Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
Kualitas Kredit - Kebijakan Moneter Diprioritaskan untuk Stabilitas Nilai Tukar

NPL Bank Tetap Terkendali

NPL Bank Tetap Terkendali

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Sinyal kenaikan suku bunga yang disampaikan Bank Indonesia (BI) diperkirakan tidak akan langsung diikuti kenaikan suku bunga simpanan dan kredit.

JAKARTA- Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/NPL bank akan tetap terkendali meskipun Bank Indonesia (BI) melanjutkan kenaikan suku bunga acuan BI 7 days RR Rate. Optimisme NPL tersebut tetap stabil karena pendapatan dunia usaha meningkat seiring dengan kenaikan harga komoditas di pasar global.

Kenaikan harga komoditas tersebut menyebabkan pendapatan perusahaan yang berbasis komoditas lebih tinggi dari sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang stabilnya perekonomian Indonesia. “Mereka semangat untuk memproduksi lagi, bayangkan kalau harga jualnya meningkat, pasti margin keuntungan besar,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, di Jakarta, pekan lalu.

Tren NPL akhir-akhir ini, jelas Wimboh, menurun dan per Mei 2018, tercatat sebesar 2,6–2,7 persen atau turun jika dilihat secara bulanan di mana per April 2018 mencapai 2,79 persen. “Trennya sudah menurun sebanyak tiga kali, karena ekonomi kan mulai menggeliat. Harga batu bara sudah mulai meningkat,” kata Wimboh.

Sebab itu, otoritas jelasnya belum akan mengubah target pertumbuhan kredit pada tahun ini sebesar 12 persen atau lebih tinggi dibanding tahun lalu sebesar 8,1 persen. Target OJK itu akan dicapai melalui beberapa pogram di antaranya lebih memfasilitasi bank untuk mendorong pertumbuhan kredit melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, juga akan fokus di beberapa sektor yang berorientasi ekspor, seperti pariwisata, perikanan, perkebunan, dan pertambangan. Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan usai The Fed menaikkan suku bunga acuan pqda pertengahan bulan ini sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,00 persen setelah menaikkan dua kali suku bunga acuan masing-masing 25 bps pada Mei 2018 ke level 4,75 persen.

 

Stabilisasi Kurs

 

Sebelumnya, BI menyatakan keputusan menaikan suku bunga merupakan bagian dari langkah kebijakan jangka pendek bank sentral yang memprioritaskan kebijakan moneter pada stabilitas khususnya untuk nilai tukar rupiah.

Pertama, respons kebijakan suku bunga akan tetap ditempuh secara pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, di samping tetap konsisten dengan upaya menjaga inflasi 2018–2019 agar terkendali sesuai sasaran 3,5±1 persen. Kedua, intervensi ganda (dual intervention) di pasar valas dan di pasar surat berharga negara (SBN) terus dioptimalkan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, penyesuaian harga di pasar keuangan secara wajar, dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang.

Ketiga, strategi operasi moneter diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan pasar swap antar bank. Keempat, komunikasi yang intensif khususnya kepada pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional sehingga dapat memitigasi kecenderungan nilai tukar rupiah yang terlalu melemah (overshooting) dibandingkan dengan level fundamentalnya.

Disebutkan bahwa tekanan terhadap stabilitas khususnya nilai tukar rupiah lebih karena perubahan kebijakan di AS yang berdampak ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Semakin membaiknya perekonomian dan meningkatnya inflasi di AS akan mendorong peningkatan suku bunga the Fed, yang oleh sebagian pelaku pasar keuangan diperkirakan dapat lebih agresif menjadi empat kali kenaikan dalam tahun ini. 

 

bud/E-9

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment