Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Data Ekspor-Impor

Neraca Perdagangan Surplus USD540 Juta

Neraca Perdagangan Surplus USD540 Juta

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 surplus 540 juta dollar AS, atau lebih tinggi dari posisi surplus pada Februari 2019 sebesar 330 juta dollar AS.

“Kalau kita gabungkan nilai ekspor dan impor, maka neraca perdagangan Maret mengalami surplus sebesar 0,54 miliar dollar atau 540 juta dollar AS,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/4).

Namun, pada periode Januari-Maret 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit 0,19 miliar dollar atau 190 juta dollar AS. Suhariyanto memaparkan, hal tersebut karena neraca perdagangan nonmigas masih mengalami surplus sedangkan neraca perdagangan migasnya masih defisit.

“Kita berharap bulan-bulan berikutnya akan mengalami surplus, karena pemerintah telah membuat kebijakan untuk memacu ekspor dan sebaliknya mengendalikan impor,” paparnya.

Dia juga mengemukakan situasi perekonomian global masih tidak mudah karena banyak negara sasaran ekspor utama Indonesia yang mengalami pelemahan permintaah sedangkan harga komoditas masih fluktuatif.

Sebelumnya, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Putu Rusta Adijaya menilai pemerintah patut mewaspadai neraca perdagangan yang surplus pada Februari 2018 sebesar 330 juta dollar AS. Menurut Putu Rusta Adijaya, surplusnya neraca perdagangan dipicu oleh menurunnya jumlah impor, terutama impor bahan baku dan penolong. Adanya proyeksi pelambatan ekonomi di Tiongkok dan perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) tentu menjadi fakor pendorong yang sangat kuat.

“Pelambatan ini terjadi karena adanya penurunan permintaan dari mereka. Padahal, ekspor merupakan sumber pertumbuhan ekonomi terbesar Tiongkok,” kata Rusta.

Dia mengatakan sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia, segala kebijakan yang diambil oleh AS akan sangat memengaruhi Indonesia. Saat ini, di bawah pemerintahan Donald Trump, AS terus menggencarkan ekspor di sektor migas dan mengurangi impor migas dari negara lain, termasuk Indonesia.

Ketidakpastian Global

Sementara itu akibat perang dagang, hubungan AS dan Tiongkok belum membuahkan kepastian angka surplus. Ketidakpastian global ini seharusnya mendorong kita untuk bisa mencari pasar ekspor lain untuk ekspor migas

Dia menyatakan pemerintah perlu mengintensifkan berbagai upaya untuk kembali meningkatkan nilai ekspor dalam negeri, salah satunya melalui diversifikasi pasar ekspor. “Sudah seharusnya kembali melihat potensi absolute advantage dan comparative advantage agar dapat melakukan diversifikasi ekspor. Diversifikasi ekspor ke negara tujuan nontradisional dapat dilakukan dengan memberikan insentif bagi eksportir,” paparnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution dalam sejumlah kesempatan mengingatkan pentingnya upaya agar neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan dapat lebih baik secara berkelanjutan.  Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment