MRT Perbanyak Lokasi Parkir | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Sarana Transportasi - l Stasiun MRT Fase II Terintegrasi dengan Transjakarta

MRT Perbanyak Lokasi Parkir

MRT Perbanyak Lokasi Parkir

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

PT MRT Jakarta mendorong swasta yang punya bangunan dan lahan kosong untuk bekerja sama bangun park and ride.

JAKARTA – PT MRT Jakarta menilai banyak hal yang harus dilakukan menyikapi pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, bahwa hanya 35 persen warga Jakarta yang naik transportasi umum, salah satunya lahan parkir (park and ride). Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menegaskan untuk menyelesaikan masalah transportasi Jakarta tidak bisa hanya satu pihak saja, seperti Mass Rapit Transit (MRT) yang baru memiliki panjang trek 16 kilometer (km).

“Yang bisa kita lakukan mempercepat pembangunan jalur MRT ke Utara dan yang terbentang Timur ke Barat, peningkatan integrasi serta perbanyak lahan parkir,” kata William. Lokasi parkir yang harus diperbanyak, kata William, adalah yang terletak di luar pusat kota dengan memungkinkan integrasi dengan moda transportasi lainnya dengan MRT.

“Seiring dengan itu, di waktu tertentu pemerintah akan menaikkan harga parkir di dalam kota, sehingga di kawasan-kawasan luar pusat kota dikembangkan sebagai tempat parkir dengan maksud agar masyarakat berpindah ke transportasi publik,” katanya. Saat ini, park and ride yang terakses ke Stasiun MRT (belum yang dikelola swasta) ada tiga, yakni di kawasan Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati dan di antara kedua stasiun itu (south quarter), dengan tarif rata-rata 5.000 rupiah untuk mobil, 2.000 rupiah untuk motor dan 1.000 rupiah untuk sepeda. Untuk kapasitas, park and ride Lebak Bulus yang terletak di atas lahan Pemda dengan jarak sekitar 250 meter dari stasiun, mampu menampung1.200 motor dan 150 unit mobil. Sementara park and ride south quarter yang berjarak 900 meter dari Stasiun Fatmawati dan 2,4 kilometer dari Stasiun Lebak bulus ini, berkapasitas 60 mobil dan 30 motor dengan akses ke stasiun menggunakan bus pengumpan. Adapun park and ride Fatmawati, mampu menampung 100 unit mobil dan belum ada ruang khusus untuk sepeda motor karena belum banyak pengguna sepeda motor yang menggunakan fasilitas itu.

“Namun jumlah ini kan terbatas, jadi perlu ada percepatan dan memperbanyak, saat ini sedang dicari area yang bisa dibuat, tidak harus memakai lahan pemerintah yang ada, kita juga mendorong temanteman swasta yang punya bangunan dan lahan kosong, kami siap kerjasama untuk lahan itu dijadikan park and ride,” kata William. MRT Fase II Mulai Maret 2020, fase II sepanjang 12 kilometer akan dibangun. Seluruh stasiun MRT Jakarta Fase II akan terintegrasi dengan halte Transjakarta untuk memudahkan mobilitas masyarakat, sekaligus mendorong lebih banyak lagi mengangkut penumpang.

“Untuk stasiun MRT Fase II ini akan semua diintegrasikan dengan halte Transjakarta,” kata William. Integrasi tersebut sudah dimulai di MRT Fase I, yakni di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Stasiun Asean yang saat ini tengah dilakukan integrasi. Selain integrasi antarmoda, William mengatakan dalam pembangunan konstruksi Fase II juga akan sekaligus dibangun Kawasan Berorientasi Transit (Transit oriented development/ TOD). TOD tersebut untuk tahap awal di MRT Fase II, di antaranya Thamrin, Harmoni, dan Kota Tua.

“MRT Fase I di Dukuh Atas, Istora, Senayan, Blok M, Fatmawati, dan Lebak Bulus. MRT Fase II mengembangkan berbagai kawasan seperti Thamrin kemudian Harmoni, Kota Tua yang akan kita lihat karena cagar budaya dan pusat wisata yang bisa diintegrasikan,” katanya. Untuk pembangunan TOD MRT Jakarta Fase II, William menuturkan pihaknya juga akan mengajukan permohonan untuk menjadi pengelola kawasan tersebut seperti di MRT Fase I, namun hingga saat ini Pemprov DKI belum juga menerbitkan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai payung hukum dan memulai pembangunan tersebut.

Secara keseluruhan, terdapat 10 stasiun di lintasan MRT Jakarta Fase II, mulai dari Stasiun Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Mangga Dua, dan Ancol yang juga akan dibangun depo. Ia menuturkan pembangunan proyek MRT Jakarta Fase II ini memakan biaya dua kali lipat dari MRT Fase I yakni 22,5 triliun rupiah, karena seluruhnya akan dibangun di bawah tanah (underground).

Ant/P-5

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment