Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

Milenial Butuh Paket Kemudahan

Milenial Butuh Paket Kemudahan
A   A   A   Pengaturan Font

Menurut Ketua Kehormatan Real Estate Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi, penyerapan rumah subsidi mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. “Pengembang harus punya gagasan konkret dan baru untuk merespon kebijakan BI tentang DP 0 rupiah,” katanya. Salah satunya dengan membuat program cicilan ringan untuk semi MBR (masyarakat berpenghasilan rendah). Kalau MBR diberi bunga 5 persen flat 20-25 tahun, PPH 1 persen, maka semi MBR agak lebih tinggi.

“Tapi, fasilitas (perumahan/ apartemen) 50 persen saja. Kita usulkan ke otoritas, dua pertiga penghaslan mereka untuk cicilan KPR, sepertiganya untuk biaya hidup. Kalau disepakati oleh OJK, formula ini akan berkembang,” terang Lukman. Lukman yang juga Presiden Direktur Eureka Group itu juga menjelaskan, pemerintah dinilai perlu mengeluarkan paket kebijakan untuk mempermudah generasi milenial dalam mendapatkan rumah.

Kebijakan pelonggaran tersebut diyakini akan mengubah kebiasaan dan gaya hidup konsumtif kaum yang berusia 20-35 tahun itu dan mulai mengalihkan kesadaran mereka akan kebutuhan atas hunian. “Paket kebijakan untuk para milenial itu penting mengingat mayoritas dari mereka sebetulnya memiliki pendapatan di atas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tapi belum masuk golongan masyarakat menengah ke atas,” terangnya.

Dengan demikian kata Lukman, di satu sisi mereka tak bisa mendapatkan subsidi perumahan yang selama ini dikucurkan pemerintah untuk MBR karena penghasilan mereka melebihi batas maksimal yang diperbolehkan untuk membeli rumah subsidi. Di lain sisi mereka juga sulit menjangkau rumah-rumah nonsubsidi yang ditawarkan pengembang komersial. “Katakanlah para milenial yang penghasilannya 5 juta rupiah sampai 10 juta rupiah atau lebih sedikit.

Mereka tak masuk MBR tapi juga tak mampu beli rumah di atas 300 juta rupiah. Karena itu kalau pemerintah menganggap generasi milenial sebagai tulang punggung ekonomi di masa depan, mestinya paket kemudahan perumahan bagi mereka mesti segera dibuat,” tutur Lukman.

Ia juga menjelaskan, paket kebijakan itu bisa dalam bentuk pemberian subsidi, pelonggaran uang muka (DP), juga keringanan pajak. “Misalnya, mereka diberikan subsidi 50 persendari subsidi yang diberikan kepada MBR.

Atau dari sisi pajak, kalau MBR bebas PPN, untuk kaum milenial hanya dikenakan PPN 5 persen.” Bentuk-bentuk insentif itu, menurut Lukman, bisa dibahas lebih lanjut oleh pemerintah, dalam hal ini oleh kementerian terkait bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. “Yang pasti, mesti ada kesadaran dari semua pihak bahwa keberadaan milenial yang disebut menjadi bonus demografi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang, ialah aset yang mesti diperhatikan agar produktivitas mereka dapat dioptimalkan,” ungkapnya.

Pendapat serupa dilontarkan Wakil Ketua DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey yang menyatakan, usia produktif 26-35 tahun di Indonesia saat ini didominasi kelas berpenghasilan rendah 3,5 sampai 4 jutaan rupiah per bulan dan menengah 4,5 sampai 11 jutaan rupiah per bulan. “Sisa alokasi anggaran setiap individu untuk membeli rumah rerata hanya 10-15 persen.

Ini yang menjadi isu bagaimana seluruh pelaku properti baik developer, pemerintah dan perbankan mencari solusinya,” tambahnya. SPS Group menjadi salah satu pengembang rumah subsidi cukup berpengaruh di Tanah Air. Sedikitnya setiap bulan pihaknya melangsungkan akad kredit 1.000 unit rumah di beberapa proyek perumahannya di kawasan Bekasi dan Karawang, Jawa Barat.

“Kami sedang buka 4 proyek baru di timur Jakarta. Mudah-mudahan dengan adanya pelonggaran LTV dan KPR untuk usia 18 tahun dari BTN akan menjadi juklak atas kendala yang kami hadapi, karena cukup sering BI checking debitur gagal lantaran batas usia,” jelas Tuti Mugiastuti, General Manager Marketing SPS Group. Apapun, dorongan untuk generasi milenial agar memebeli hunian/rumah memang sangat diperlukan. Generasi produktif ini perlu dijadikan Energi dalam perekonomian nasional, dengan cara diberi insentif untuk menabung dalam bentuk membeli rumah.

Godaan dan kecendrungan Milenial untuk traveling dan menyukai gadget adalah keniscayaan, namun apabila pemerintah tidak tidak melakukan upaya untuk mendorong berinvestasi rumah adalah sebuah ‘kekurang tanggapan’ terhadap potensi ekonomi generasi milenial. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment