Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Panduan Berbahasa Indonesia Tanpa Harus “Nginggris”

Panduan Berbahasa Indonesia Tanpa Harus “Nginggris”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Xenoglosifilia
Penulis : Ivan Lanin
Cetakan : Februari 2019
Penerbit : Kompas
Halaman : 232 halaman
ISBN : 978-602-412-412-0

Sebagai alat persatuan, bahasa Indonesia harus dijunjung tinggi. Salah satunya dengan menggu­nakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Namun, dalam praktik banyak yang justru mengabaikan cara ber­bahasa dengan baik. Apalagi zaman sekarang, sering ditemui orang suka campur menggunakannya dengan bahasa asing, khususnya Inggris.

Salah satu penyebabnya karena ingin menggantikan suatu kata dalam bahasa Indonesia dengan bahasa as­ing karena dirasa lebih keren. Gejala ini disebut xenoglosofilia, suatu ke­cenderungan menggunakan kata-kata aneh atau asing, terutama dengan cara tidak wajar (hal 33). Padahal bisa saja kata yang diucapkan tersebut sudah ada padanan. Karena ketidaktahuan atau kekurangpedulian, banyak yang urung menggunakannya.

Buku ini berisi kompilasi artikel dari blog Ivan Lanin, seorang Wiki­pediawan. Uraiannya terkait peng­gunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang menganggap mudah karena selalu dipakai dalam keseharian, namun praktiknya sering tidak benar.

Buku ini mengingatkan pembaca tentang pentingnya berbahasa yang baik, sekaligus mengajak untuk lebih peduli dengan bahasa nasional. Sela­ma ini, banyak orang justru mengabai­kan dan malah lebih bangga berbicara menggunakan bahasa Inggris. Buku Xenoglosifilia dibagi menjadi tiga bagian besar.

Bagian pertama mengulas berbagai padanan kata populer yang jarang di­gunakan dan diketahui khalayak. Mis­alnya, pranala, narablog, dan tetikus. Ketiga padanan itu tidak lebih familiar dari kata aslinya: hyperlink, blogger, dan mouse. Bab ini membahas lebih banyak lagi padanan yang sebaiknya diketahui, seiring kemunculan berb­agai kosa kata baru berkaitan dengan teknologi.

Selain itu, dibahas pula mengenai salah kaprah penyebutan kata. Misalnya, nominator, nomine, dan nominasi. Ketiga kata tersebut memi­liki makna berbeda, tapi terkadang penggunaannya tertukar karena tidak paham. Penulis mengajak pembaca kembali membuka KBBI karena di dalamnya telah diuraikan dengan jelas.

Bagian kedua menjawab perta­nyaan umum tentang penggunaan bahasa Indonesia. Banyak orang se­ring keliru berbahasa. Misalnya, peng­gunaan kata jam dan pukul (hal 136). Kedua kata tersebut sering tertukar dalam berkomunikasi. Keduanya me­miliki makna berbeda. Demikian juga penggunaan di dan pada. Kesalahan seperti itu bila tidak segera diperbaiki, akan menjadi kebiasaan, terlepas dari pesan yang terkandung dalam kalimat dapat tersampaikan pada komunikan.

Adapun bagian ketiga membahas penulisan yang benar sesuai dengan KBBI. Bab ini menjawab berbagai pertanyaan yang sering kali memb­ingungkan. Salah satunya penulisan keluar dan ke luar. Buku in menjelas­kan perbedaan penulisan dan peng­gunaannya, disertai dengan contoh dalam kalimat. Selain itu, masih ba­nyak pertanyaan populer yang dijawab dengan lugas.

Buku Xenoglosifilia dapat menjadi panduan kaum milenial belajar lebih dalam tentang bahasa Indonesia. Sebab banyak anak muda meng­alami xenoglosofilia. Semoga mereka lebih peduli dan menghargai bahasa nasional. Diresensi Wening Niki Yuntari, Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment