Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
WAWANCARA

Nuhfil Hanani

Nuhfil Hanani

Foto : Koran Jakarta/ Selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font
Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir melantik Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani, di Gedung Widyaloka UB, Malang, Jawa Timur, Rabu (23/5). Sebelumnya dalam perhitungan suara rapat pleno tertutup, Nuhfil meraih 159 suara, mengungguli petahana M Bisri yang mendapat 93 suara, dan 4 suara oleh Osfar Sofjan.

Diharapkan pimpinan UB dapat menerapkan tata kelola UB yang lebih baik demi menuju universitas kelas dunia. Guru besar Fakultas Pertanian UB pada program studi ekonomi pertanian ini juga menjabat sebagai salah satu anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Nasional.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan jajaran pimpinan UB dalam mengembangkan universitas ini, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Rektor UB, Nuhfil Hanani, di ruang kerjanya, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa fokus yang akan Anda laksanakan sebagai rektor?

Sesuai visi dan misi yang dicanangkan, saya harus membangun UB menjadi perguruan tinggi berstandar internasional, termasuk harapan Menristekdikti yang ingin UB masuk jajaran world class university. Jadi sudah nyambung arahnya. Ke depan, kami juga ingin menjadi world class enterpreaneur university. Daya saing yang harus dicapai pada masa saya adalah daya saing level Asia. Sekarang kami ada pada rangking 800 plus, ke depan perlu digenjot sampai 700 plus, bahkan 600 plus.

Upaya apa yang dilakukan untuk meraih tersebut?

Kuncinya, pendidikan berstandar internasional. Pertama, program studi yang ada harus terakreditasi secara internasional. Ini sangat penting. Kami juga menjalankan kelas internasional, lalu ada program 3 in 1. Program ini mendatangkan pengajar berupa praktisi dan dosen dari luar negeri, nanti satu mata kuliah diajarkan oleh tiga dosen, dosen internal UB, dosen praktisi, dan dosen dari luar negeri.

Langkah lainnya?

Kami juga melakukan join supervisi (bimbingan skripsi bersama) dengan perguruan tinggi asing. Kemudian di bidang research, kami harapkan bisa menjadi penelitian berskala internasional. Kolabirasi penelitian yang dilakukan tidak hanya dengan perguruan tinggi asing, tapi juga lembaga penelitian internasional. Kami juga akan memperbarui laboratorium yang ada. Penelitian-penelitian tersebut nanti ujungnya paten dan publikasi tingkat internasional.

Publikasi kami genjot. Semua dosen kami beri reward materi maupun insentif-insentif lain. Mulai mahasiswa pasca sarjana sampai guru besar, jurnalnya harus scopus (terindeks internasional). Untuk guru besar ada insentifnya. Beberapa fakultas juga sudah punya jurnal scopus. Harapannya, publikasi kami di skop internasional meningkat, termasuk dengan merangsang dosen-dosen ikut seminar di luar negeri

Sebagai langganan juara umum Pimnas, apa rahasia dan langkah yang diambil untuk mempertahankan?

Kami memang sudah meraih gelar juara umum enam kali, dengan tiga kali berturut-turut. Jadi, sejak awal kami memang menggali kemampuan para mahasiswa, dibekali, dan ditambahkan unsur akademik, kemudian difasilitasi bahkan dipatenkan penelitian mereka. Mereka diberi penghargaan akademik maupun finansial, termasuk pada dosen-dosen pembimbingnya. Baik di level universitas, fakultas, sampai program studi.

Bagaimana dengan harapan agar perguruan tinggi menghasilkan tenaga siap pakai dalam dunia kerja?

Dengan salah satu visi UB world class enterpreaneur university, kami ingin mahasiswa bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Setiap fakultas UB sudah punya lembaga untuk mendidik mahasiswa ke arah itu. Di samping itu Dikti juga sudah menyalurkan dana pengembangan wirausaha mahasiswa (PMW). Memang nanti tidak semua yang lulus akan berwirausaha. Guyonannya, lima persen dari 60 ribu (yang berwirausaha) sudah luar biasa.

Selain program-program itu, kami genjot lewat kerja sama dengan BUMN, perbankan atau lainnya. Ternyata mereka punya program serupa sehingga kami pertemukan. Jadi mereka bisa menjadi wirausahawan muda. Dosennya juga kami arahkan untuk membina agar para lulusan bisa menjadi wirausaha. Jadi secara akademik ada lewat pelajaran kewirausahaan, praktiknya ada, lembaga yang menangani juga ada. Pemerintah ikut membina, sehingga ke depan diharapkan semakin banyak.

Saran untuk memajukan pertanian nasional?

Indonesia punya plasma nutfah (pembawa sifat keturunan varietas) nomor dua di dunia setelah Brasil. Contohnya jagung dan kedelai yang jenisnya beranekaragam. Untuk pangan, Indonesia bisa nomor satu di dunia. Maka ke depan, pembangunan pertanian perlu diarahkan menuju bioindustry. Jadi industri berbasis bio, bukan hanya agribisnis, tapi pertanian bisa juga untuk farmasi, kosmetik, energi, macam-macam. Bisa ke mana-mana, dan saya seyakin-yakinnya kita bisa.

Contohnya kakao, kita yang terbaik nomor tiga di dunia, tapi pengolahannya kalah dengan Eropa. Parfum dan kosmetik juga demikian, padahal Eropa tidak punya lahan sedangkan kita punya banyak bahannya. Untuk energi, bio disel juga bisa kita kembangkan.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, riset-riset untuk pengembangan bioindustry menjadi sangat penting. Keberpihakan pemerintah untuk ini sangat dibutuhkan. Sehingga pertanian ke depan tidak lagi tradisional, tapi lebih modern.

Terkait keberpihakan pemeringah pada petani, bagaimana Anda melihat kebijakan impor?

Sebetulnya keberpihakan pemerintah sudah cukup bagus, tapi sekarang masih pada peningkatan produksi sektor primer seperti padi, jagung, dan kedelai. Tapi ke depan yang lain harus dikembangkan juga. Ke depan hortikultura menjadi kunci, apakah bunga-bungaan, buah-buahan, atau tanaman bio famaka. Untuk buah-buahan saja luar biasa, jeruk ada ratusan jenis, bunga-bungan luar biasa. Hortikultura masa depan kita, potensi Indonesia ada di situ.

Dunia berada di ambang perang dagang dan rupiah terdepresiasi. Bagaimana Anda melihat dampaknya pada biaya impor yang makin mahal?

Kalau rupiah lemah, orang cenderung ekspor, impornya berkurang. Ini untuk sektor pertanian malah bagus. Jadi peluang. Ini harus dijadikan rangsangan agar ke depan kita mengekspor. Tidak selalu penurunan nilai tukar itu buruk. Peluang ekspor tinggi, hanya pertanyannya bagaimana nanti untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Perlukah kebijakan impor pangan dievaluasi?

Pasar devisa yang menentukan, kalau kita banyak mengeluarkan devisa, semakin besar capital outflow, rupiah melemah. Menurut saya strateginya tidak hanya di sektor pertanian saja, strategi makro menjadi sangat penting. Bahkan aspek psikologi ikut andil.

Tanggapan turunnya minat generasi muda untuk bertani?

Memang di Indonesia secara umum seperti itu, tapi di UB peminat jurusan pertanian tidak turun malah naik terus. Tahun lalu pendaftarnya delapan ribu orang dengan yang hanya diterima seribu orang. Maka itu modernisasi pertanian sangat penting. Kalau modern, orang tidak akan malu lagi bekerja sebagai petani, contohnya di Korea Selatan, Jepang, dan Thailand.

Mereka bekerja dengan alat-alat modern seperti traktor, kemasannya bagus. Semuanya lancar. Berikutnya, pertanian harus punya nilai tambah yang tinggi, sehingga ada perubahan pada produk-produk yang dikembangkan. Contoh di luar negeri ada frozen spinach, hanya dengan membekukan bayam tapi sudah bisa masuk supermarket. Kreativitas petani perlu ditingkatkan.

Bagaimana dengan kredit perbankan yang lebih banyak tersalur ke sektor konsumtif daripada ke petani?

Pemerintah sebetulnya sudah membantu sektor pertanian, bunganya juga cukup rendah. Pemerintah sudah memberi kartu tani. Namun sekarang ini perbankan baru mau menambah input permodalan untuk menambah sarana produksi, kalau ada bukti produktivitas petani tinggi, kalau harganya cukup bagus. Selama itu tidak ditangani, akan sulit. Jadi kalau hanya perbankan diimbau tidak mungkin, pasti mereka harus melihat prospek lewat bukti.

Perlukah pemerintah membentuk badan khusus yang mengurusi soal pangan?

Sangat perlu sekali. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 memang mengamanatkan badan otoritas pangan dan itu pemerintah harus membentuk.

Alasannya?

Pangan itu bukan hanya urusan Kementerian Pertanian. Pangan itu mulai air, bahan-bahan, dan olahannya, termasuk keamanan pangannya lintas sektor, sehingga harus ditangani satu badan. Beberapa negara sudah melakukan, apalagi untuk Indonesia yang jumlah penduduknya sangar besar.

Bagaimana melihat perkembangan teknologi digital dan internet yang sekarang semakin dekat dengan kaum muda, termasuk mahasiswa?

Harusnya perkembangan itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Setiap malam di kampus UB ini marak dengan mahasiswa yang memanfaatkan jaringan wifi yang tersedia. Tidak seperti zaman saya dulu, untuk membuat skripsi, tinjauan pustaka, dan tesis sulitnya setengah mati.

Sekarang tinggal download dari mana saja. Semestinya nanti lulusannya lebih baik. Pembelajarannya juga begitu, pendidikan ke depan, contohnya di fakultas pertanian kita akan melakukan video conference dengan dosen dari Jepang, diskusi bersama, luar biasa.

Pemanfaatan dunia digital untuk wirausaha mahasiswa?

Di fakultas pertanian telah ada program Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian. Jaringannya sudah sampai seluruh Indonesia, kalau membutuhkan suatu produk tinggal memanfaatkan jaringan yang ada. Awalnya kita didik beberapa orang, sekarang sudah berkembang menjadi 40 unit, lengkap dengan e-commerce di seluruh daerah, dengan empat sampai lima orang di setiap unit. Ke depan pasar akan berubah menjadi e-commerce, pasar digital. Jadi kita hanya duduk di rumah saja sudah bisa bertransaksi. Tinggal mahasiswanya mau menekuni apa tidak.

Bagaimana Anda menilai munculnya radikalisme di kalangan mahasiswa?

Saya pribadi menilai memang ada, tapi tidak banyak. Seharusnya kalau ada yang dari SMA punya bibit radikal, masuk perguruan tinggi mestinya hilang, berubah. Karena perguruan tinggi akan menghasilkan lulusan yang matang, cerdas, berintegritas, paham agama, dan lain-lain. Penyimpangan atau kasus-kasus kecil yang ada harus kita bina, agar mahasiswa mengerti tugasnya, cinta negaranya, punya keterampilan, dan punya jiwa kepemimpinan, sehingga tidak radikal. Lembaga perguruan tinggi arahnya harus ke sana.

Upaya pencegahan?

Disamping pendidikan reguler, mahasiswa juga kami berikan materi keterampilan. Ada keterampilan soft skill yang melekat dalam kepribadian, seperti leadership, jujur, dan sebagainya.

Anda punya soal visi, beriman, berilmu, beramal dengan ikhlas dan adil. Bisa dijelaskan?

Menjadi pimpinan itu sering dikatakan harus adil, kepada siapa saja, termasuk dengan orang yang tidak suka pada kita, seperti dianjurkan agama. Memang seseorang harus punya iman, setelah beriman harus mencari ilmu. Setelah berilmu harus mengamalkan ilmunya. Jadi itu memang sesuai ajaran agama.

Kalau mengamalkan ilmunya juga harus adil, sehingga kita menjadi manusia tidak hanya bermanfaat pada diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat. Harapannya, lulusan kita juga seperti itu. Makin berilmu, imannya baik, sehingga bisa diamalkan. Memang demikian, seperti kata orang Jawa, hidup itu sekadar mampir, kehidupan yang sebenarnya nanti di alam sana.

Kegiatan selain mengajar?

Selama saya jadi dekan atau sekarang rektor, tetap seperti biasa saja. Bertetangga yang baik, bersosialisasi, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Hobi?

Dulu hobi saya membaca koran, buku, dan lain-lain. Sekarang sudah lewat internet semua. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment