Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Nasihat Perikehidupan untuk Bangsa Indonesia

Nasihat Perikehidupan untuk Bangsa Indonesia
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Cinta Negeri Ala Gus MusPenulis : M. Zidni Nafi’

Penerbit : Imania

Cetakan : Pertama, Januari 2019

Tebal : 249 halaman

ISBN : 978-602-7926-46-2

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) adalah ulama yang memiliki pandangan sangat mengagumkan dan kontroversial dalam berbagai aspek kehidupan. Dia memiliki keahlian yang jarang dimiliki kiai lain. Tidak heran, namanya menjadi perbincangkan publik. Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin ini juga dikenal sebagai seniman, penyair, sastrawan, dan pelukis.

Buku ini berisi pesan dan nasihat-nasihat untuk Indonesia. Buku ini tidak hanya membahas tentang pandangan keagamaan, keindonesian, tapi juga kepemimpinan, politik, pendidikan, kebudayaan, dan kearifan lokal. Misalnya, dalam masalah keagamaan, kita harus rukun, tolong-menolong dengan tetangga. Jangan karena masalah kecil, langsung meributkan masalah dalil. Kita harus bangga dengan identitas, tradisi, dan budaya bangsa Indonesia.

Kita juga harus menyadari tantangan-tantangan besar ke depan dan bersikap sebagai muslim Indonesia yang teguh mempertahankan tradisi serta budayanya (hal 26). Arab Saudi dan Indonesia memang menganut agama yang sama. Namun perlu kita catat, masing-masing memiliki kekhasan budaya sendiri.

Untuk disebut Islam, orang tidak harus memakai jubah, serban, dan berjenggot. Rasulullah memakainya karena merupakan tradisi Arab. Bahkan Abu Jahal juga berpakaian sama. Bedanya, Rasulullah wajahnya sarat senyum, Abu Jahal wajahnya pemarah (hal 27).

Dalam berdakwah harus meneladani cara Rasulullah, memulainya dengan memberi contoh dalam perbuatan, bukan sekadar perkataan. Sebagaimana yang terjadi saat ini, banyak orang mengaku berdakwah, mengajak kepada Islam, tapi dia sendiri menjauh dari akhlak. Dia bukannya memberi contoh moral, malah mengajarkan untuk membenci sesama, lalu mengobarkan permusuhan kepada siapa saja di luar kelompoknya.

Untuk masalah kepemimpinan, Gus Mus mengingatkan, pemimpin harus meniru Rasulullah. Pemimpin yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini bisa dicintai dan mengayomi rakyatnya. Pemimpin harus mencintai masyarakatnya. Dia harus amanah, dapat dipercaya, dan kuat.

Ketika pesta demokrasi berlangsung, alangkah baiknya para pendukung tidak saling menjelekkan calon pemimpin. Cara paling baik untuk memengaruhi orang agar ikut mendukung dengan menonjolkan kebaikan-kebaikan calon pemimpin, bukan memburuk-burukkan saingan. Sebab, dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan, akan dibalas dengan langkah sama. Dengan demikian, kedua calon pemimpin akan terlihat buruk semua di mata masyarakat (hal 81).

Gus Mus menyerukan agar warga kembali sadar sebagai orang Indonesia. Penyadaran itu tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga lewat tindakan. Penyadaran sebagai orang Indonesia ini sangat penting di tengah ketidaksadaran orang-orang akan identitas bangsanya. Kalau sadar sebagai orang Indonesia, kita akan merawat dan memberi kontribusi. Misalnya, dalam memberantas korupsi, penggelapan pajak, dan isu energi akan menjadi perhatian umum (hal 109).

Dia juga menekankan pentingnya memahami arti pengajaran dan pendidikan. Dua kata tersebut, memiliki makna dan tujuan berbeda. Dalam model tarbiyah (pendidikan), penerapan akhlak jadi prioritas. Sedangkan penguasaan ilmu tidak terlalu dipentingkan. Sebaliknya, dalam model taklim (pendidikan), yang penting anak pintar, tak dipikirkan akhlak.

Akibatnya, banyak murid pintar, tetapi berkelakuan tidak bermoral. Maka, pendidikan nasional harus dipadukan antara pendidikan pesantren dan sekolah agar saling melengkapi. Lulusan harus pandai dan berakhlak baik (hal 135). Diresensi Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment