Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Oh Ibu

Oh Ibu

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Beritanya menghempaskan kepercayaan, juga menghancurkan anggapan bahwa cinta dan kasih sayang ibu “sepanjang jalan”, seumpama sinar matahari, “selalu memberi tak harap kembali”.

Dan segala yang mulia. Itulah sosok ibu dalam berbagai gambaran. Dan tetap begitu, walau ada berita pilu. Seorang ibu, CC, 27 tahun, tinggal di Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jawa Barat, melaporkan dirinya membunuh anaknya, Ismail, yang berusia tiga bulan.

Sang bayi ditelungkupkan di ranjang, ditutup bantal, dan bantal diduduki selama satu jam. Awalnya Ismail menangis, sampai kehabisan napas. Bayi yang meninggal itu dibalikkan, diselimuti, tetesan darah di hidung dilap, seolah sedang tidur.

Ayah bayi, Pak Enjang, 46 tahun, tak tahu anaknya meninggal sampai polisi datang memberi tahu. Ia baru pulang kerja Senin (21/1017) sore itu, dan menyimpan makanan sebagai oleh-oleh. Tak ada prasangka apa-apa.


Beritanya memilukan dalam arti yang sebenarnya. Muncul berbagai tanya; kenapa itu terjadi. Kenapa seorang ibu begitu tega—juga begitu tenang, kalau dilihat menduduki bayinya selama satu jam dan mendengar tangis anaknya—dan kemudian melaporkan ke polisi. Dan sesudah itu semua, seakan baru “nyadar”, dan syok. Demikian juga suaminya, yang belum lancar diajak bicara.


Biasanya—meskipun ini bukan berita biasa, karena faktor ekonomi. Sedemikian menghimpit persoalan ekonomi yang menekan sehingga menghasilkan keputusasaan, menghadapkan pada jalan buntu.

Dan tindakan yang nantinya akan disesali. Kini hal itu sedang dalam pemeriksaan. Faktor lain yang biasa dikaitkan dengan itu adalah kondisi kejiwaan yang disebut sebagai baby blue, yaitu keadaan orang tua, terutama ibunya, yang mengalami duka mendalam.

Duka karena merasa tak mampu mengasuh, duka karena dirinya tak secantik sebelumnya, duka karena lelah menghadapi pekerjaan dan tanggung jawab dan menumpuk dan secara tiba-tiba menjadi bebannya.

CC, yang tinggal di Desa Sendang Palay, bukan di pusat kota, bisa jadi mengalami ini. Atau kedua dorongan tadi bersamaan. Atau sebab lain.


Beritanya akan lengkap dengan tambahan keterangan tadi. Karena dengan demikian, kita merasa tahu peta besar kejadian, latar belakangnya, dan dari sini, belajar mengetahui sebabnya, untuk dihindari.

Karena “ibu membunuh anaknya” adalah berita mengerikan, merobek apa yang selama ini dipercaya.


Beritanya dengan latar belakang penjelasan perlu diungkapkan. Bukan berlanjut pada pemakaman anak bayi, si ibu dipenjarakan, lalu disidang, lalu berbagai penderitaan, juga yang dialami suami ibu yang oh ini. Seruan oh adalah seruan yang menyayangkan, seruan seyogianya tidak terjadi.


Berita Ibu CC adalah bagian gelap dari kehidupan—yang tak dimaui walau dilakukan, yang perlu diungkap lebih lengkap, agar apa yang berlangsung ini adalah “sesuatu yang tak biasa” dan tak pernah menjadi biasa.


Ibu adalah simbol dan juga sekaligus kenyataan jelas tentang kasih sayang yang utuh. Sejak mengandung pun sudah banyak pantangan atau anjuran—ada puluhan versi harus ini, tidak boleh begitu, di berbagai daerah.

Juga urutan perhatian mulai kelahiran sampai bayi berukur lima hari, 35 hari, setahun, dan seteruuuuuuuuuuusnya. Air susu ibu—yang bahkan tak dimiliki lelaki walau sama-sama mempunyai puting—contoh cinta kasih, contoh memberikan nyawa untuk anaknya. Untuk generasi berikutnya. Untuk kehidupan selanjutnya.


Itu yang tak boleh luntur—apalagi hilang, dari sosok seorang ibu. Alam mengajarnya begitu. Seperti juga induk ular yang mengerami telurnya sampai menetas, segera meninggalkan bayinya.

Karena ibu ular yang sangat kelaparan, “mudah tergoda” untuk memakan anak-anaknya sendiri. Dan dengan pengorbanan itu, kehidupan berlanjut.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment