Pancasila Ideologi yang Dinamis | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Fondasi Negara | Implementasi Pancasila Harus Menyemangati Kehidupan Masyarakat

Pancasila Ideologi yang Dinamis

Pancasila Ideologi yang Dinamis

Foto : ANTARA/KAHFIE KAMARU
PENGUATAN NILAI PANCASILA | Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mutjaba Hamdi (kiri), Ketua DPR (1994-2004) Akbar Tandjung (kedua kiri), President Moderator Asian Confrence of Religions for Peace Din Samsudin (kedua kanan), dan Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Hariyono, tampil sebagai pembicara dalam seminar Gerakan Sejiwa Pancasila di Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum UI Depok, Jawa Barat, Kamis (25/10). Seminar yang bertema “Penguatan Nilai Pancasila Dalam Mewujudkan Indonesia Toleran dan Bermartabat” tersebut sekaligus ajang deklarasi Gerakan Sejiwa Pancasila FHUI.
A   A   A   Pengaturan Font
Tantangan berat dihadapi Pancasila. Sebagai ideologi yang mewadahi semua kelompok masyarakat, kini dihadapkan pada semangat intoleran yang menguat di sebagian masyarakat.

 

DEPOK – Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia yang tidak tertutup dan dogmatis. Pancasila adalah ideologi yang terbuka dan sangat dinamis. Setiap gerak masyarakat dan negara, bisa dirujuk ke dasar negara ini.

Penilaian tersebut disampaikan politisi senior Akbar Tanjung dalam seminar bertema “Penguatan Nilai Pancasila dalam Mewujudkan Indonesia Toleran dan Bermartabat”, di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Kamis (25/10). Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara.

Akbar yang pernah menjadi Ketua umum Golkar dan juga Ketua DPR RI ini mengatakan, nilai-nilai Pancasila mampu mengakomodasi pikiran dan pendapat-pendapat berbagai lapisan masyarakat. “Pancasila dari perspektif ideologi adalah terbuka dan dinamis serta mudah diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan berbegara maupun politik,” katanya.

Lebih lanjut Akbar menjelaskan, Pancasila merupakan bagian terpenting dalam sejarah Indonesia. Ia menyebutkan bahwa peran dari pendiri bangsa Indonesia dalam merumuskan pancasila dapat dicontoh bagi masyarakat untuk menjaga toleransi dan kerukunan.

Sementara itu mantan KetuaUmum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyimpulkan setidaknya ada 5 pernyataan yang merupakan gambaran dari Pancasila saat ini. “Pertama, Pancasila adalah konsensus nasional yang merupakan pemikiran pertemuan dari pendiri bangsa. Kedua, Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya yang tumbuh secara dinamis di masyarakat, seperti toleransi dan harmoni,” katanya.

Ketiga, kata Din, Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai-nilai agama yang tertuang dalam Ketuhanan Yang Maha Esa. Keempat, pancasila berada dalam posisi jalan tengah, tidak terjebak kiri atau kanan, dan tidak terjebak dalam ekstrimisitas. Terakhir, Pancasila merupakan pikiran, wawasan, ideologi, dan falsafah yang ideal dan relevan untuk kehidupan umat manusia, baik tingkat nasional yang majemuk, maupun untuk dunia.

Intoleransi Meningkat

Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi, mengatakan bahwa sikap intoleransi yang terjadi di masyarakat meningkat. Sikap tersebut bukan hanya terjadi di kalangan menengah ke bawah, melainkan di kalangan menengah ke atas, bahkan ada beberapa di antara mereka merupakan akademisi.

Mujtaba mengatakan, pihaknya telah memberikan solusi- solusi untuk mencegah intoleransi yang berkembang.

Guru Besar Fakultas Hukum UI, Jimly Asshiddiqie mengatakan, dunia perguruan tinggi pasca reformasi mengalami ancaman demolarisasi. Ia menjelaskan intoleransi mengakibatkan kreativitas ilmiah menjadi terhambat.

“Perlu dibuatkan gerakan kampus toleran bisa bekerja sama dengan BPIP. Hanya dengan toleransi, kreativitas ilmiah yang menjadi tolak ukur kemajuan bangsa kita dapat tercapai,” ujarnya.

Sedangkan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Hariyono, mengatakan, Pancasila bukan semata-mata sebagai alat pemersatu bangsa, bukan hanya alat untuk menyatukan orang yang berbeda iman, namun bisa jadi semangat untuk masa depan.

“Kita melihat Pancasila hanya sebatas toleransi. Pancasila harusnya bisa menjadi pedoman kehidupan sehari-hari,” ujarnya. tri/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment