Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Nakhoda Pertamina

Nakhoda Pertamina

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

PT Pertamina (Persero) sudah resmi memiliki direktur utama (dirut) baru yang beberapa bulan ini menjadi pelaksana tugas dirut. Dialah Nicke Widyawati yang menjabat Plt Dirut Pertamina sejak April lalu ketika Menteri BUMN, Rini Sumarno, memberhentikan Dirut Pertamina Elia Massa. Tidak jelas benar ketika itu alasan memberhentikan Elia. Masyarakat menduga salah satunya kebocoran pipa Balikpapan yang mencemari laut.

Selain manuver-manuver tanpa pembicaraan dengan pemerintah seperti mengurangi jatah premium di Jawa dan Bali atau menaikkan harga pertalite dari 7.800 per liter naik menjadi 8.000 per liter. Dengan kenaikan harga pertalite sebesar 200 rupiah per liter menyebabkan disparitas antara harga premium dengan pertalite menjadi tambah luas sampai 1.450 rupiah per liter.

Dengan definitifnya Nicke menjadi nakhoda tetap Pertamina diharapkan perusahaan negara ini segera berbenah diri. Sebab, ke depan banyak pekerjaan menanti seperti merampungkan persiapan pengelolaan Blok Rokan mulai 2021. Lebih penting lagi, Pertamina harus berpacu untuk membenahi kondisi keuangan.

Mengapa demikian? Sebab ada kemungkinan kondisi keuangan Pertamina sedang dalam masalah, walaupun dalam beberapa keterangan Nicke selalu mencoba meyakinkan masyarakat bahwa keuangan lembaga pimpinannya tidak masalah. Namun, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengatakan berbeda. Menurut Jonan, Pertamina memang tidak kolaps, tetapi kalau dikatakan keuangannya sedang bermasalah, iya.

Masalah keuangan Pertamina juga dibuka mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu. Katanya, bocornya surat PT Pertamina (Persero) soal pelepasan aset menunjukkan bahwa keuangan Pertamina sedang tidak baik. Said Didu meyakini, adanya surat itu menunjukkan keuangan Pertamina sedang bermasalah. Sebab, surat-surat ini diketahui oleh para petinggi Pertamina.

Menurutnya, ketika itu para petinggi Pertamina menekankan pentingnya strategis termasuk down share aset. Ini mengindikasikan adanya masalah. Memang hanya kalangan internal Pertamina sendiri yang dapat mengetahui kondisi persis kenyataan keuangan perseroan. Semoga saja di bawah Nicke, kondisi keuangan Pertamina bisa membaik.

Karier Nicke sendiri bukan dari internal Pertamina. Dia lama menjadi pegawai di PLN. Nicke lahir di Tasikmalaya, 25 Desember 1967, adalah lulusan teknik industri Institut Teknologi Bandung dan master Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung. Dia berada di PLN sekitar delapan tahun dengan jabatan antara lain Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN.

Perlu orang kuat secara visi dan strategi untuk memimpin perusahaan negara yang begitu penting bagi bangsa. Pertamina telah memiliki sejarah panjang dengan catatan pernah menjadi ajang “mandi” uang di era Orde Baru. Sejumlah pejabatnya juga banyak tersangkut korupsi seperti SVP Asset Management PT Pertamina (Persero) Gathot Harsono.

Kemudian, Kejaksaan Agung juga menetapkan mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang merugikan keuangan negara 568 miliar.

Semoga saja Nicke dapat belajar dari kasus-kasus yang pernah hinggap di Pertamina. Jangan sampai hal itu terulang di bawah kepemimpinannya, apalagi mengena diri Nicke. Sebagai dirut baru Pertamina, Nicke harus mampu merancang strategi guna membawa “terbang” tinggi BUMN ini, sehingga bisa sejajar dengan perusahaan-perusahaan minyak dan gas mancanegara.

Sekarang zaman korupsi besar-besaran. Semua mencoba korupsi di berbagai lini birokrasi dan perusahaan negara. Nicke harus menyadari ini, sehingga jangan sampai ada pejabatnya yang korup. Ini saja yang pertama-tama harus dijaga. Yang lain akan lancar dengan sendirinya, bila lembaganya jauh dari korupsi.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment