Koran Jakarta | December 16 2017
No Comments
Suara Daerah

Musi Banyuasin Masuki Era Pendidikan Modern

Musi Banyuasin Masuki Era Pendidikan Modern

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, meraih penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) 2017. Penghargaan diberikan kepada daerah yang memenuhi capaian di 31 indikator yang dirangkum dalam lima klaster pemenuhan kebutuhan anak. Salah satunya adalah capaian pemerintah kabupaten untuk membangun sebuah sistem pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di kabupaten tersebut.

Setelah meluncurkan program sekolah gratis dari jenjang TK hingga SMA sejak 2013, kabupaten ini pun terus melakukan terobosan di dunia pendidikan. Terobosan dengan membangun kualitas pendidikan modern berbasis digitalisasi dan berkualitas internasional sebagai bagian dari upaya Muba berinvestasi pada sumber daya manusia (SDM).

Untuk mengetahui lebih jauh aneka program untuk memajukan pendidikan di kabupaten ini, wartawan Koran Jakarta, Citra Larasati berkesempatan mewawancarai Bupati Muba, Dodi Reza Alex, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Anda akan mengembangkan sistem pendidikan modern di Muba, bisa dijelaskan konsepnya?

Kami sedang berpikir untuk mengembangkan sistem pendidikan beyond expectation, sebuah era pendidikan modern untuk masyarakat Muba.

Melakukan terobosan untuk memperkuat investasi SDM di kabupaten kami. Sebab kalau sekolah gratis di Muba sudah lama kami lakukan, itu terobosan masa lampau kami.

Konsepnya detailnya seperti apa?

Kami berkolaborasi dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University mengembangkan sistem pendidikan kelas dunia berbasis digital, melalui platform schoology. Langkah ini merupakan lanjutan dari light house school, program yang sebelumnya kami jalankan di Muba sebagai upaya menciptakan sistem pendidikan yang komprehensif.

Dengan adanya sekolah rujukan yang menggunakan learning management system, saya bisa katakan Muba menuju ke era pendidikan modern, berkualitas, dan berwawasan internasional ke depan. Kalau dulu kita pioner sekolah gratis, sekarang harus jadi kabupaten pioner sekolah berkualitas berwawasan internasional.

Ada berapa sekolah yang akan menjadi pilot proyek program ini?

Program ini sendiri untuk masa tiga tahun, ada empat sekolah yang akan menjadi sekolah rujukan sekaligus pilot proyek. Bagi kami itu baru awalan, sebab di tahun berikutnya tugas kami akan semakin banyak, yakni menduplikasi sistem yang diterapkan di empat sekolah sebelumnya ke sekolah-sekolah lain.

Hingga pada suatu masa, masyarakat Muba akan bangga memiliki sekolah-sekolah yang berkualitas internasional di kabupatennya sendiri. Tidak kalah bersaing dengan sekolah Cempaka di Malaysia atau sekolah-sekolah di Australia yang menerapkan sistem serupa.

Program light house ini program multi-years. Kami berharap berjalan secara sustainable. Setelah tiga tahun akan dilepas, harus sustainable dan bisa mengembangkan sekolahnya secara mandiri.

Bagaimana proses penunjukan keempat sekolah tersebut?

Kami dilema awalnya, apakah yang kami tunjuk nantinya benar-benar sekolah polos agar dapat di-up grade dengan program ini, atau sekolah-sekolah yang sudah siap. Hingga akhirnya, kami putuskan sekolah-sekolah yang sudah siap dulu, baik manajemen, pendidikan maupun sarana prasarana dan siswa. Baru ke depannya untuk kita duplikasikan ke sekolah-sekolah lain yang masih “polos”. Program ini kami kawal khusus. Saya minta kepada kepala dinas untuk menjadikannya sebagai salah satu prioritas.

Secara teknis akan ada assesment komitmen, kapasitas guru, infrastruktur selama satu minggu. Nanti ada tim analisis, baru ditentukan bahwa sekolah sekolah itu layak.

Anda berkali-kali menyebut fokus pada investasi SDM, kenapa demikian?

Betul kami fokus pada investasi SDM, meskipun sumber daya alam (SDA) kami berlimpah. Gas alam kami misalnya. Namun, kami menyadari betul kutukan SDA, di mana suatu saat seberlimpah apa pun SDA yang kami miliki pasti akan habis. Di saat itulah kami sudah memiliki SDM yang berkualitas sebagai sumber kekayaan daerah yang sesungguhnya.

Untuk menyiapkan investasi SDM, upaya apa saja yang tengah dirintis?

Menyiapkan SDM itu sama dengan membangun sistem pendidikan yang berkualitas. Selain menggratiskan sekolah, merintis digitalisasi di sekolah-sekolah. Jadi banyak hal dan kegiatan di sekolah seperti proses belajar mengajar atau mengerjakan PR, bahkan mengevaluasi proses pembelajaran melalui optimalisasi peran teknologi. Tidak lupa dan yang terpenting kami juga akan memperhatikan peningkatan kualitas guru dan pendidik anak-anak kami.

Pendidik harus memenuhi syarat kompetensi dan kualifikasinya bagus. Pendidikan tanpa kualitas guru dan pendidik adalah nol besar. Jadi, guru adalah prioritas kami. Baru kemudian ruang belajar sekolah harus memenuhi standar dan memenuhi rasio antara pengajar dan murid. Namun, kami tidak bisa berkutat pada masalah-masalah itu saja. Pembangunan fisik, guru, kepala dinas pun harus dipersiapkan, sebagai bagian dari lingkungan pendidikan. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment