Museum DPR RI, Pencatat Sejarah Parlemen | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 12 2020
No Comments

Museum DPR RI, Pencatat Sejarah Parlemen

Museum DPR RI, Pencatat Sejarah Parlemen

Foto : Koran Jakarta /Yasir Arafat
SUASANA MUSEUM - Seorang pria memanfaatkan fasilitas yang ada di Museum DPR RI, Jumat (6/12). Koleksi Museum DPR RI relatif lengkap dan dapat di manfaatkan oleh masyarakat.
A   A   A   Pengaturan Font

Tangga eskalator di Gedung Nusantara DPR RI mengarah ke lantai 2, ada papan penunjuk arah bertuliskan Museum DPR RI tepat mengarah ke ujung lorong. Pandangan pertama disambut oleh sebuah miniatur model bangunan gedung atau maket tersimpan rapi dalam bingkai kaca yang kokoh.

Setelahnya bertemu dengan ruangan bertuliskan Museum Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Terdengar dari dalam loket, “Baik, ada yang bisa saya bantu? Tolong isi daftar hadir dulu. Lalu silahkan masuk mas,” kataPamong Budaya Ahli Pertama Museum DPR RI, Bima Widiatiaga, Jum’at (6/12).

Di dinding dalam ruangan terlihat sebuah potret sejarah perubahan nama DPR RI dari masa ke masa. Mulai dari Volksraad, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), DPR Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Senat RIS, hingga kini DPR RI.

Bima pun bercerita, dahulu Museum DPR RI berdiri atas inisiasi dari Wakil DPR RI kala itu Jailani Naro. Dengan langkah awal membuat Yayasan Museum DPR RI dan diresmikan pada 16 Agustus 1991 oleh Ketua DPR RI Priode 1987-1992 M. Kharis Suhud. Dengan tujuan mengumpulkan koleksi-koleksi baik berupa naskah, barang, dan foto yang berkaitan dengan kegiatan parlemen.

“Kalau sekarang fungsinya bisa sebagai edukasi. Tentu tetap juga melestarikan koleksi yang berhubungan dengan sejarah DPR RI. Biasanya juga dipakai untuk menerima tamu atau delegasi luar dan dalam negeri. Nantinya di sini akan diperkenalkan sejarah DPR RI itu sendiri,” ujar pria lulusan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Bima mengungkapkan, Museum DPR RI mempunyai 504 koleksi yang terbagi ke dalam 400 koleksi foto dan 104 berupa benda peninggalan.

Ia juga mengatakan, sejatinya tidak semua benda yang digunakan DPR RI nantinya dapat menjadi koleksi museum. Karena harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain memiliki nilai sejarah tinggi, kondisi prima, dan sesuai dengan konsep yang diusung.

Misalnya, palu sidang Konferensi Asia Afrika (KAA), meja, bangku, dan mimbar yang digunakan saat Konferensi Meja Bundar (KMB) Komite Nasional Indonesia Pusat atau KNIP di Jogja, serta maket rancangan pembangunan gedung DPR dan MPR RI dalam bentuk lukisan. Bima menjelaskan, dalam merawat benda koleksi musem akan dikaji terlebih dahulu sesuai dengan kondisi terkini.

Jika termasuk kerusakan berat maka akan dilakukan perawatan khusus sampai dengan membuat replika. “Kalau tahapnya kerusakan berat tentu langsung dikonservasi. Kalau ringan cukup perawatan biasa saja karena jika berlebihan dikhawatirkan bisa merusak dan merubah benda koleksi itu,” ucap Bima.

 

yasir arafat/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment