Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments
PERADA

Otoritas Yesus dalam Memberi Pengampunan

Otoritas Yesus dalam Memberi Pengampunan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul      : Keunggulan Kristus dan Kerajaan Allah

Penulis   : Andrew Brake

Penerbit : STT Jaffray

Cetakan  : 2019

Tebal      : 344 halaman

ISBN       : 978–602- 520-6009

Ada sebuah epidemi yang sedang menjangkiti dunia saat ini. Di­alah suatu penyakit yang jika dibiarkan tidak disembuhkan atau tidak dirawat dapat mendatangkan bencana. Epidemi ini berupa rasa tidak bersalah dalam diri seseorang dan kurangnya pe­nyesalan terhadap dosa-dosa. Banyak orang bahkan tidak merasa berdosa.

Sejatinya kita adalah orang-orang berdosa dan membutuhkan pengam­punan. Kita adalah orang-orang yang memalukan dan memerlukan pengam­punan Yesus. Menurut buku ini, orang-orang Farisi tidak senang tentang hal ini. Mereka menuduh Yesus mengeklaim otoritas untuk mengampuni dosa, pa­dahal menurut mereka hanya Allah-lah yang bisa melakukan.

Secara retoris, Yesus menanggapi orang Farisi. Yesus kemudian menyem­buhkan orang lumpuh secara fisik. Kesembuhan itu bukan suatu kebetul­an. Orang lumpuh bisa menerima ke­sembuhan fisik sebagai pertanda bahwa dosa-dosanya telah diampuni.

Tetapi, kesembuhan tersebut me­rupakan suatu teguran bagi orang-orang Farisi. “Jika Yesus dianggap telah mengklaim otoritas Allah ketika Dia mengampuni dosa-dosa orang, Allah pasti tidak akan memberinya otoritas untuk melakukan perbuatan yang lebih rendah ini,” tulis buku (hlm 16).

Orang banyak kagum pada kejadian yang mereka saksikan karena laki-laki lumpuh itu bisa bangkit, pulang, dan dosa-dosanya telah diampuni. Yesus adalah seorang yang memahami sam­pai ke akar masalah yang dalam budaya apa pun sebagaimana dialami dalam hati orang yang lumpuh ini, dia mem­butuhkan pengampunan dosa.

Dalam kisah Matius bab 9, Yesus bertemu Matius, pemungut cukai yang akhirnya menjadi penulis Injil. Matius adalah seorang pemuda cukai berarti seorang pemeras rakyatnya sendiri. Dia menjadi sangat kaya, tetapi kekayaan kotor. Namun, Yesus tidak melihat Mat­ius sebagai seorang kaya yang kotor. Dia memandangnya sebagai seorang ber­dosa yang membutuhkan pengampu­nan. Sebuah panggilan baru dan kejut­an yang terhebat bagi Matius sehingga mengikuti Yesus.

“Yesus tidak datang menyingkirkan yang kotor. Dia datang untuk mem­bersihkan yang kotor. Dia tidak datang untuk menyingkirkan yang berdosa. Dia datang untuk mengampuni dosa,” (hlm 42). Yesus tak hirau betapa banyak dosa yang kita miliki. Dia akan tetap mengampuni. Betapa besarnya kasih Yesus untuk bersedia membersihkan dosa apa pun yang kita miliki.

Herannya, orang-orang Farisi tetap menolak kasih Yesus walaupun sudah menyaksikan beragam mukjizat-Nya. Yesus dengan tegas menegur mereka, “Jadi pergilah dan pelajarilah!” Arti fir­man ini, Yesus menghendaki belas kasi­han, bukan persembahan. Pemimpin agama yang membanggakan diri pe­ngetahuan Alkitab masih harus banyak belajar.

Mereka lupa, Allah yang mereka imani adalah Allah yang penuh belas kasih yang telah membebaskan me­reka dari Mesir. Dia memberi mereka hukum Taurat di gunung Sinai dengan rahmat-Nya, dan menyatakan diri-Nya dalam ratusan cara (hlm 167).

Dalam Lukas 7: 36-50 terdapat sebu­ah kisah ketika Yesus diurapi seorang pelacur. Dia membasahi kaki-Nya de­ngan air mata. Lalu mengusapnya de­ngan rambutnya. Rambut adalah lam­bang kecantikan kaum perempuan. Dia melakukan demikian karena didorong kerendahan hati yang sangat kuat. Si­mon, seorang Farisi, justru melihat dosa pelacur itu. Mengapa? Karena dia tidak bisa melihat dosanya sendiri dan tidak memahami pengampunan yang ber­laku bagi dirinya.

Yesus menegur orang Farisi ini karena tidak menunjukkan kasih, hormat dan rendah hati ketika Dia datang. Sedang­kan perempuan pelacur itu sebaliknya telah mencurahkan hatinya. Karena orang farisi ini tidak melihat dosanya, maka tidak tahu berterima kasih dan suka menghakimi. Yesus mengampuni dosa-dosa perempuan itu, tetapi tidak bisa mempunyai dosa Simon karena dia sendiri merasa tidak berdosa. n

Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment