Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Perdagangan Luar Negeri

Nilai Ekspor Jateng Tumbuh 13,9 Persen

Nilai Ekspor Jateng Tumbuh 13,9 Persen

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

SEMARANG – Kinerja ekspor di Jawa Tengah (Jateng) pada Januari lalu tumbuh 13,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sayangnya, pertumbuhan tersebut belum mampu menyelematkan neraca perdagangan Jateng dari defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat nilai ekspor Jateng pada Januari 2019 mencapai 763,69 juta dollar AS, meningkat dibandingkan pada Desember 2018 sebesar 674,67 juta dollar AS. Meskipun neraca perdagangan Jateng masih mengalami defisit karena nilai impor masih jauh lebih tinggi, kenaikan ekspor itu dinilai bisa menjadi awal yang baik bagi perekonomian di Jateng.

Menurutnya, kenaikan ekspor itu setidaknya memperkecil defisit neraca perdagangan. Pada 2018, neraca perdagangan Jateng sempat surplus pada Mei. “Peningkatan ekspor pada Januari ini justru didorong dari sektor nonmigas, di mana produksi pakaian jadi dan kayu atau barang dari kayu menjadi penyumbang terbesar angka ekspor di Jateng,” papar Sentot Bangun W di Kota Semarang, Jawa Tengah akhir pekan lalu.

Sektor non-migas mencatat kenaikan angka ekspor pada Januari menjadi 760,59 juta dollar AS, dari bulan sebelumnya sebesar 670,9 juta dollar AS. Sementara sektor minyak dan gas pada Januari justru mengalami penurunan menjadi 3,1 juta dollar AS, dari bulan sebelumnya mencapai 3,77 juta dollar AS.

“Ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya adalah memang sumber migas Jateng hanya terpusat di satu titik, dan itu dioptimalkan untuk konsumsi di provinsi ini dan dalam negeri terlebih dahulu,” kata dia.

Pengusaha Optimistis

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi mengatakan, walaupun belum terlihat signifikan, pihaknya optimistis di bulan-bulan mendatang produksi industri di Jateng akan semakin meningkat, terutama garmen.

Namun, Jateng saat ini menghadapi kendala ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kurang maksimal. Hal itu kemudian memengaruhi produksi yang dihasilkan industri.

“Di beberapa daerah ada pabrik garmen yang juga masih anggota kami kekurangan tenaga kerja. Tingkat keluar masuk pekerjanya cukup tinggi, kami belum tahu faktor apa yang memengaruhi,” kata dia.

Optimistis ekspor akan meningkat dari bulan ke bulan seperti adanya langkah pemerintah menambahan pasar ekspor melalui program perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif, yaitu Comprehensive, Economic, Partnership, Agreement (CEPA).

CEPA saat ini sudah menjembatani kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara Uni Eropa. Frans membeberkan, tahun ini akan dijembatani juga Indonesia dengan negara Asia Tengah, Afrika, dan Australia. SM/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment