Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments

Mewaspadai Penyebab Bobolnya Data

Mewaspadai Penyebab Bobolnya Data

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Negara Asia Pasifik menjadi motor pertumbuhan ekonomi digital di dunia. Indonesia misalnya memiliki tingkat penetrasi e-dagang tertinggi di dunia, sementara Thailand memimpin dalam penetrasi mobile banking, dan Singapura teratas dalam aplikasi ride-hailing.

Ekonomi digital yang tumbuh tinggi membuat ASIA menjadi pusat perhatian setiap mata, termasuk para penjahat siber. Penyedia solusi keamanan Eset bahkan tertarik melakukan survei konsumen di Asia Pasifik untuk mempelajari tentang perilaku dan kebiasaan online mereka.

Dengan melakukan survei kepada 2.000 responden dari Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Thailand, Eset ingin mengetahui perbedaan dalam kecakapan siber, menganalisis kebiasaan berdasarkan interaksi online.

“Kami mencoba mempelajari kesadaran mereka tentang ancaman keamanan siber dasar, praktik terbaik, dan tindakan mereka secara online,” ujar IT Security Consultant PT Prosperita Eset Indonesia, Yudhi Kukuh.

Hasil survei menyebutkan terdapat tiga penyebab utama pembobolan data tahun lalu, menurut Survei Perilaku Konsumen. Pembobolan data paling besar disebabkan oleh serangan virus yang mencapai 27 persen, kedua disebabkan oleh pelanggaran media sosial sebesar 20 persen, dan ketiga pencurian data personal 19 persen.

“Di Indonesia berdasarkan telemetri Eset kita dapat mengetahui bahwa serangan virus masih mendominasi dari serangan siber yang masuk dan ini terjadi dari waktu ke waktu, menunjukkan kita masih lemah dalam hal kesadaran keamanan siber,” ujar dia.

Lemahnya kesadaran keamanan juga disorot dalam survei yang dilakukan Eset dengan hasil menunjukkan bahwa 27 persen responden percaya diri dalam memahami ancaman dunia maya. Ini mengkhawatirkan karena sama artinya 73 persen responden lainnya mungkin hanya memiliki pemahaman yang dangkal tentang ancaman siber.

Ketika ditanya dari mana sebagian besar serangan siber berasal, responden merespon dengan mengatakan “Mengunduh file dari internet” sebagai pilihan utama mereka. Sebesar 28 persen tidak pernah menggunakan sumber tidak resmi saat mengunduh atau streaming video karena sadar akan bahaya.

“Sebaliknya 72 persen responden menggunakan sumber yang tidak resmi. Ditambah sebagian besar responden yang mengakses internet via ponsel sebesar 90 persen, menempatkan mereka dalam bahaya infeksi malware,” ujar Kukuh.

Menurut peneliti senior Eset, Nick FitzGerald, konsumen menyadari atau mengetahui dari mana asal serangan datang, namun tetap saja tidak peduli. Mereka harus disadarkan dalam berperilaku online secara aman dengan kunci berupa pengetahuan sebagai kekuatan dalam keamanan siber.

“Tidak dapat dihindari bahwa kita perlu membagikan data kita secara online, tetapi melakukannya dengan aman adalah yang menjadi perbedaan besar,” kata FitzGerald. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment