Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Antisipasi Bencana

Pantai Selatan Dipasang Radar Pendeteksi Tsunami

Pantai Selatan Dipasang Radar Pendeteksi Tsunami

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

BANTUL - Kawasan pan­tai Selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akan dipasangi radar yang berfungsi untuk mend­eteksi tsunami atau gelombang pasang yang akan menerjang wilayah pesisir setempat.

“Kita menjalin kerja sama dengan Badan Meteorologi, Kli­matologi, dan Geofisika (BMKG) Jepang di Tokyo untuk pemasan­gan radar deteksi tsunami,” kata Dekan Fakultas Geografi Uni­versitas Gadjah Mada (UGM), Muh Aris Marfai, usai audiensi dengan Bupati Bantul dan Ba­dan Informasi Geospasial (BIG) Parangtritis Geomaritime Sci­ence Park terkait rencana pe­ngembangan dan pelestarian gumuk pasir pantai selatan Ban­tul, Kamis (13/9).

Menurut dia, sesuai ren­cana, radar deteksi tsunami itu akan dipasang bersama de­ngan teman-teman Badan Pen­anggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul di kawasan pantai yang akan dikoordinasi­kan lebih lanjut.

“Jadi itu (radar) bisa deteksi sejauh 200 km ke arah laut ter­kait dengan tsunami. Tadi, kita sudah sampaikan prosesnya de­ngan BMKG dan BPBD sudah berlangsung, nanti tinggal teknis pemasangannya,” katanya.

Dia mengatakan terkait dengan sistem pemantauan dari radar deteksi tsunami itu, pihaknya sepakat dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) menginginkan agar dash­board monitoring diletakkan di gedung kawasan museum Parangtritis Geomaritime Sci­ence Park. “Dengan demikian, dari situ kita bisa mengolah data. Bupati senang sekali ter­kait beberapa hal yang kita sampaikan tadi (saat audi­ensi),” katanya.

Muh Aris juga mengatakan akan mendukung pengem­bangan dan pelestarian ka­wasan gumuk pasir selatan oleh institusi pemerintah. Sebagai kalangan akademisi, pihaknya sudah melakukan kaji dan studi guna menyusun peta zonasi.

“Dari peta zonasi itu kita menemukan ada zona inti, zona pengembangan dan zona pengembangan terbatas. Itu sudah kita sampaikan kepada stakeholder dan pemda, bahwa ini yang boleh dikembangkan secara terbatas dan yang tidak bisa karena untuk konservasi,” katanya.

Pada kesempatan audiensi itu, pihaknya juga menyam­paikan adanya museum gu­muk pasir seluas dua hektare dan hamparan gumuk pasir seluas 114 hektare agar hara­pannya dapat dikelola dan ada penataan terhadap kegiatan masyarakat.

Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment