Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments
GAGASAN

Pancasila “Energy of Indonesia”

Pancasila “Energy of Indonesia”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Semarak Asian Games 2018 telah berakhir meninggalkan sejuta tawa, tangis dan kebahagiaan bagi tiap negara yang ikut berkompetisi. Kemenangan tak lantas membuat setiap orang menjadi angkuh. Sebaliknya, kekalahan tak lantas membuat patah arang.

Itulah kompetisi. Ada yang menang dan kalah. Lalu apa makna yang bisa dipetik dari penyelenggaraan Asian Games? Hal itu bisa dilihat dari jargon Energy of Asia. Indonesia menyebut dirinya “Energi Asia” selama Asian Games berlangsung. Ini menggambarkan energi yang kuat dalam merefleksikan dan mempromosikan Indonesia kepada dunia.

Ini menegaskan rasa kepercayaan bangsa Indonesia merebut kembali kekuatan Asia melalui Asian Games 2018. Ada 11.000 atlet yang bersaing dari 45 negara. Tanpa disadari, pertunjukan selama pembukaan dan penutupan adalah ajang aktualisasi Pancasila sebagai energi bangsa Indonesia. Indonesia sebagai salah satu bagian dari masyarakat dunia, memiliki sejarah serta prinsip hidup yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain dunia.

Bangsa Indonesia telah berkembang menuju fase nasionalisme modern. Para pemikir bangsa meletakkan prinsip-prinsip dasar yang harus dipegang teguh setiap elemen bangsa dan negara yang dicetuskan para pendiri bangsa (founding fathers). Semua diangkat dari pandangan hidup bangsa. Kemudian, diabstraksikan menjadi prinsip dasar filsafat negara bernama Pancasila.

Jika melihat lebih jauh lagi, nilai-nilai esensial yang terkandung dalam Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, serta keadilan, dalam kenyataannya secara objektif telah dimiliki bangsa Indonesia sejak zaman dulu sebelum negara Indonesia berdiri. Maka, akar-akar nasionalisme yang berkembang dalam perspektif sejarah masa lalu sekaligus juga merupakan unsur-unsur identitas nasional.

Inilah nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Bapak bangsa, Soekarno, berseru dengan suara lantang “…kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan kaya atau miskin. Tetapi semua buat semua.” Ucapan Soekarno merupakan konsep pencerminan cita-cita luhur tentang persatuan nasional.

Penegasan Soekarno, bangsa ini tidak dibangun oleh satu golongan dan kepentingan pribadi. Ia lahir karena kesepakatan bersama elemen bangsa agar hidup dalam satu kesatuan. Soekarno telah melahirkan pikiran-pikiran fundamental berupa konsepsi yang cerdas bagi bangsa dan umat manusia.

Soekarno mampu menyelami, menangkap kondisi dan aspirasi rakyat dengan segala kemajemukannya untuk mempersatukannya sebagai sebuah bangsa. Soekarno mampu melihat dan memberi pandangan ke depan yang jauh melampaui zamannya. Dengan demikian, mampu membimbing perjuangan bangsa dalam membangun peradaban dan kesejahteraan.

Menurut Alfian (1978) dalam bukunya, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, menyebut, Soekarno mengakomodasi aliran-aliran penting yang hidup di masyarakat. Dia mau mempersatukannya ke dalam suatu common denominator seperti marhaenisme, Pancasila, atau nasakom? Untuk keperluan itu, dia memilih yang baik dari tiap-tiap aliran.

Harus disadari, dalam merumuskan Pancasila, Soekarno berusaha menyatukan semua pemikiran dari berbagai tokoh dan golongan. Dia membuang jauh-jauh kepentingan perorangan, etnik maupun kelompok. Soekarno menyadari sepenuhnya kemerdekaan untuk semua, bukan satu golongan.

 

Teraktualisasi

 

Menyadari kebinekaan bangsa, Soekarno mengemukakan konsep dasar Pancasila yang di dalamnya terkandung semangat “semua buat semua.” Harus dipahami, Pancasila bukan hanya difungsikan sebagai alat atau ideologi pemersatu dan sebagai perekat kehidupan kepentingan bangsa, tetapi juga sebagai dasar, filsafat, serta pandangan hidup.

Artinya Pancasila telah menjadi energy dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang dicita-citakan bangsa dalam Pancasila tecermin dan teraktualisasi pada ajang Asian Games 2018. Indonesia telah menunjukkan kebesaran bangsanya di mata dunia. Indonesia menunjukkan kepada dunia masih bisa bersatu meski berbeda-beda dalam budaya, suku, dan bahasa.

Asian Games tak hanya kompetisi merebut medali, tetapi memberi energi persatuan, mengangkat martabat bangsa, menyentak semangat nasionalisme, dan kesadaran berbangsa. Selain itu, juga konsistensi politik luar negeri dalam upaya mewujudkan perdamaian serta mempromosikan keragaman budaya.

Asian Games telah menyatukan tiap elemen bangsa-bangsa. Di dalamnya tertuang nilai-nilai fundamental Pancasila itu sendiri. Pancasila mampu mendorong bangsa Indonesia secara keseluruhan tetap berjalan dalam koridor. Ini bukan berarti menentang arus globalisasi, akan tetapi lebih bijak menghadapi tantangan dan peluang masa depan.

Bila menghubungkan kebudayaan pada ajang itu menegaskan, Indonesia mampu menggambarkan perbedaan karakteristik kebudayaan asli leluhur dengan negara-negara lain. Hal itu menyiratkan tiap bangsa memiliki peradaban yang unik, termasuk Indonesia. Dibandingkan bangsa-bangsa lain yang ikut berkompetisi, ada sesuatu yang sangat khas dimiliki Indonesia.

Ini bangsa yang tidak dipersatukan oleh sesuatu yang bersifat fisik atau kasat mata seperti ras, kesatuan wilayah geografis, budaya, bahasa atau agama. Dari segi ras, rakyat Indonesia keturunan dari berbagai ras berbeda-beda. Mereka disatukan oleh ikatan-ikatan primordial. Dari segi kesatuan wilayah geografis, wilayah yang didiami bangsa Indonesia berbentuk kepulauan.

Dari aspek budaya atau bahasa, ada ratusan budaya daerah yang unik, pakaian tradisional dengan corak berbeda-beda dan bahasa tradisional yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia. Dari aspek agama, rakyat Indonesia memeluk banyak agama dan aliran kepercayaan. Realitas seperti ini menunjukkan, Indonesia adalah bangsa yang plural berdimensi multikultural, namun dapat hidup menyatu ke dalam sebuah bangsa.

Bagaimana bangsa yang multikultural ini bisa menyatu dalam satu wadah, berjuang dan bertahan bersama sebagai suatu negara bangsa? Mereka juga beridentitas yang tetap kokoh sampai hari ini, meski diterjang berbagai kesulitan, konflik, ancaman ekonomi, tantangan globalisasi, hambatan lainnya?

Ini merupakan fenomena dan prestasi yang mengagumkan bangsa Indonesia. Sementara Itu, kita menyaksikan dengan jelas, berbagai bangsa lain terpecah di berbagai belahan dunia. Bangsa ini masih dapat terus bertahan dalam identitas Indonesia di tengah keragaman identitas kultural.

Meskipun akhir-akhir ini bangsa mulai terpecah karena perbedaan pandangan politik, tidak seharusnya menyurutkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme. Kecintaan terhadap bangsa harus semakin mengakar dan tertancap kuat dalam segenap sanubari rakyat. Pancasila sebagai energi, kekuatan, dan pendorong agar lebih baik lagi.

Dia mampu membangkitkan rasa nasionalisme, memupuk kebersamaan, menguatkan tali persaudaraan, meskipun berbeda sikap politik. Para atlet, event organizers, pemimpin bangsa, dan seluruh umat manusia yang menyaksikan perhelatan itu bersatu dalam lautan emosi semarak Asian Games 2018.

Mata dunia telah melihat rakyat Indonesia mampu menunjukkan bangsa yang bermartabat. Kita dihargai dan diakui eksistensinya sebagai bangsa yang berbudaya luhur, berkarakter mulia dan mencintai perbedaan. Siapa kita? Indonesia. Kita Indonesia, kita Pancasila! 

 

 

Roy Martin Simamora, Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment