Merayakan Semangat Pergerakan Perempuan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Kongres Perempuan 2019

Merayakan Semangat Pergerakan Perempuan

Merayakan Semangat Pergerakan Perempuan

Foto : Koran Jakarta/Henry Pelupessy
A   A   A   Pengaturan Font

Angka kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Jawa Tengah (Jateng) yang masih tinggi membuat sejumlah pihak berpikir keras. Untuk menyatukan visi dan misi dalam mengatasi persoalan itu, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak untuk menggelar kongres perempuan pertama di Jateng.

Kongres perempuan digelar di Kota Semarang, Jateng, pekan lalu, dihadiri sebanyak 750 peserta. Peserta berasal dari instansi pemerintah lintas sektor, tim penggerak PKK, organisasi-organisasi perempuan dan anak, serta komunitas pemerhati perempuan dan anak seluruh Jateng.

Kongres perempuan memang hal yang penting untuk dilakukan. Selain memecahkan masalah yang sudah terjadi, kongres ini diharapkan dapat memprediksi persoalan perempuan di masa mendatang.

“Karena kita tidak bisa menggunakan cara lama, karena perubahan dunia begitu cepat. Bicara kekerasan atau diskriminasi perempuan, tidak cukup hanya yang begini-begini saja,” ungkap Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Terkait peningkatan daya saing perempuan, perempuan tidak mungkin berdaya apabila tingkat pendidikannya rendah dan tidak memiliki keterampilan. Maka dalam kongres ini, diharapkan ada rekomendasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan bagi perempuan.

Sebenarnya, sudah banyak aksi nyata yang dilakukan Pemprov Jateng terhadap diskriminasi kaum perempuan. Di antaranya kerjasama dengan Polda dan Kejati terkait penanganan kasus KDRT dan juga membuka shelter untuk konsultasi.

Tak hanya itu, Ganjar juga mendorong perempuan untuk terlibat aktif dalam penentuan kebijakan publik. Di Jateng, lanjut dia, setiap Musrenbang, perempuan menjadi yang pertama selain anak dan difabel, untuk menyuarakan pendapatnya.

Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Jateng yang juga Ketua Panitia Kongres Perempuan Jawa Tengah 2019, Nawal Arafah Yasin, mengatakan, Kongres Perempuan Jawa Tengah I diselenggarakan untuk mengajak seluruh komponen organisasi perempuan dan segenap lapisan masyarakat mengenang dan merayakan semangat pergerakan perempuan.

“Kemiskinan perempuan, ketidaksetaraan upah dan kesempatan pekerjaan, kekerasan dan perdagangan perempuan, perkawinan usia anak, kematian ibu dan rendahnya partisipasi politik perempuan di parlemen dan dalam pembangunan merupakan berbagai permasalahan yang masih dihadapi oleh perempuan,” kata istri Wagub Jateng, Taj Yasin itu.

Untuk itu, lanjut Nawal, kali pertama organisasi, komunitas, dan elemen terkait masalah perempuan di Jawa Tengah bahu-membahu melakukan konsolidasi gerakan sosial untuk mencari solusi bersama, dengan menyelenggarakan kongres perempuan.

Kegiatan yang diselenggarakan tak hanya seminar dan diskusi, ada pula suguhan kesenian daerah, pemberian bantuan, serta pameran produk karya perempuan. Di akhir acara, akan ada rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah.

Hasilkan Sejumlah Maklumat

Sejumlah maklumat yang dihasilkan dalam kongres ini adalah pertama, mendorong dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada perempuan untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan penentuan arah pembangunan, mendorong terciptanya relasi sosial yang aman, nyaman, dan tidak diskriminatif dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan, dan mendorong perempuan untuk menempati posisi strategis di pemerintahan, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat.

Kedua, mendorong terwujudnya kerja sama yang kuat antara perempuan dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, ormas, keagamaan dan komunitas dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang adil, demokratis dan sejahtera.

Ketiga, menguatkan kapasitas dan peran perempuan dalam membangun perdamaian, menghapus intoleransi, kekerasan, perdagangan perempuan dan perkawinan anak yang telah menghambat pemberdayaan perempuan, mengonsolidasikan dan menyinergikan seluruh pengetahuan, karya, temuan dan ketrampilan perempuan untuk mendorong terwujudnya pemerintahan yang demokratis dan sejahtera.

Keempat mendorong penghapusan norma sosial dan tradisi yang menghalangi perempuan untuk terlibat aktif dalam upaya mewujudkan tatanan sosial yang setara dan adil.

Penjabat Sekda Jateng Herru Setiadhie mengatakan, maklumat tersebut merupakan representasi persoalan yang dihadapi selama ini. Seperti toleransi yang saat ini menjadi barang mahal, atau relasi sosial yang semakin dijauhkan karena kehadiran smartphone.

Herru mencontohkan persoalan terorisme yang pelakunya sebagian besar generasi milenial. Dia mensinyalir, perbuatan mereka sebagai akibat kurangnya komunikasi dan kasih sayang dari orang tua.

“Kalau betul-betul diimplementasikan, saya yakin Kongres Perempuan akan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara, khususnya Jawa Tengah,” katanya.

Acuan Pemberdayaan Nasional

Kongres Perempuan pertama di Jateng tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga. Bintang menegaskan, hasil Kongres Perempuan di Jateng akan menjadi acuan dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia.

“Penurunan angka kekerasan pada perempuan dan anak memang harus dikeroyok bersama. Saya senang, karena Jateng menggelar kongres perempuan ini sebagai langkah mencari solusi. Saya berharap, hasil kongres ini tidak hanya untuk pemberdayaan perempuan di Jawa Tengah, namun akan kami jadikan acuan dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia,” katanya.

Sikap perempuan yang cenderung lemah lembut dan halus rawan dimanfaatkan menjadi pelaku tindak radikalisme maupun intoleransi. Terlebih, jika dia memiliki pengetahuan dan pendidikan yang minim.

Hal itu diingatkan Nawal Arafah, saat Diskusi Tematik V “Perempuan dan Toleransi”. Diakuinya, selama lima tahun terakhir ada pergeseran pelibatan perempuan yang semula sebagai korban, kemudian pendukung, dan merambah menjadi pelaku atau aktor intoleransi, yang berhijrah dan menjadi jihadis.

“Dari kondisi tersebut, perempuan dipandang lebih mudah didoktrinasi, dipengaruhi untuk terlibat dalam aksi radikalisme dan intoleransi. Perempuan juga dianggap lebih lembut dan halus dalam melakukan upaya radikalisme,” ujar dia.

Lantas bagaimana cara membentengi diri agar terhindar dari pengaruh radikalisme dan intoleransi? Nawal memberikan tips agar perempuan dan seluruh masyarakat, terus menciptakan narasi-narasi perdamaian dan ajaran Islam moderat, yang mengedepankan asas kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, dan toleransi, terutama melalui media sosial. Tingkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai radikalisme, terorisme dan intoleransi.

Sementara itu, menurut aktivis Himpunan Masyarakat Inklusi Kota Semarang (Himiks) Semarang, Irma, saat Diskusi Tematik III “Perempuan dan Perlindungan Sosial” mengatakan, pendidikan, kesehatan serta pengentasan kemiskinan merupakan beberapa faktor yang masih terus diperjuangkan dalam meraih perlindungan sosial bagi perempuan.

“Fasilitas pendidikan yang belum memadai, masih banyak teman-teman disabilitas yang kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, baik yang tunanetra, tunarungu maupun tunadaksa,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng, Sukirman mengatakan, kasus-kasus jangka pendek terkait perlindungan sosial perempuan harus segera ditangani bersama.

“Kita inventarisasi sekarang, kasus jangka pendek terkait upah yang tak dibayarkan, pemotongan upah, dan lembur yang tidak dibayar, untuk coba kami bantu penyelesaiannya,” kata dia. SM/R-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment