Nasib Tragis “Hope” Jadi Sorotan “The New York Times” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Nasib Tragis “Hope” Jadi Sorotan “The New York Times”

Nasib Tragis “Hope” Jadi Sorotan “The New York Times”

Foto : istimewa
74 TEMBAKAN - Hope adalah orangutan bersama anaknya yang ditemukan warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, Maret 2019. Di tubuh orangutan ini terdapat 74 tembakan peluru. Nasib tragis satwa liar yang dilindungi itu mendapat sorotan media asing.
A   A   A   Pengaturan Font

Nasib tragis yang dialami orangutan Hope dan bayinya di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, Maret 2019, menjadi perhatian The New York Times. Koran asal Amerika Serikat (AS), Jumat (5/7), memasang foto orangutan yang terkena 74 tem­bakan itu sebagai foto utama di halaman depan, disertai dengan sebuah tulisan yang berjudul A Mother Shot 74 Times.

Dua satwa liar dilindungi itu terpaksa dievakuasi dalam kondisi terluka dari area perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Bunga Tanjung. Evakuasi orangutan Suma­tera (Pongo abelii) itu dilakukan oleh personel Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Seksi Wilayah 2 Subulus­salam bersama mitra Wildlife Conservation Center Indonesia Program (WCS-IP) dan Orang­utan Information Centre (OIC) pada Minggu (10/3).

Setelah diperiksa, di tubuh sang induk terdapat 74 peluru senapan angin. Selain 74 peluru bersarang di tubuhnya, Hope juga mengalami patah tulang tangan dan kaki kanan serta jari. Di bagian punggung­nya terdapat lobang yang su­dah bernanah akibat bacokan benda tajam

Sementara itu, anak sang induk yang masih berumur satu bulan terlihat kekurangan nutrisi. Keduanya dibawa ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara. Namun dalam perjalanan, anak orang utan mati, diduga karena malnutrisi.

Hope adalah korban ke­empat yang terkena senapan angin di Provinsi Aceh sejak 2010. Peristiwa pertama terjadi di Aceh Tenggara, lalu kedua di Aceh Selatan, ketiga di Aceh Timur, dan terbaru di Subulus­salam. Orangutan itu diberi nama Hope (Harapan), sebagai doa untuk bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Makin Terancam

Hope dan anaknya adalah korban penembakan ketika warga di wilayah itu member­sihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Saat hutan dan rawa ditebangi untuk perkebunan kelapa sawit, keberadaan orangutan di Indonesia menjadi terancam. Agar selamat dari pembakaran lahan, orangutan terpaksa menyingkir di sekitar tempat-tempat kecil, di antara pepo­honan kelapa sawit.

The New York Times dalam ulasannya menyebut, Indone­sia dan Malaysia merupakan pemasok 80 persen dari minyak sawit yang bermanfaat untuk membuat minyak goreng, lipstik, cokelat, dan biofuel.

September tahun lalu, di tengah kekhawatiran ten­tang habitat orangutan yang terancam punah dan bahaya karbon emisi dari pembakaran massal lahan untuk perkebu­nan sawit, Indonesia ber­henti mengeluarkan izin untuk perkebunan baru. Namun, seperti kasus yang dialami Hope, kebijakan dari pemerin­tah nampaknya tidak berjalan di desa-desa miskin.

“Mereka mengatakan ada moratorium, tetapi saya dapat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tanah hilang setiap hari,” kata Krisna, koor­dinator untuk Unit Respons Konflik Orangutan Manusia. newyorktimes.com/SB/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment