Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments

Merefleksikan Tindakan untuk Menemukan Solusi

Merefleksikan Tindakan untuk Menemukan Solusi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Heaven on Earth 

Penulis : Mona Sugianto

Halaman : 224 halaman

Cetakan : September 2016

Penerbit : Kanisius

ISBN : 978-979-21-4416-1

Kehidupan manusia dipenuhi warna, tidak hanya hitam dan putih. Bagaikan potret, banyak tragedi dan peristiwa yang menghiasi. Potret kehidupan manusia tersebutlah yang menjadi tema besar buku ini.

Manusia berlomba bertahan dan berinovasi. Dia berusaha menunjukkan kekuatan dan kehebatan. Namun sehebat apa pun, manusia terikat waktu, kenangan, dan impian. Dia juga terikat tempat dan hukum-hukum. Orang bersifat fana karena tidak kekal. Dia bersifat mortal karena bisa mati (halaman 17).

Agar manusia bisa mengurangi kepedihan, harus menyikapi waktu dengan bijak. Caranya, reclaim yesterday, enjoy today, and master tomorrow. Seyogianya manusia memaknai ulang masa lalu, menikmati masa kini, dan mempersiapkan untuk yang terbaik demi masa depan (halaman 20).

Bagaimanapun manusia tetap terikat tempat dan hukum. Dia tidak bebas menjalankan hidup sesuai keinginannya. Ada aturan yang mengikat. Ingin berhasil, ya harus kerja keras. Keberhasilan hanya tinggal impian jika bermalas-malasan. 

Secanggih apa pun teknologi, akhirnya manusia harus mati dan pulang kepada pencipta-Nya. Manusia tetaplah makhluk fana yang merupakan bagian dari penciptaan. Manusia tidak akan bisa menjadi Tuhan, sehebat apa pun dia.

Topik kepedihan yang harus dihadapi manusia merupakan pembuka buku pada bagian (1) “ Kisah tentang Manusia dan Penderitaannya.” Bagian ini terdiri dari sepuluh bab. Semua diawali dengan kisah menyedihkan. Pada bagian ini buku mengajak pembaca merenungkan hakikat kehidupan yang harus dijalani dan dimurnikan.

Pembaca diajak menyimpulkan sendiri kisah perjalanan manusia memurnikan diri pada bagian 2. Salah satunya, kisah tentang pergumulan seorang pemudi dalam mempertanyakan iktikad Tuhan. Pemudi itu dikatakan atheis oleh orang tuanya dan dibawa ke psikolog untuk diperiksakan kesehatan jiwanya. 

Pemudi tersebut pun bertemu penulis. Dia mengaku tidak terima dikatakan atheis karena sebenarnya dia percaya Tuhan. Dia hanya bertanya iktikad Tuhan menciptakan manusia. Mengapa banyak kehancuran di muka bumi ini jika Tuhan Maha Penyayang?

Pertanyaan tersebut mungkin juga sering hinggap di benak pembaca. Pada suatu titik, orang merasa tidak mungkin ada kebaikan di dunia ini. Semua kejadian membuat lelah. Manusia kemudian mencoba tidak peduli, dengan cara lebih baik tidak tahu, suatu cara melarikan diri yang paling mudah. Tapi, cara itu tidak berhasil, karena masalah datang berulang kali. Rasanya mau kabur saja, nyaris tidak kuat (halaman 197).

Tentu dunia tidak akan indah seperti ini jika hanya terdiri dari satu warna. Justru keindahan itu muncul karena banyak warna. Tidak mungkin pula, sebuah komposisi musik merdu nan memukau jika hanya ada satu not. Dunia tidak akan sempurna, jika ada hewan pemakan rumput saja. Hewan pemangsa juga memberi pembelajaran tentang kehidupan. Yang perlu dilakukan hanyalah menerima kenyataan tersebut.

Tema lain yang menggelitik tentang perempuan. Di beberapa budaya atau suku, anak laki-laki diharapkan sebagai penerus marga. Jika sebuah pasangan tidak juga dikaruniai putra, yang disalahkan perempuan. Tidak jarang, suami menikah lagi dengan alasan ingin memiliki anak. Padahal, yang membawa kromosom XY adalah laki-laki. Jadi, untuk menentukan anak yang akan lahir adalah suami, bukan istri.

Penulis yang seorang psikolog klinis sepertinya sangat mengetahui mental pembaca. Pesan yang disampaikan buku dikemas dengan cara jauh dari menggurui. Setiap bab diduhului cerita pendek nyata. Kemudian, dijadikan bahan perenungan sehingga terasa lebih ringan dibaca. Buku ini merefleksikan tindakan dan solusi atas permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. n

Diresensi Husnul Aini, alumna Universitas Mataram

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment