Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Kualitas Pertumbuhan Dinilai Memburuk

Mesti Fokus ke Manufaktur untuk Substitusi Impor

Mesti Fokus ke Manufaktur untuk Substitusi Impor

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Ini lampu kuning ekonomi Indonesia. Dengan kualitas seperti ini, pemerintah jangan salahkan faktor eksternal. Global hanya sumbang 20 persen sumber pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 sebesar 5,07 persen dinilai belum mencerminkan pertumbuhan berkualitas, terutama karena lebih banyak ditopang oleh sektor konsumsi. Guna meningkatkan kualitas pertumbuhan, di sisa waktu tahun ini, pemerintah semestinya fokus mendorong pertumbuhan manufaktur yang berorientasi substitusi impor.

Ekonom Indef, Enny Sri Hartati, mengemukakan pembangunan industri substitusi impor di Tanah Air berjalan lamban sehingga memicu laju pertumbuhan impor yang signifikan. Menurut dia, sektor manufaktur jauh lebih penting, selain upaya-upaya pemerintah menumbuhkan industri 4.0. “Jangan latah ikutikutan 4.0. Potensi kita di manufaktur karena memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah,” ujar dia, di Jakarta, Rabu (8/5).

Sejumlah kalangan menyatakan industri substitusi impor memiliki sejumlah manfaat, yakni relatif mudah dikembangkan karena pasarnya sudah tersedia di dalam negeri, mendorong hilirisasi industri sehingga meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta berpotensi menciptakan banyak lapangan kerja.

Selain itu, pengembangan industri pengganti impor untuk kelompok bahan baku dan bahan penolong juga bakal mengurangi impor terbesar Indonesia dari dua kelompok barang tersebut yang mencapai lebih dari 70 persen. Penurunan impor berpeluang memperbaiki defisit neraca perdagangan sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi karena meningkatkan nilai net ekspor, menghemat devisa negara yang terbatas, dan memperbaiki nilai tukar rupiah.

Menanggapi kinerja ekonomi tiga bulan pertama tahun ini, Enny mengatakan bukan angka pertumbuhan yang menjadi masalah, tapi yang harus diperhatikan adalah kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memburuk. Dia memaparkan komponen penggerak pertumbuhan kuartal I-2019 paling banyak dari sektor konsumsi yakni pengeluaran rumah tangga.

Namun, ini tidak diiringi oleh sektor produksi dan industri yang sangat drop, bahkan di bawah 4 persen. “Kuartal I ini industri hanya tumbuh 3,86 persen. Padahal, kuncinya adalah di sektor produktif ini,” jelas Enny. Sebelumnya dikabarkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2019 tercatat 5,07 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2018 sebesar 5,06 persen, tapi lebih rendah dari kuartal IV-2018 yang sebesar 5,18 persen.

Namun, angka perekonomian Indonesia tak pernah beranjak dari kisaran 5 persen. Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengakui pertumbuhan ekonomi 5,07 persen karena investasi hanya tumbuh sekitar 5,03 persen pada Januari–Maret 2019. Pertumbuhan itu jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan periode sama 2018 sebesar 7,94 persen.

 

Peringatan Keras

 

Enny menambahkan, perlambatan pertumbuhan investasi itu mesti dijadikan peringatan keras untuk pemerintah. “Jadi, ini tidak hanya lampu kuning ekonomi Indonesia. Kualitas ekonomi seperti ini, pemerintah jangan mengambinghitamkan faktor global dan eksternal. Global hanya menyumbang 20 persen untuk sumber pertumbuhan ekonomi, sisanya ada di dalam negeri,” tukas dia.

Sementara itu, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai angka cukup tinggi pada kuartal tiga dan empat tahun ini. Hal itu dipicu oleh peningkatan investasi yang masuk setelah terbentuknya pemerintahan baru. “Investasi pada triwulan I masih wait and see karena pemilu, tetapi pertumbuhan ekonomi baru akan terakselesari pada triwulan III dan triwulan IV,” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, Selasa (7/5).

Dia menjelaskan akselerasi ini dipicu oleh optimisme investor terhadap penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Dengan demikian, dia yakin pertumbuhan investasi akan kembali membaik ke depannya sehingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun bisa mencapai 5,1–5,3 persen.

Akan tetapi, Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan pada paruh pertama tahun ini, sektor-sektor penggerak ekonomi seperti manufaktur dan investasi ternyata bertumbuh tidak sesuai harapan. 

 

ers/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment