Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
PERADA

Panduan Teori dan Praktik Mengatasi Perundungan

Panduan Teori dan Praktik Mengatasi Perundungan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Seorang gadis remaja, sebut saja namanya Anna, membaca sebuah pesan di akun Instagram-nya. Isinya, “Mengapa kamu datang ke sekolah? Belum tahu ya, tidak ada yang suka padamu? Mengapa kamu nggak makan saja banyak-banyak, jadi gendut, jadi anoreksia, … dan mati. Besok, nggak usah repot-repot datang kerja kelompok, soalnya tidak ada yang bakal peduli sama kamu. Evry1h8u (everyone hates you, semua membenci kamu).”

Bukan hanya sekali ini dia menerima pesan penuh kebencian. Ingin rasanya Anna pindah sekolah. Dia tidak tahu cara menceritakan kepada orang tuanya. Banyak orang tua mengira anaknya baik-baik saja di sekolah. Mereka memiliki teman, bergaul, dan bahkan berprestasi. Orang tua tidak pernah menduga, anaknya telah di-bully atau diganggu, baik secara fisik maupun nonfisik.

Buku Why Children Bully tulisan Robert Pereira, seorang konsultan dan praktisi masalah bullying, menyatakan perundungan terjadi secara universal, lintas budaya, dan generasi. Anak-anak tahun 1980 juga mengalami. Kebanyakan berupa fisik, seperti dipukul, didorong, atau disembunyikan barang-barangnya.

Zaman sekarang, perundungan telah berkembang menjadi lebih menyeramkan. Dengan kemajuan teknologi, perundungan dapat terjadi di mana pun, seperti melalui email, Instagram, WhatsApp, Facebook, Line, Twitter, Path, atau Pinterest (hal 8). Kisah-kisah tragis para korban perundungan telah sering dibaca di media massa.

Misalnya, kisah Cassidy Trevan (15) yang diganggu sekelompok gadis di sekolahnya di Melbourne, Australia. Lantaran tidak tahan, Cassidy akhirnya bunuh diri akhir tahun 2015. Cassidy Trevan hanyalah satu dari sekian cerita perundungan anak dan remaja. Masih banyak lagi Cassidy Trevan lain yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Menurut data tahun 2014–2017, sebanyak 40 persen bunuh diri anak-anak Indonesia karena bullying (hal 11). Buku ini memperkenalkan suatu strategi baru untuk mengatasi perundungan dalam paradigma ABC dengan mengambil dasar cognitive behavioural therapy yang diciptakan seorang psikolog 50 tahun terakhir bernama Albert Ellis (1913–2007).

Tujuan utama bullying prevention lesson yang dilakukan penulis adalah mengembangkan empati, mengubah pola pikir salah, dan memberdayakan mereka yang selama ini hanya menonton (hal 27). Paradigma ABC membantu memahami jalan pemikiran pelaku, korban, dan penonton yag terdiri dari activating agents (pemicu), belief (keyakinan) dan consequence (konsekuensi).

Activating agents menyebabkan perundungan. Belief adalah keyakinan atau pemikiran yang timbul dalam diri pelaku dan korban terkait pemicu tadi. Sedangkan consequence perasaan atau tingkah laku karena pemikiran pelaku dan korban. Menariknya, strategi ini dapat diaplikasikan tidak hanya di rumah bersama orang tua, tapi juga sekolah dengan guru sebagai fasilitatornya.

Orang tua hanya mempunyai akses pada anak yang menjadi korban dan sering kali sudah hilang semangat. Sedangkan guru justru mempunyai akses lebih luas pada pelaku, korban, dan penonton. Kelompok 20–30 murid justru merupakan faktor utama yang menjadi aset untuk memungkinkan perubahan sistematis.

Guru mempunyai seluruh sistem di hadapannya (hal 39) Meski demikian, layaknya suatu percobaan, guru perlu berlatih terus dan pantang menyerah mempraktikkan strategi paradigma ABC ini.

Kedua penulis, Hanlie Muliani dan Robert Pereira, menemukan fakta, adanya perbedaan alasan atau faktor pemicu pada pelaku perundungan. Anak-anak perempuan pelaku perundungan terutama karena iri hati. Sedangkan anak laki-laki karena menganggap lucu atau sekadar bercanda (hal 42). 

 

Diresensi Irma Handayani Pawiro, S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kristen Satya Wacana

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment