegara. Pelintas batas tradisional di beberapa perbatasan seperti dengan Timor Leste di Pulau Timor, dengan Malaysia di Kalimantan, dan dengan Papua Nugini di Papua, hendaknya tidak masuk dalam penghitungan. Sebagian besar mereka datang ke Indonesia bukan sebagai turis untuk berlibur atau bisnis, tetapi kunjungan kekerabatan. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment