Merawat Pikiran dari Ancaman Informasi Negatif | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 24 2017
No Comments

Merawat Pikiran dari Ancaman Informasi Negatif

Merawat Pikiran dari Ancaman Informasi Negatif

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Terapi Berpikir Positif

Penulis : Dr Ibrahim Elfiki

Penerbit : Serambi

Cetakan : Juli, 2O17

Tebal : 347 halaman

ISBN : 978-602-290-073-3

Kendatipun banyak orang tahu bahwa hidup dikendalikan seutuhnya oleh pikiran, bukan berarti mereka selalu mampu mengendalikan pikiran sendiri karena cukup kompleks. Ini meliputi penyaringan secara ketat informasi yang masuk ke, melatih agar senantiasa bepikir positif, serta memilih secara akurat ribuan pikiran yang akan menjadi tindakan.

Berdasarkan penelitian Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen dalam buku Aladdin Factor, setiap hari rata-rata orang menghadapi 60 ribu jenis pikiran. Celakanya berdasakan riset Fakultas Kedokteran di San Fransisco, 80 persennya bersifat negatif (hlm 4).

Ribuan pikiran tersebut tidak inheren berada dalam diri manusia sejak lahir. Ia berasal dari asupan informasi. Buku ini menyajikan tujuh sumber informasi paling kuat mewarnai pikiran manusia. Mereka adalah orang tua, anggota keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media massa, dan diri sendiri. Dari ketujuh sumber tersebut, yang paling berpengaruh orang tua dan media massa.

Orang tua memengaruhi tujuh tahun awal kehidupan anak yang disebut golden age. Di masa itu, pikiran seperti kertas putih yang bisa menerima informasi, tanpa filter lalu menanamnya di bawah sadar untuk menjadi kepribadian yang kokoh dan sulit dihapus. Pola pikir yang dibentuk selama tujuh tahun awal ini akan terpatri hingga ujung usia. Jika di tahap awal tersebut orang tua berhasil memasukkan informasi positif, kepribadian anak selanjutnya akan positif (hlm 156).

Media massa, terutama televisi, juga sangat memengaruhi pikiran. Diperkirakan remaja meluangkan 50 jam setiap pekan di depan televisi. Dalam durasi tersebut, mereka lebih banyak dijejali gosip, gaya artis, film tahayul, percintaan, dan kekerasan daripada tayangan positif.

Karena asupan pikiran cenderung negatif, maka kondisi hidup mereka juga buruk. Pusat Kajian Psikologi dan Fisiologi New Zealand meliris sebuah riset, 60 persen kondisi buruk manusia disebabkan pengaruh televisi. Kondisi ini juga memengaruhi tindakan mereka. Menurut penelitian Dr Wayne Dyer, di Amerika Serikat, anak usia 12 tahun telah menonton 12 ribu tindak pembunuhan. Akibatnya, satu dari sepuluh anak di Amerika mempunyai senjata api (hlm 9).

Sekarang, media sosial nyaris tanpa kendali. Jika televisi dianggap kotak ajaib yang kuat memengaruhi pikiran, media sosial dengan fasilitas internet jauh lebih esensial pengaruhnya. Jika pengaruh buruk televisi dipadukan dengan media sosial, tentu dampak buruknya luar biasa. Dengan internet, orang begitu mudah menciptakan situs kekerasan, porno, dan konten negatif lainnya.

Dengan internet pula, mereka bisa mengakses semua. Bisa dibayangkan jika setiap membuka media sosial atau situs internet kontennya negatif. Maka dalam setiap saat konten jenis itulah yang mewarnai pikiran. Sekuat apa pun pikiran manusia tatkala disentuh dengan informasi negatif, sedikit banyak pasti keruh (hlm 176–177).

Kegagalan membersihkan informasi negatif dalam pikiran dengan sendirinya membuat tidak. Padahal, sekali pikiran negatif, seluruh potensi diri juga akan negatif. Alasannya, pikiran memengaruhi mindset, intelektualitas, fisik, perasaan, sikap, citra diri, harga diri, kondisi jiwa, kesehatan, dan tindakan (hlm 129). Sekali pikiran sakit, seluruh aspek tersebut juga pasti sakit. Begitu pula sebaliknya.

Buku juga disertai hasil riset dan contoh-contoh kisah faktual. Ini menambah efektif sajian informasinya. Perlu kesadaran bahwa menjaga kesehatan pikiran menjadi sumber fundamental kesehatan hidup. 

Diresensi Yudi Prayitno, lulusan Wearnes Education Centre, Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment