Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Minum Air Rebusan Pembalut Perempuan

Minum Air Rebusan Pembalut Perempuan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Saya kurang tega menuliskan di judul, sehingga memakai singkatannya “air rebusan pembalut perempuan (ARPP)” yang terkesan horor, mengerikan. Tapi ini yang dijumpai di banyak tempat di Jawa Tengah.

Di daerah Grobogan, Kudus, Pati, Rembang, dan Semarang bagian selatan, beberapa anak usia 13–16 tahun berkumpul. Mereka ini merebus bekas pembalut perempuan, yang masih ada sisa-sisa bercak darah, sampai mendidih, mendinginkan, dan kemudian meminumnya.

Menurut mereka yang tertangkap dan sempat diperiksa—walau tidak ditahan, karena pembalut perempuan bukan termasuk benda berbahaya atau terlarang—mereka mengejar sensasi, mengejar halu— halusinasi, setengah mabuk, setengah fly—merasa ringan gerakan dan seakan bebas bisa apa saja.

Sejak jenis narkoba naik harganya dan makin sulit, demikian juga harga lem untuk dihisap, ARPP adalah cara murah unruk bisa fly—meskipun kenyataaanya mengerikan, dan membuat mereka tak ingin mengulang.

Bukan kecanduan, tapi halu-nya demikian menakutkan. Itu pengakuan dari mereka yang mencoba. Jumlah mereka ini tidak—atau belum, banyak. Namun merisaukan, karena mencemaskan dan tindakannya tidak wajar, tidak logis.

Pembalut, pastilah mengandung zat penyerap cairan, juga campuran zat lain yang tidak untuk masuk ke dalam tubuh. Keinginan fly pun sebenarnya mencari sensasi.

Tak ada hubungannya darah dari menstruasi menyebabkan mabuk. Namun memang masalahnya di situ. Mereka mencoba apa saja, bahkan makin tidak masuk akal, makin dijajal.

Korban minuman oplosan memperlihatkan bukti itu. Kematian siasia tidak juga menghentikan “generasi baru” untuk menjajal, dengan akibat fatal.

Pembalut perempuan yang digunakan saat menstruasi, termasuk barang “modern”. Dulunya kaum perempuan menggunakan inding—kain yang khusus sebagai pembalut. Kain ini dijaga dengan baik, diduci sendiri oleh pelakunya, disimpan rapi. Ada rasa malu atau enggan diketahui orang lain.

Pastilah karena berhubungan dengan adat, karena menyangkut menstruasi. Bahwa ada yang menggunakan air cucian inding untuk penangkal jerawat, atau agar dicintai kekasihnya, adalah bagian dari mitos yang tak pernah dibuktikan benar atau tidaknya.

Tapi yang sekarang ini sungguh mengerikan. Tak perlu mitos atau dongeng, atau pembenaran lain, anak-anak yang belum berpengalaman selain keberanian menjajal. Satu kelompok di suatu tempat menjajal, esoknya sudah di tempat yang berbeda, ada yang mencobai.

Situasi yang sama—anak remaja yang ngaggur dan ngawur, yang madesu—masa depan suram, yang belum memahami harga sebuah nyawa, yang merasa jawara, dan sebab-sebab lain yang tak terjelaskan, melakukan itu.

Meniru sampai membentur batas terakhir daya tahan. Keterpurukan kesadaran ini sebenarnya keadaan halu itu sendiri, fly itu sendiri. Di penjara, saya melihat belasan racikan yang tak sehat: campuran kopi, minyak tanah, obat nyamuk, misak gosok, pil penenang yang terus dicoba.

Korban melepuh atau berubah wajah, atau bahkan meninggal tidak juga menghentikan keinginan mereka berhalu. Barangkali selalu ada kelompok yang tak mampu menguasai diri, yang tergoda berbuat nekat, tapi tak tahu, yang tak tahu jati dirinya, atau hubungannya dengan sekitar.

Mereka inilah yang menjadi korban karena kemauan dan kesalahannya sendiri. Mudah-mudan peminum ARPP tidak menjalar, terutama karena efek halunya mengerikan.

Mudah- mudahan begitu dan bukan karena terlalu ngeri ada yang ingin menyoba. Membuktikan sesiayi yang sebenarnya sia-sia.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment