Koran Jakarta | December 18 2018
No Comments

Panduan Memulai Bisnis di Era Digital

Panduan Memulai Bisnis di Era Digital

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Strategi Kewirausahaan Digital

Penulis : Elizabeth Winda A dkk

Pengantar : Menkominfo Rudiantara

Penerbit : Kemkominfo dan Center for Digital Society

Cetakan : I, 2018

Tebal : 204 halaman

ISBN : 978-979-99002-6-2

Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan internet terbesar di dunia, 51 persen dalam satu tahun terakhir. Angka ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan internet global sebesar 10 persen saja. Fakta ini memperlihatkan masyarakat Indonesia telah memasuki era digital. Era digital membawa peluang bagi mereka yang ingin memulai bisnis secara go digital. Berbagai bisnis, baik barang maupun jasa bisa dilakukan secara digital.

Untuk memulai bisnis di era digital ini, pertama harus menentukan bidang bisnis yang berawal dari sebuah ide yang bisa datang dari realitas berupa trend di masyarakat atau permasalahan yang membutuhkan solusi.

Contoh, ide bisa muncul dari hobi. Tirta Mandira Hudhi, founder Shoes and Care, membangun bisnis cuci sepatu. Idenya dari hobi membersihkan sepatu. Dari ide sederhana itu, pada 2013, dia lalu mendirikan Shoes and Care yang kini telah memiliki 30 gerai di seluruh Indonesia (hal 23).

Tahap selanjutnya mempersiapkan profil bisnis untuk memastikan dapat berjalan, menghasilkan keuntungan, dan berkelanjutan. Ini bisa dilakukan dengan menyusun kanvas model bisnis. Ini sebuah konsep perancangan usaha ciptaan Alexander Osterwalder yang memuat aspek-aspek penting sebuah usaha ke dalam peta berbentuk kolom-kolom terdiri atas segmentasi pelanggan, keunggulan produk, dan saluran informasi.

Isi berikutnya, cara pendistribusian produk, cara berkomunikasi dengan konsumen, arus pendapatan, sumber daya, kegiatan, kemitraan, dan struktur biaya. Kanvas model bisnis akan memudahkan calon pengusaha mendapat gambaran umum tentang bisnisnya kelak (hal 45).

Setelah menyusun kanvas model bisnis, langkah selanjutnya mencari modal. Ketiadaan modal sering dijadikan alasan seseorang untuk tidak memulai bisnis. Padahal, jika belum memiliki modal sendiri, banyak jalan untuk mendapatkan modal, misalnya dari pinjaman perorangan, kredit bank, kerja sama dengan bisnis lain, atau dari investor.

Untuk mendapat modal dari pihak lain bisa melalui pitching, sebuah presentasi yang dilakukan pelaku bisnis untuk meyakinkan klien, investor, maupun mitra (hal 57). Saat pitching perlu memperhatikan secara mendalam bisnis yang akan dikembangkan. Presentasikan dengan singkat, padat, dan menarik. Yang harus disampaikan di antaranya inti bisnis, kesiapan tim, cara memenangkan persaingan dan meraih keuntungan.

Di era digital, pemasaran melalui internet menjadi keharusan bisa dilakukan melalui website, blog, atau media sosial (medsos). Untuk memasarkan melalui website atau blog, gunakanlah SEO (search engine optimizer), yakni fitur yang disediakan Google untuk menempatkan website atau blog di urutan teratas pencarian.

Jika tanpa SEO, cara agar tampil di urutan teratas, website atau blog harus menjadi terpopuler di Google Maps dengan indikator banyaknya ulasan dan tingginya skor penilaian pengguna. Karena itu, sarankan setiap customer untuk mengisi online review di Google.

Pemasaran melalui medsos juga tak boleh dikesampingkan. Data per Januari 2017, pengguna internet Indonesia mencapai 132,7 juta orang dan 97,4 persennya untuk membuka medsos (Facebook, Instagram, dan Twitter). Dengan 100 juta lebih pengguna, medsos bisa dimanfaatkan untuk branding dan portofolio. Jaringan pertemanan di medsos dapat dijadikan media untuk merekomendasikan bisnis ke khalayak. Ini merupakan sarana promosi dahsyat secara gratis. Buku 6 bab ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menargetkan 8 juta UMKM go digital pada 2019. Sekarang baru 3,79 juta. 

Diresensi Irfan Maulana, Alumnus Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment