Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments

Pahami Sejarah agar Mengetahui Akar Suatu Peristiwa

Pahami Sejarah agar Mengetahui Akar Suatu Peristiwa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Guru Menulis: Himpunan Opini

Penulis : Ahmad Muhli Junaidi

Penerbit : Pustaka Tunggal

Cetakan : Mei, 2O17

Tebal : 200 halaman

ISBN : 978-602-61165-6-7

Cukup jarang guru yang terbiasa menulis. Lebih jarang lagi tulisannya dipublikasikan media massa. Salah seorang guru yang hingga sekarang masih aktif menulis di tengah kesibukan mengajar adalah J Sumardianta. Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta banyak menulis di media massa. Tulisannya lalu dibukukan seperti Mendidik Pemenang Bukan Pecundang dan Guru Gokil Murid Unyu.

Buku Guru Menulis ini ditulis seorang sejarah yang sangat memegang teguh ungkapan Proklamtor Indonesia, Bung Karno, bahwa bangsa yang besar tidak melupakan sejarah. Sayang, begitu sepi siswa yang berminat mempelajari sejarah Indonesia karena masih simpang siur, minim metodologi pengajaran sejarah, serta kurangnya penguasaan filsafat sejarah (hlm 29–30).

Kesimpang-siuran sudah bisa diatasi dengan revisi total Sejarah Nasional Indonesia jilid I–VI pada tahun 2010. Namun, penguasaan metodologi pengajaran dan filsafat sejarah oleh guru sejarah masih kurang. Hal demikian terjadi lantaran ada anggapan, sejarah merupakan materi pelajaran yang cukup mengandalkan penguasaan materi bacaan. Semua bisa mengajar sejarah, walau tidak punya latar pendidikan jurusan sejarah (hlm 32).

Memahami sejarah terbilang penting karena bisa tahu rangkaian peristiwa dan sebab-sebabnya. Misalnya, konflik dalam tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang terjadi beberapa tahun belakangan. Lewat sejarah diketahui bahwa konflik ini pernah terjadi tahun 1938 karena sebab serupa, yaitu persoalan politik dan perebutan kekuasaan.

Belanda pada tahun 1927 membentuk tim sepak bola nasional di mana seluruh personelnya berasal dari kulit putih dan kaum priyayi. Diskrimanasi ini membuat rakyat pribumi bersama etnis Tionghoa membentuk tim nasional tandingan bernama Persatoean Sepakra Seloeroeh Indonesia (PSSI) yang menjadi cikal bakal PSSI sekarang.

Belanda menawarkan kerja sama. Tim bentukan Belanda dan PSSI digabung menjadi satu. Belanda berjanji pada perhelatan Piala Dunia di Prancis, pemain PSSI akan diikutkan. Itu hanya politik licik untuk melemahkan PSSI. Terbukti, tim hanya dari bentukan Belanda (48–49). PSSI sejak 2003 juga konflik serupa lantaran permainan politik dan perebutan kekuasaan di pucuk pimpinan (hlm 52–55).

Lewat kajian sejarah diketahui sejak tahun 2000 perantau dari Madura meningkat. Salah satu sebabnya kegagalan tembakau memenuhi kebutuhan hidup. Dalam catatan Huubde Jonge, pada tahun 1830, tembakau diuji coba pertama di Madura, tapi gagal. Namun orang Madura kemudian tetap menanam tembakau dan berhasil. Kualitas tembakau Madura menembus pasar tembakau dunia di Bremen, Jerman.

Era 1960–1990, tembakau menjadi tanaman primadona Madura. Harganya mahal sehingga banyak warga setempat bisa naik haji dan membangun rumah. Untuk membeli 10 liter minyak goreng, cukup menjual 0,8 kg tembakau. Harga satu kuintal beras setara harga 15 kg tembakau. Namun, sejak tahun 2000 hingga sekarang, kualitas dan harga termbakau rusak. Sebab itu, banyak orang Madura merantau (hlm 165–169).

Buku ini menyajikan banyak kajian peristiwa terkait sejarahnya sehingga pembaca akan memahami rangkaian kejadian secara utuh. Para guru diajak menulis agar ilmunya bisa dibaca masyarakat. 

Diresensi Finsa Adhi Pratama, Guru SMP IT Insan Permata, Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment