Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Pariwisata, Masa Depan Indonesia

Pariwisata, Masa Depan Indonesia

Foto : koran jakarta/aloysius widiyatmaka
A   A   A   Pengaturan Font

Masa keemasan minyak sudah lama berlalu. Bersamaan dengan itu, ekonomi bonanzanya juga ikut meredup. Indonesia harus meninggalkan sumber daya alam seperti minyak di belakang. Saatnya menatap energi baru ekonomi. Salah satu energi baru ekonomi yang telah ditemukan adalah laut. Indonesia dalam kurun lama membelakangi gudang kekayaan sumber kehidupan bernama laut.

Namun, Indonesia tidak cukup hanya menemu­kan (satu) kesadaran pentingnya laut sebagai sumber hidup masa depan karena bisa mencapai titik jenuh juga. Ikannya banyak dicuri. Kita harus terus mencari energi baru eko­nomi yang selalu dapat diperbarui. Energi baru ekonomi yang bisa terus diperbarui adalah pariwisata! Pariwisata tidak ada matinya!

Seperti laut, pariwisata adalah “gunung emas” sumber kehidupan bangsa yang lama dibiarkan. Bela­kangan, pemerintah mulai me­nyadari bahwa pariwisata potensi dahsyat yang terpendam dan mulai dikulik sebagai sumber pema­sukan keuangan. Pariwisata adalah silent giant ekonomi yang dibi­arkan terbengkalai. Kini saatnya membangunkan giant yang sudah disediakan alam sebagai karya Sang Pencipta tersebut.

Manusia Indonesia tinggal mengolah, menata, lalu mengambil buah manisnya. Apa yang tidak bisa dijadikan objek wisata di negeri ini? Alam seperti gunung, laut, pantai, pulau, bukit, dataran tinggi, datar­an rendah, sungai, air terjun atau bahkan persawahan, tak terkira jumlahnya dan semua bisa disulap menjadi destinasi wisata. Belum lagi eksplorasi budaya, kuliner, sejarah, atau belanja yang tak kalah luasnya. Itulah masa depan bangsa Indonesia!

Pariwisata adalah masa depan Indonesia. Pariwisata adalah hidup Indonesia. Dia gantungan hidup anak cucu. Apakah bukan bom­bastis mengatakan pariwisata bisa menjadi sumber hidup bangsa? Tentu tidak! Sebab banyak con­toh negara tidak memiliki sumber alam seperti minyak, tetapi mereka bisa menjadi negara kaya karena pariwisata! Salah satunya Maldives. Pariwisata negeri itu menyumbang hampir 40 persen produk domestik bruto (PDB).

Contoh lain, turisme Macau menyumbang 30 persen PDB. Yang dekat kita, Thailand. Pariwisata negeri Gajah Putih tersebut mampu menyumbang 22 persen dari PDB. Turisme juga berhasil membang­kitkan Thailand dari keterpuruk­an hantaman krisis tahun 1998. Hampir setiap lini lunglai, namun pariwisata gagah tak tergoyahkan. Turisme telah menyelamatkan krisis Gajah Putih.

Tak hanya itu, pariwisata pada perekonomian global berhasil me­nyumbang 1.340 miliar dollar AS atau 20 kuadriliun rupiah. Sayang, menurut Organisasi Pariwisata Dunia atau United Nations World Tourism Organisation (UNWTO), hampir 40 persennya direbut ne­gara-negara Eropa. Asia Pasifik ha­nya kebagian 29 persen. Sisanya, ke kawasan lain termasuk Amerika.

Lalu, berapa sumbangan turisme bagi PDB Indonesia? Ter­nyata baru 5,8 persen sumbangan pariwisata pada PDB nasional. Mengapa demikian minim? Ini ter­jadi karena kita terlalu lama terlena dengan minyak, batu bara, sawit, kayu, karet, dst. Pariwisata boleh dikata sama sekali tidak dilirik atau dianggap s09ebelah mata. Pariwisa­ta hanya dibiarkan seadanya. Ada turis syukur, tidak ada, tak masalah. Begitulah kira-kira kita memper­lakukan pariwisata selama ini.

Baru beberapa tahun bela­kangan pemerintah terbangun. Dia tergagap-gagap ternyata telah ketinggalan jauh dari perkembang­an dan pembangunan pariwisata dari negara-negara lain. Padahal, ternyata turisme mampu me­nyumbang devisi tinggi dan jadi penyelamat krisis di banyak negara. Kondisi pembiaran pariwisata se­adanya, wajar kalau buahnya juga ala kadarnya.

Kini target pemerintah luma­yan muluk. Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat pada 2019. Tahun ini, pariwisata ditargetkan memberikan kontribusi PDB nasional 8 persen dan meng­hasilkan devisa 280 triliun rupiah, sedangkan lapangan kerjanya 13 juta. Ini mau ditangkap antara lain dengan target wisatawan asing 20 juta dan pergerakan wisnu 275 juta.

Melihat potensi dana “gentayan­gan” tersebut, pemerintah harus mulai memforsir diri, mati-matian mengulik untuk mewujudkan po­tensi pariwisata kita. Lebih baik mati-matian sekarang, daripada mati beneran nanti karena terlalu santai dalam mengolah potensi turistik nasional, sehingga gagal meraih banyak devisa dari sektor ini.

Pemerintah harus ngopyak-opy­ak semua kementerian, gubernur, bupati, dan wali kota, agar bangun dari tidur (berupa) membiarkan pariwisata terbengkalai. Jangan ti­dur terus. Kini saatnya singsingkan lengan baju, membanting tulang, membangun destinasi-destinasi pariwisata. Artinya, harus ada sinergi rapi antarinstansi. Jangan lagi program pembangunan disodorkan ke kementerian, tetapi ditolak ke­menterian lain. Jadi, semua harus duduk bersama dulu untuk menya­makan persepsi dan visi.

Jangan ada kebiasaan ego sekto­ral, hanya mengutamakan kemen­terian atau institusinya sendiri-sendiri. Inilah perlunya sebuah koordinasi yang ikhlas. Semua bekerja demi bangsa, bukan sek­tornya. Kalau sudah ada persamaan persepi, visi, dan keiklasan koordi­nasi, barulah semua bersama-sama menabuh genderang perang mem­bangun pariwisata.

Tangkap Momentum Rakyat Sadar Wisata

Belakangan masyarakat rupa­nya telah mencapai kondisi “sadar wisata”. Ini tentu kenyataan yang menggembirakan. Tak heran di mana-mana muncul ide kreatif warga untuk menarik wisatawan berkunjung. Hal ini sangat bagus karena berdampak pada peningkat­an ekonomi setempat.

Kehadiran para wisatawan tentu anugerah yang sangat dinanti-nan­ti. Banyak daerah terpencil yang se­mula tak terdengar dan rasanya tak mungkin orang (jauh) datang, kini justru menjadi destinasi yang dicari orang. Banyak lokasi pelosok di perbukitan yang jauh dari kota, kini banyak disulap menjadi destinasi pelancongan.

Maka, saat ini, menjadi waktu paling tepat bagi pemerintah untuk menggeber pembangunan pariwisa­ta karena mumpung rakyat tengah tinggi-tingginya sadar wisata. Ini situasi luar biasa karena tanpa du­kungan pemerintah, warga secara swadaya membangun destinasi-destinasi turistik di daerah masing-masing.

Kesadaran meluas ini berkat media sosial khususnya Instagram yang dengan mudah menyebarlu­askan objek-objek wisata. Warga antusias membangun proyek-proyek wisata karena Instagram telah menjadi media iklan gratis dengan dampak amat luas. Jadi, momentum semangat dan ke­sadaran masyarakat ini harus be­nar-benar ditangkap pemerintah.

Sekarang ini hampir setiap sudut yang semula hanya rawa, hutan, bukit, sungai, parit, tanah gersang, atau kawasan tak ‘bertuan’ berhasil disulap menjadi destinasi wisata. Banyak contoh bisa dise­but. Misalnya, lihat saja kreativitas anak-anak remaja di Bukit Bintang, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, yang mampu mengubah lahan kosong melompong milik Perhutani men­jadi destinasi pelancongan dengan membangun berbagai lokasi swa­foto (selfie) yang begitu mengagum­kan. Warga membangun 32 spot foto. Jadi, pengunjung bisa leluasa memilih lokasi mengabadikan kun­jungan.

Kemudian, kawasan gersang, di perbukitan Menoreh, rakyat berha­sil menghadirkan pelancong lewat lokasi selfie Kalibiru, Kulonprogo yang memanfaatkan ketinggian dengan latar belakang nun jauh di bawah danau atau waduk Sermo. Jadilah tempat selfie yang digan­drungi wisatawan. Padahal untuk mencapai lahan yang luasnya ha­nya beberapa ratus meter persegi ini harus menanjak berkelok-kelok. Semua usaha rakyat, bukan inves­tor atau pengusaha!

Contoh paling giat membangun swadaya destinasi wisata diperlihatkan para korban amuk Gunung Merapi tahun 2010. Penduduk kaki Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang rumah serta ladangnya diluluhlantakkan guyuran lahar panas gunung teraktif di dunia pada tahun 2010 itu, mampu melahirkan “The Lost World” yang kini menjadi salah satu kawasan wisata paling dicari para pelancong yang singgah di Yogya.

Semua hanya swadaya 80 orang dengan iuran. Uang yang terkumpul 300 juta rupiah, lalu dibangunlah The Lost World Castle (LWC). Tanpa disangka, LWC, yang hinga kini masih terus merampungkan diri itu, sumber kehidupan rakyat setempat. LWC kini menjadi destinasi paling favorit di lereng merapi. “Perekonomian warga diselamatkan tempat wisata ini,” ujar salah satu warga, Rianto (39). Hampir seluruh lahan kehidupan yang terdiri dari ladang, kebun, dan tanaman habis diterjang lahar panas 1.000 derajat tahu 2010 itu. Ini perekonomian yang diciptakan sendiri oleh rakyat, tanpa bantuan siapa pun.

Awalnya, LWC bernama Benteng Takeshi. Ada pula yang memberi nama Tembok Besar Tiongkok. Maklum di pinggir-pinggir kom­pleks “kastil” ini memang dikelilingi tembok besar yang menyeru­pai The Great Wall of China. Untuk mengingat “hilangnya” permu­kiman di sekitar LWC akibat disapu letusan Gunung Merapi, destinasi ini lalu diberi nama LWC. Semua destinasi tadi hasil gotong-royong masyarakat. Mereka urun pasir, batu, dan uang. Itu sekadar sedikit contoh dari puluhan, ratusan, mungkin ribuan destinasi karya rakyat lokal, tanpa campur tangan pemerintah.

Kini saatnya, pemerintah turun tangan membantu mereka. Cara­nya, dukung destinasi-destinasi buatan warga dengan sarana dan prasarana. Contoh, bantu memper­baiki jalan, kucurkan dana untuk melengkapi fasilitas. Izinkan lahan-lahan negara dikreasi warga untuk membangun destinasi, tanpa sewa.

Jangan direcoki pihak-pihak lain. Contoh konkret di suatu destinasi, hasilnya 25 persen untuk para pengelola. Bayangkan pengelola hanya terima 25 persen, sedangkan yang 75 persen harus dibagi-bagi kepada Perhutani, polres, polsek, kecamatan, dan kelurahan. Dengan kesadaran tinggi warga atas potensi pariwisata, pemerintah tinggal mendorongnya lewat berbagai ban­tuan. Dengan demikian, pariwisata akan menjadi sokoguru ekonomi kerakyatan sesungguhnya. Hidup bangsa ini akan selamat berkat pariwisata yang dibangun warga di setiap jengkal lahan seluruh Nusantara. widiyatmaka

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment