Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Murid Ancam Guru Harus Dihukum

Murid Ancam Guru Harus Dihukum
A   A   A   Pengaturan Font

Murid SMP PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, bernama Nur Khalim sangat pantas diberi sanksi. Dari video yang tersebar, perilakunya sungguh tidak pantas dilakukan seorang pelajar, apalagi di dalam kelas, terhadap guru yang seharusnya dihormati. Kisahnya, Nur Khalim merokok di dalam kelas. Ini jelas perbuatan “luar biasa” seorang pelajar. Bagaimana mungkin dia merokok di dalam kelas? Sedangkan merokok di luar sekolah saja mestinya tidak boleh.

Kesalahan berikut, dia marah ketika ditegur oleh guru yang tengah mengajar, AA. Perilaku Nur Khalim boleh dibilang bejat karena menantang sang guru dengan memegang kepala AA, dan beberapa kali dia mengayunkan tangan kanan yang mengepal di depan kepala sang guru, sebuah gerakan mau memukul.

Intimidasi itu dilakukan berulang-ulang. Ini jelas perbuatan di luar batas seorang pelajar. Dia sangat pantas dan mesti diberi hukum. Pilihan bisa dipecat dengan tidak hormat, dan masalahnya dilanjutkan ke kepolisian guna memberi jera. Apa pun alasannya, merokok di dalam kelas jelas perbuatan morsal (tidak tahu tata karma). Memegang kepala dan kerah baju guru jelas perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman serius. AA harus melanjutkan masalah ini ke ranah hukum.

Tujuannya, bukan untuk mencari kepuasan bagi AA sendiri, namun terutama untuk memberi efek jera kepada murid-murid tidak hanya di sekolah itu, tetapi di seluruh Indonesia. Murid harus menghormati guru, sekalipun berstatus honorer.

Maka, sangat disayangkan kalau kasus tersebut hanya diselesaikan secara kekeluargaan dan saling memaafkan. Sebenarnya boleh saja diselesaikan secara kekeluargaan kasus amoral muridnya. Akan tetapi, semestinya kasus hukumnya harus tetap berjalan. Pihak-pihak seperti AA, dinas pendidikan, dan kepolisian mengingatkan ada delik hukumnya dan ini tidak boleh dianggap selesai dengan didamaikannya kedua pihak. Sekali lagi tujuannya, melanjutkan proses hukum, untuk memberi efek kapok.

Istilah kedua belah pihak sudah “saling memaafkan” juga tidak tepat. Yang tepat, AA-lah yang memaafkan. Sedangkan Nur yang kurang ajar, tidak berhak memaafkan. Salah apa AA terhadap Nur Khalim, sehingga posisinya disetarakan “saling memaafkan”. Apa menegur karena Nur merokok, dianggap kesalahan? Itu tugas! Justru AA salah andai tidak menegur Nur. Jadi, jangan salah kaprah menggunakan istilah “saling memaafkan”.

Perilaku Nur dalam video tersebut sungguh bukan sikap seorang pelajar. Lebih tepat itu tingkah laku preman jalanan. Dia salah masuk. Harusnya berada di jalanan, bukan di ruang kelas. Ini membawa nama SMP PGRI Wringinanom. Bisa saja masyarakat menilai, kasus tersebut sebagai kegagalan sekolah dalam mendidik. Masyarakat juga bisa berpandangan, beginilah hasil sekolah SMP PGRI Wringinanom dalam mendidik siswa.

Sepertinya, guru AA juga tidak begitu berwibawa terhadap murid-murid. Ataukah murid-murid memandang rendah karena dia guru honorer. Apa pun statusnya secara administratif, selama berada di depan kelas, guru harus dihormati. Pelecehan oleh murid Nur ini sudah keterlaluan: memegang kepala, memegang kerah baju, dan berkali-kali mengayunkan kepalan tangan mau memukul.

Ini akan menjadi preseden buruk bila tidak dilanjutkan ke meja hijau. Kelak murid di sekolah lain bisa saja berani bertindak sama karena berpikir hanya akan didamaikan. Pertama SMP PGRI Wringinanom mesti memberhentikan Nur. Kedua, AA mesti melanjutkan ke ranah hukum. Jadi, selain untuk memberi efek kapok, juga demi menjaga wibawa sekolah dan guru. Jangan sampai ada lagi siswa seperti Nur yang bebas berlaku kurang ajar di dalam kelas: menyalakan rokok dan mengintimidasi guru. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment