Panut Mulyono | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments
WAWANCARA

Panut Mulyono

Panut Mulyono

Foto : KORAN JAKARTA/Eko Sugiarto Putro
A   A   A   Pengaturan Font
Pada pemilihan akhir rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh Majelis Wali Amanat yang berlangsung pada Senin (17/4) lalu, Panut Mulyono menyisihkan Dekan Fakultas Peternakan, Ali Agus dengan selisih 5 suara. Ia terpilih menjadi Rektor UGM periode 2017–2022, sebuah puncak amanah dalam karier seorang akademisi.

Panut Mulyono yang menjabat Dekan Fakultas Teknik itu tak pernah membayangkan akan sampai pada takdirnya hari ini, dipercaya untuk selanjutnya menjabat sebagai rektor UGM. Ini jelas tugas yang berat karena rektor merupakan jabatan yang memiliki tanggung jawab yang besar.

Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan selama menjabat sebagai Rektor UGM, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro berkesempatan mewawancarai Panut Mulyono selama satu jam, di Kampus UGM, Yogyakarta, barubaru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana proses pencalonan Bapak?

Beberapa teman fakultas teknik maupun yang di luar teknik mendorong saya untuk diajukan sebagai bakal calon rektor. Berbekal pengalaman saya di sini yang telah telah lama mengurusi fakultas teknik saya bersedia untuk diusung oleh teman-teman. Saya merasa siapa tahu masyarakat UGM mempercayai, Insya Allah saya sudah punya pengalaman mengelola fakultas teknik.

Sebelumnya saya menjadi wakil dekan di sini, jadi asisten wakil dekan di bidang keuangan, asisten wakil dekan di bidang sarana dan prasarana, jadi asisten wakil dekan administrasi keuangan dan umum. Kemudian jadi dekan sampai Oktober tahun lalu, kemudian sekarang dekan periode yang kedua.

Membayangkan sebagai rektor UGM itu adalah pekerjaan yang besar dan saya tidak pernah melakukannya. Intinya ini semua proses mengalir saja.

Menurut Bapak, apa problem utama UGM saat ini?

Problem utamanya sebenarnya kalau kami nyatakan sebagai problem itu adalah kami menginginkan suatu pendidikan yang hebat dan bermanfaat untuk masyarakat. Untuk mancapai itu, kami tentunya butuh pendanaan dan SDM. Hal-hal demikian kami memang diberikan keleluasaan untuk menggali dana karena dari pemerintah kan terbatas.

Ini sebenarnya menjadi tugas kami bersama dengan Majelis Wali Amanat untuk menggali dana-dana yang diperlukan agar kualitas pendidikan, research, dan pengabdian di UGM meningkat signifikan. Pemenuhan dosen juga harus segera kami penuhi karena sekarang banyak fakultas yang dosennya sangat terbatas, sedangkan hal-hal yang ingin kami kerjakan itu banyak sekali.

UGM institusi yang sudah dipercaya masayarakat, sehingga banyak pekerjaaan itu datang ke UGM. Untuk mengerjakannya, diperlukan SDM UGM yang cukup dan andal. Ini juga harus segera dipenuhi. Karena kepakaran dosen-dosen UGM, banyak pekerjaan yang ditawarkan oleh pihak-pihak luar sehingga dosen-dosen UGM yang mengerjakannya.

Bagaimana mengatur tanggung jawab pekerjaan di luar tanpa mengurangi tugas-tugas di kelas, membimbing mahasiswa, dan penelitian. Ini akan menjadi pola yang bagus untuk meningkatkan revenue UGM juga. UGM memiliki pengetahuan dan kepakaran yang jika ada pekerjaan yang tumbuh di situ secara massif, dosen-dosen bisa sejahtera. Tapi tidak boleh mengurangi tugas Tri Dhama tadi. Nah, kalau sekarang dosen terbatas, tentu sulit untuk membuat pola yang bagus.

Artinya akan ada penambahan dosen secara massif?

Kalau penambahan itu sudah dibuat strukturnya, perencanaan SDM sudah sampai 2022. Sudah ada perencanaan rekruitmen dosen. Saya membayangkan akan mengangkat banyak asisten entah dari mahasiswa yang cerdas atau mahasiswa tingkat akhir yang pintar untuk mendampingi seorang dosen.

Itu diperlukan agar ide-ide dari para dosen bisa terlaksana karena bantuan asisten tadi. Atau juga anak-anak yang baru lulus misalnya belum dapat pekerjaan bisa direkrut sebagai asisten. Bayangan saya, dosennya cukup jumlahnya dibantu para asisten sehingga produktivitasnya bisa meningkat pesat. Tinggal bagaimana kami bisa membiayai para asisten itu.

Bagaimana status kepegawaian asisten tersebut?

Dia hanya menempel ke dosen, jadi tentu bukan pegawai. Dengan SK rektor cukup. Menyatakan bahwa si A sebagai asistennya Profesor B dalam interval waktu setahun misalnya. Nanti bisa diperpanjang, lalu gajinya berapa. Nanti akan ada diskusi lebih lanjut dengan pengurus karena kaitannya dengan keuangan. Kami godog lagi gagasangagasan agar UGM lebih produktif di dalam tri dharma dan menghasilkan karya-karya nyata yang bermanfaat untuk masyarakat.

Kalau di luar negeri, dosen itu jam mengajarnya dalam setahun hanya sedikit, selebihnya adalah penelitian. Kalau di UGM seperti apa?

Sebetulnya dalam satu semester itu sudah terdefinisi. Seorang dosen mengajar di UGM ikut peraturan pemerintah, minimum 12 SKS. Itu tidak mengajar saja, termasuk penelitian. Maksimum 16 SKS, tetapi saat ini lebih dari itu juga banyak sekali. Karena keterbatasan dosen, banyak dosen yang mengajar lebih dari SKS wajibnya.

Kebanyakan mengajar inilah yang mempengaruhi jam meneliti. Masih banyak mengajarnya lalu kurang menelitinya. Ini makanya ketika kami penuhi jumlah dosenya, nanti jumlah mengajarnya sesuai standar sehingga porsi untuk meneliti bisa lebih baik.

Harus diingat mengapa perguruan tinggi di luar negeri itu produktivitas penelitiannya bagus, tidak lepas dari program pasca sarjana. Di sini mahasiswa S2 baru mulai tumbuh, tetapi ini perlu kami kembangkan bagaimana agar mahasiswa-mahasiswa S1 yang pintar mau masuk S2 di tempat kami, mau masuk S3. Kalau jumlah mahasiswa S3 banyak, dijamin jumlah hasil temuan dari penelitian juga banyak.

Kalau cuma mengandalkan dosen saja, berat untuk bisa memperoleh produk-produk penelitian yang hebat. Dosen harus mengajar, membimbing mahasiswa, dan sebagainya. Kami berusaha membuat program pasca sarjana sebagai tulang punggung untuk UGM guna memperoleh hasil-hasil penelitian bertaraf dunia.

Bukanya mahasiswa yang cerdas larinya ke luar negeri?

Itu harus dicari strategi. Bagaimana orang-orang cerdas itu mau sekolah di dalam negeri. Caranya, antara lain memberi sejumlah kesempatan yang menguntungkan bagi mahasiswa cerdas yang mau S2 dan S3 di sini. Fast track misalnya, anak S1 yang belum selesai S1-nya bisa masuk S2 sehingga anak-anak yang pintar itu sambil menyelesaikan S1 sudah terdaftar di S2. Begitu juga dengan S2 ke S3. Ada banyak terobosan yang bisa kami diskusikan.

Universitas di Indonesia tidak ada yang mendapat peringkat dalam 100 besar perguruan tinggi terbaik dunia, bagaimana menurut Bapak?

Pemeringkatan banyak yang dinilai, misalnya ada academic reputation. Dosen-dosen kita itu seberapa hebat diukur dengan publikasinya, dengan pergi-pergi memberikan kuliah di luar negeri, kemudian ceramah-ceramah, dan lain-lain. Ada employer reputation, kehebatan lulusan-lulusan kita yang dipekerjakan di perusahaanperusahaan terkemuka itu juga dinilai. Yang kami lakukan sekarang adalah perbaikan data-data terkait ranking itu.

Walaupun ranking-ranking itu perlu dan penting, tetapi jangan lupa perguruan tinggi fungsinya harus mensejahterakan bangsa dan masyarakat. Kami mengerjakan sesuatu, penelitian, ya yang terkait dengan kebutuhan masyarakat, penelitian kondisi alam Indonesia, penelitian tentang sumber-sumber alam Indonesia, biar mempunyai nilai tambah.

Dari penelitian-penelitian itu, baru kami tulis produknya untuk publikasi-publikasi internasional. Jangan sampai masyarakat berpandangan keliru, seolah-olah kami mengejar ranking dunia, tetapi melupakan manfaat UGM bagi masyarakat. Kalau saya tidak demikian, bahwa rangking kami naik akibat kami bekerja sekaligus menyelesaikan problem internal dan diketahui oleh orang luar.

Gagasan saya sederhana, Indonesia adalah bagian dari dunia. Nah menyelesaikan persoalan global dan internasional, berarti kami sudah ikut menyelesaikan masalah dunia. Kebakaran gambut kami atasi dengan baik misalnya.

Problem di luar kampus yang jadi perhatian Bapak saat ini?

Masalah kebangsaan, bagaimana kita sebagai bangsa betulbetul meneguhkan kebangsaan, persatuan Indonesia, NKRI, Pancasila itu harus kami kuatkan kembali. Untuk itu di UGM, kebetulan Ibu Rektor Dwikorita sudah merancang akan ada bulan Pancasila di UGM, Juni atau Juli.

Produktivitas bangsa juga menjadi concern saya. Bangsa yang produktif maksud saya bahwa kekayaan alam kami olah, ditingkatkan kemanfaatanya untuk menopang perekonomian. Sehingga kami betul-betul menjadi bangsa yang tidak terlalu tergantung dari produkproduk impor.

Impor pangan terus naik, Pak?

UGM ingin menyampaikan bahwa Indonesia kaya, alamnya kaya, kemampuan teknis juga mumpuni. Memproduksi padi, fakultas pertanian UGM mengajari orang-orang di Afrika lho. Tetapi mengapa kita tidak bisa memproduksi padi dan komoditas pangan lain seperti di Thailand, Vietnam. Pangan harus dicukupi sendiri kalau lebih kita bisa ekspor.

Kita harus seperti itu, bukan malah impor terus naik, produksi menyusut. Ini butuh kerja sama semua pihak. Bisa memproduksi dan bisa menjual. Lalu bagaimana kita mengurangi ketergantungan kepada impor? Ini salah satu dari yang ingin saya sampaikan, itu nasionalisme kita. Jepang yang negara maju makan beras dari produksi sendiri.

Solusi pendanaan kampus selama ini kan dari mahasiswa melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT) apa UKT-nya mau naik?

Kalau saya tidak. Tak ada rencana UKT naik. Tentang UKT, masih bisa diperbaiki aspek keadilannya. Di teknik misalnya, UKT tertinggi 10.350.000 rupiah per semester, padahal dari penghasilan orangtua, itu sebetulnya yang kuliah di sini banyak yang pendapatannya 100 juta rupiah per bulan, 200 juta rupiah per bulan, 50 juta rupiah per bulan. Nah itu kan bayarnya sama dengan yang pendapatannya hanya 10 juta rupiah per bulan.

Ini sebetulnya kalau mau dalam tanda petik adil, untuk kemajuan pendidikan, ya tidak baik. Pendapatan orang tua yang 50 juta – 200 juta rupiah itu sebenarnya bisa ditambah satu atau beberapa level lagi. Saat ini hanya 6 level dari gratis melalui Bidik Misi hingga sekitar 10 juta rupiah. Itu aspek keadilannya masih kurang. Prinsip gotong royong harus menyediakan ruang bagi orang yang lebih kaya, sangat kaya, untuk membayar lebih.

Paparan Bapak mengenai optimalisasi SDM di UGM untuk pekerjaan-pekerjaan di luar kampus menjadi solusi pendanaan. Bagaimana selama ini sudah dikelola?

UGM memiliki beberapa company seperti Gama Techno. Kalau formula antara beban mengajar dan pekerjaan di luar ketemu maka akan bisa diperbanyak jumlahnya. Kalau solusi jumlah dosen ketemu, pekerjaan besar akan bisa dikerjakan. Majelis Wali Amanat ada komisi internal dan eksternal. Komisi eksternal tugasnya, antara lain mencarikan funding-funding melalui sejumlah kerja sama yang mungkin antara UGM dan pihak luar. Ini bisa terus dioptimalisasi.

Sekarang hilirisasi menjadi konsep yang begitu populer di kampus, padahal science juga sangat vital, bagaimana mengakomodasi keduanya?

Hilirisasi itu hanya untuk produk-produk yang bisa dibuat barangnya. Barang itu tidak harus benda ya, tetapi juga ada metode, kemudian sistem, cara-cara menyelesaikan persoalan. Itu bisa dibuat produk.

Namun, tidak semua dosen passion dan kepakaranya di situ. Nah, tentu semua akan dapat ruang sepadan. Ilmu dasar akan mendapat porsi perhatian yang kuat karena saya ingin suatu hari ada pemenang Nobel dari UGM. Nobel bukan hilirisasi, tapi di konsep baru kemudian teori baru. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment