Koran Jakarta | August 16 2017
No Comments

Natal dan Tahun Baru, Jatuh di Hari Minggu? Ya Rugilah…

Natal dan Tahun Baru, Jatuh di Hari Minggu? Ya Rugilah…

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Hari raya Natal tahun ini, seperti juga Tahun Baru nanti, jatuh pada hari Minggu.  Yaaaa, rugilah, teriak para cucu. Mungkin juga diteriakkan para menantu. Atau para ibu. Karena hari Minggu tetaplah hari libur, di kalendar tertera dengan warna merah. Stempel yang tak berubah. Sebagaimana Natal dengan Tahun Baru yang selalu memilih hari yang sama. Kesetiaan yang sama sejak  mereka berdua tercipta, dan tak ada tanda-tanda salah satunya memilih hari yang berbeda. Maka kalau Natal jatuh pada hari Minggu, Tahun Baru pun jatuh pada hari yang sama. Dikatakan merugikan karena sebenarnya kalau jatuh di hari lain bisa menambah jumlah hari libur. Paling ideal hari libur—apa lagi Natal dan Tahun Baru, jatuh di hari…Jumat atau Senin. Kalau jatuh hari Jumat, hari Kamis pun—baru setengah hari sekali pun—sudah bisa diperhitungan sebagai hari libur. Sedangkan kalau jatuh hari Senin, seakan tambahan terasakan melewati hari-hari Sabtu, Minggu, dan Senin—yang biasanya sibuk dengan “ upacara” yang sudah tetap. Melewatinya berarti “kemenangan”. Dan liburan menjadi sempurna.

Benarkah demikian?

Bisa saja benar kalau diperhitungkan saat ini. Meskipun menjadi relatif  kerugiannya kalau diperhtungkan tahun-tahun yang mendatang—atau yang telah dilalui, di mana ada Natal di hari Kamis atau Senin.   Agaknya demikianlah kita melewati waktu dan menandai pada saat-saat tertentu.  Bahwa sebenarnya rugi atau untung itu relatif. Rugi hari ini bisa berarti untung di kemudian hari. Atau tergantung bagaimana memaknainya.  Seberapa jauh menjadikan hidup bermakna. Bukan bagaimana  memakai warna merah-hijau—yang biasanya melekat menjadi warna Natal, selain warna putih salju, atau membunyikan terompet—yang biasanya ditiupkan di malam Tahun baru. Bahkan, ekstrimnya, merayakan atau tidak merayakan sama sekali.

Benarkah bisa demikian?

Bisa saja menjadi benar kalau diperhitungkan saat ini. Saat di mana bagaimana sosok Santa—topinya atau kaus kaki atau ungkapan hoho-hoho—dipertanyakan kalau dilakukan kalau bukan orang Kristiani. Menjadi relatif kalau dilihat tahun-tahun sebelumnya tak begitu-begitu amat. Dan , setidaknya berharap, tahun-tahun berikutnya tidak seperti sekarang ini.

Dalam perspektif inilah sebenarnya  relativitas menjadikan lumernya ketegangan, bahwa apa yang terjadi saat ini “bukan kepastian’ sebagaimana sama pasti harinya antara Natal dan Tahun Baru. Bahwa hal-hal yang menyertainya bisa berubah. Berubah ke arah yang lebih dan atau lebih buruk.

Dan semua ini kembali kepada kita yang merayakan—atau tidak merayakan, dan pergumulan dari itu. Pergumulan  yang dalam istilah yang pernah saya  pergunakan sebagai “kreativitas kompromi.” Kreativitas yang seolah tanpa batas—untuk menciptakan  apa saja, atau memperbarui ciptaan apa saja, akhirnya menemukan bentuknya yang pas dalam kompromi kepentingan-kepentingan bersama. Yang pada akhirnya adalah keberamaan, yang adalah toleransi , adalah tepa-slira, saling menghargai. Dan atau rumusan mana pun yang bisa dimaklumi secara bersama pula.

Dinamika yang terjadi demikian adanya, dan selalu ditemukan keseimbangan baru, tanpa harus merasa rugi atau untung di hari Minggu—atau hari apa pun.

               

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment