Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments

Mikroplastik dalam Air Kemasan

Mikroplastik dalam Air Kemasan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Konsumen air minum dalam kemasan (AMDK) patut waspada. Sebab, sebuah studi di sembilan negara menemukan air kemasan merek-merek terkenal terkontaminasi partikel plastik kecil atau mikroplastik. Temuan itu diungkapkan dalam laporan penelitian yang dipimpin pakar plastik mikro Sherri Mason dari State University of New York, di Fredonia. Laporan penelitian tersebut kemudian dirilis Orb Media, sebuah perkumpulan media nonprofit berbasis di Amerika Serikat.

Para peneliti menguji 250 botol air minum kemasan di Brasil, Tiongkok, India, Indonesia, Kenya, Lebanon, Meksiko, Thailand, dan Amerika Serikat. Hasilnya, para peneliti menemukan plastik di hampir 93 persen sampel yang digunakan dalam pengujian.

Sampel yang digunakan dalam pengujian itu diambil dari merek-merek terkenal, beberapa di antaranya dijual di Indonesia. Butiran halus yang mencemari air minum di dalam kemasan botol termasuk dalam jenis polypropylene, nilon, dan polyethylene terephthalate (PET). Menurut penelitian, ketiganya umumnya digunakan untuk membuat tutup botol air kemasan. Di dalam penelitian tersebut, 65 persen partikel yang ditemukan dalam bentuk fragmen, bukan serat. Partikel ini dihasilkan melalui proses pembotolan air atau dari tutup botol.

Menurut laporan penelitian, konsentrasi butiran plastik dalam air minum kemasan berkisar dari 0 hingga lebih 10.000 partikel plastik dalam satu botol. Rata-rata, partikel plastik dalam kisaran ukuran 100 mikron (0,10 milimeter) dianggap plastik mikro. Untuk kasus ini, penelitian menemukan plastik pada tingkat rata-rata 10,4 partikel plastik per liter. Bahkan yang paling umum dijumpai, partikel plastik berukuran lebih kecil yang mencapai rata-rata 325 partikel plastik per liter.

Namun, para ahli mengatakan, tingkat risiko terhadap kesehatan manusia yang ditimbulkan oleh kontaminasi mikroplastik dalam air kemasan belum jelas. Tetapi, sejauh ini kontaminasi plastik terkait dengan peningkatan jenis kanker tertentu hingga menurunkan jumlah sperma serta meningkatkan risiko gangguan konsenstrasi, hiperaktivitas, dan autisme.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Kesehatan akan menindaklanjuti temuan mikroplastik dalam air kemasan melalui pengajian mendalam. Selain itu, pemerintah juga akan koordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu, BPOM mengaku belum ada studi ilmiah ihwal bahaya kandungan mikroplastik bagi tubuh manusia. Saat ini, BPOM menyebutkan perkembangan isu mikroplastik masih diamati lembaga pangan internasional seperti European Food Safety Authority (EFSA) otoritas US-Environmental Protection Agency (US-EPA).

Menurut BPOM, lembaga pengaji risiko untuk kemanan pangan, The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), pun belum mengevaluasi soal toksisitas plastik dan komponennya. JECFA merupakan lembaga naungan FAO-WHO. Jadi, belum ada ketentuan batas aman untuk mikroplastik.

Selain itu, BPOM memaparkan, Codex selaku badan standar pangan dunia di bawah FAO-WHO belum mengatur ketentuan mengenai mikroplastik pada pangan. Meski begitu, BPOM akan berkoordinasi dengan lintas ahli, akademisi, asosiasi, kementerian, dan lembaga terkait. Koordinasi dibangun baik dengan lembaga nasional ataupun internasional.

Dewasa ini isu sampah plastik semakin meningkat dan menjadi masalah serius. Menurut Komisi Eropa, penduduk Eropa menghasilkan 25 juta ton sampah plastik setahun. Itu baru di Benua Biru. Sayangnya, hanya sekitar 30 persen sampah plastik terdaur ulang.

Kita pun seharusnya juga waspada dengan kian merebaknya plastik dalam kehidupan. Sebab banyak yang tidak paham dengan perkembangan teknologi plastik. Sudah sewajarnya negara hadir di tengah-tengan pro kontra air kemasan terkontaminasi mikroplastik.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment