Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments

NU dan Muhammadiyah Membangun Demokrasi

NU dan Muhammadiyah Membangun Demokrasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Dua Menyemai Damai

Penulis : M Najib Azca dkk

Penerbit : PSKP UGM

Cetakan : Januari 2019

Tebal : xxxi + 252 halaman

ISBN : 978-602-6205-35-3

Setiap hari rakyat menyaksikan pemberitaan beberapa negara muslim Timur-Tengah selalu berkubang konflik dan peperangan yang tampaknya belum akan berhenti. Tak terhitung korban jiwa dan kerusakan material lainnya. Situasi tersebut juga memicu kian menguatnya kelompok ekstremis Islam yang bertindak brutal. Konsekuensinya, wajah Islam yang terhampar di aras global menghadirkan kesuraman. Tak pelak, pada saat bersamaan, islamofobia di barat pun mengalami gelombang pasang.

Maka, amat mendesak menampilkan wajah Islam Indonesia yang peaceful, demokratik dan berkeadaban. Upaya tersebut juga bagian untuk menjungkirbalikkan pandangan sejumlah ilmuwan barat yang beranggapan, Islam tidak selaras dengan demokrasi. Pengalaman Indonesia menunjukkan sebaliknya. Kesuksesan transisi dan konsolidasi demokrasi pascareformasi, sebagaimana disuguhkan di buku ini, ditopang organisasi Islam: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Buku ini terdiri dari 4 bab yang berisi eksistensi dua organisasi tersebut begitu signifikan mewarnai artikulasi Islam Indonesia sebagai bagian perwujudan penafsiran sumber ajaran Islam dan spirit perjuangan yang berbeda. Muhammadiyah (berdiri 1912) mengemban spirit modernisme atau pembaruan (Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho - ulama Mesir).

Sedangkan NU (berdiri 1926) lebih menekankan spirit tradisionalisme yang merawat warisan Islam lampau dan berkecenderungan adaptif terhadap kearifan lokal (hal 8). Perbedaan karakteristik itulah yang sangat mempengaruhi perjalanan panjang keduanya dalam politik kebangsaan.

Bab 2 dan bab 3 mengisahkan pengalaman Muhammadiyah dan NU dalam bingkai pembangunan demokrasi serta perdamaian. Keduanya dari sisi historis, tak diragukan lagi kontribusinya dalam pembangunan mulai dari perjuangan kemerdekaan, dan pembentukan negara dalam berbagai rezim. Secara sosiokultural, Muhammadiyah lebih mengedepankan program pelayanan sosial seperti pendidikan, filantropi, dan kesehatan. Belakangan membentangkan sayapnya ke berbagai sisi seperti advokasi HAM, kebencanaan, reformasi tata kelola sumber daya alam, resolusi konflik, dan perdamaian (hal 31).

NU juga berperan signifikan dalam pendidikan (pesantren), filantropi, keberpihakan pada minoritas, kepedulian lingkungan dan sumber daya alam. Dia meredam arus ekstremisme keagamaan, terlibat aktif dalam resolusi konflik dan bina damai. Meskipun dalam beberapa hal terlihat sama dengan program Muhammadiyah, NU lebih mengedepankan mekanisme pengelolaan secara kultural.

Dari berbagai program itu, keterlibatan Muhammadiyah dan NU secara intensif dalam resolusi konflik serta perdamaian di level nasional, regional, atau global baru muncul belakangan. tiap-tiap organisasi ini saling berbagi peran. Muhammadiyah lebih fokus pada bantuan kemanusiaan seperti pengiriman bantuan pengungsi Rohingya, Palestina, Mindanao, Pattani dan lainnya. Sedangkan NU mengedepankan pendekatan diplomatik terhadap pihak yang sedang bertikai seperti ikut serta dalam menyelesaikan konflik di Afghanistan atau Timur Tengah.

Meskipun telah memaparkan secara gamblang kontribusi Muhammadiyah dan NU, buku tak mengulas dinamika dan kontestasi internal hingga memunculkan friksi di tiap-tiap organisasi. Tak hanya dari sisi internal, bahkan kontestasi antarorganisasi pun kerapkali sulit dihindarkan. Padahal peran dan kontribusinya dalam pembangunan demokrasi-perdamaian juga tak lepas dari kontestasi tersebut.

Kontestasi itu tak serta-merta meluruhkan agenda utama keduanya dalam menghadirkan wajah Islam yang peaceful, demokratik, dan berkeadaban. Mereka diharapkan dapat menjadi acuan negara muslim lainnya di tengah terik krisis kemanusiaan yang tiada berkesudahan. 

Diresensi Joko Arizal, Dosen Universitas Paramadina

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment