Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments

Nakhoda Baru Garuda Indonesia

Nakhoda Baru Garuda Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

PT Garuda Indonesia ( Persero) Tbk memiliki nakhoda baru. I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau lebih dikenal dengan panggilan Ari Askhara dipilih menjadi direktur utama menggantikan Pahala Mansury melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), yang digelar Rabu (12/9). Sebelum ditunjuk memimpin Garuda, Ari menjabat sebagai Direktur Utama PT Pelindo III.

Pria kelahiran Jakarta pada 13 Oktober 1971 ini sebenarnya bukan orang baru di Garuda Indonesia. Dia pernah menduduki jabatan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di maskapai nasional tersebut pada Desember 2014 hingga April 2016. Usai dari Garuda Indonesia dua tahun lalu, Ari sempat berlabuh sebentar di PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Pergantian pucuk pimpinan flag carrier ini tentu bukan tanpa tujuan. Direksi baru dituntut untuk bisa meningkatkan kinerja dan layanan perusahaan. Sampai semester I-2018, Garuda Indonesia membukukan pendapatan 1,9 miliar dollar AS. Angka ini tumbuh 5,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pucuk pimpinan Garuda Indonesia dituntut tetap mampu melakukan inovasi layanan baru yang terbaik untuk penumpang. Mulai dari saat reservasi penerbangan hingga tiba di bandara tujuan, para penumpang harus dimanjakan oleh pelayanan yang tulus dan bersahabat yang menjadi ciri keramahtamahan Indonesia. Konsep layanan publik yang tepat waktu dan aman, cepat dan tepat, bersih dan nyaman, serta andal dan profesional, harus tetap menjadi pijakan seluruh karyawan maskapai ini.

Selain itu, Garuda Indonesia mengemban misi khusus sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia, yakni mempromosikan Indonesia kepada dunia. Gelar sebagai “Maskapai Bintang Lima” atau “5-Star Airline” harus tetap dipertahankan dan di tingkatkan. Gelar yang diberikan Skytrax itu bukan sekadar memperkuat brand komersial Garuda Indonesia, namun sekaligus memperkokoh nation branding Indonesia di mata dunia.

Pencapaian-pencapaian yang telah diraih oleh direksi sebelumnya, tentu akan menjadi tantangan yang lebih besar bagi Ari Askhara bersama direksi terpilih lainnya di masa mendatang. Garuda Indonesia akan terus dituntut publik untuk meningkatkan kinerja dan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pengguna jasa.

Di tengah situasi industri penerbangan yang sangat kompetitif ini, Garuda Indonesia dituntut untuk tetap mampu bertahan. Konsistensi yang dihadirkan dalam produk dan layanan sebuah maskapai merupakan bagian terpenting. Direksi baru diharapkan mampu meneruskan renegosiasi pengadaan pesawat yang terlalu mahal, konsistensi pembukaan rute baru, dan berupaya menjadi pemimpin pasar penerbangan full services.

Renegosiasi pesawat dan konsistensi menentukan rute adalah upaya untuk menekan kerugian, yang selama ini menghantui keuangan perusahaan. Manajemen sebelumnya, hingga triwulan ketiga lalu telah merenegosiasi kontrak penyewaan pesawat sehingga biaya leasing per bulan turun 2,5–3 juta dollar AS.

Sementara itu, perubahan atau penghapusan rute dapat mengurangi tingkat kepercayaan konsumen. Sepanjang semester I lalu, Garuda sudah mengurangi 11 rute yang dianggap merugikan. Adapun pada semester I 2017, sebanyak 22 rute dikurangi dengan alasan yang sama.

Tantangan maskapai penerbangan akan semakin ketat di masa mendatang. Kenaikan beban operasional akibat mahalnya harga bahan bakar dan pelemahan nilai tukar rupiah, tentu akan menjadi beban khusus bagi Ari Askhara bersama manajemen Garuda lain di masa mendatang.

Peluang Garuda Indonesia untuk tumbuh masih terbuka lebar. Faktor yang akan menjadi pendorong ialah adanya tren kenaikan kunjungan wisatawan. Jumlah wisatawan mancanegara Januari–Juli 2018 mencapai 9,06 juta kunjungan, tumbuh 12,92 persen. Karena itu, Ari Askhara harus mampu menangkap sinyal pasar ini.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment