Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Merawat Gigi demi Masa Depan Profesi dan Karier

Merawat Gigi demi Masa Depan Profesi dan Karier
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Gigi

Penulis : drg Dwi Setianingtyas, Sp.PM; drg. Agam Ferry Erwana, Sp.PM

Penerbit : Andi Offset

Cetakan : 2018

Tebal : xii + 116 halaman

ISBN : 978-979-29-6776-0

Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan, hanya 2,8 persen masyarakat berusia 3 tahun ke atas yang menyikat gigi dua kali sehari (pagi dan malam). Merawat kesehatan gigi dan mulut terbukti belum disadari. Kesehatan gigi dan mulut sangat krusial, khususnya anak-anak. Kondisi gigi dan mulut memengaruhi kesehatan dan perfor­ma, bahkan penentu karier dan profesi masa depan.

Buku ini mengkritik Kemenkes RI yang belum konkret memprioritaskan kesehatan gigi dan mulut. Gebra­kan program sebatas kuratif, belum preventif maupun promotif. Menjadi kontraproduktif jika Kemenkes menar­getkan tahun 2030 masyarakat bebas penyakit karies gigi dan berlubang.

Ada 90,2 persen anak Indonesia berusia 5 tahun giginya berlubang. Rata-rata kerusakan gigi 8,1. Kemu­dian anak usia 12 terdata membaik, 72 persen yang bermasalah gigi berlubang sebesar 1,9. Justru kondisi memburuk untuk usia dewasa 35–44 tahun, 92,2 persen bermasalah gigi berlubang dengan rerata kerusakan gigi 6,9.

Beberapa tahun lalu dicatat prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit) nasional masalah gigi-mulut 25,9 persen. Prevalensi pengalaman karies gigi 72,3 persen. Prevalensi na­sional karies aktif 53,2 persen. Maka, dibutuhkan beragam cara memper­baiki status kesehatan gigi-mulut.

Saat inilah secara konkret karies dan gigi berlubang menjadi masalah besar anak Indonesia. Penyakit gigi dan mulut menempati urutan ke-6 dan urutan ke-4 penyakit termahal perawatannya. Penyakit gigi dan mulut kebanyakan penyakit jaringan penyangga gigi (abses, gingivitis, ra­dang gusi), karies gigi, dan bau mulut (halitosis). Penyakit ini terkait erat dengan kebiasaan membersihkan gigi dan mulut sehari-hari.

Gigi depan adalah investasi masa depan. Banyak orang harus mengubur cita-cita gara-gara masalah gigi. Sebe­narnya hubungan antara gigi depan yang bagus dan komplet tidak berlaku rata untuk semua cita-cita. Namun, secara khusus akan menjadi vital yang mau menata karier di kepolisian atau ketentaraan (Polri/TNI). Performa gigi syarat mutlak. Masalah gigi depan me­miliki potensi sama besar dengan gigi belakang karena dapat menjegal para peminat karier di TNI/Polri (hlm 21).

Performa gigi juga diterapkan un­tuk tes pilot dan pramugari. Secara rutin kini calon mahasiswa yang dibia­yai negaraseperti Statistik dan STAN juga mensyaratkannya. Di lingkungan TNI/Polri, para anggotanya pun ma­sih tetap mendapat pemeriksaan gigi secara berkala setiap tahun. Jadi, ada rumus atau hitungan tertentu untuk kenaikan pangkat, tugas belajar, atau dinas ke luar negeri (hlm 16).

Sebagai solusi, daripada nanti sulit memperbaiki masalah gigi karena ter­lalu banyak harus dipermak, mulailah merawat dan menjaga sejak dini. Gigi depan atau belakang harus dijamin sama. Jangan sampai masa depan rusak karena gigi kacau. Alih-alih tuntutan profesi TNI/Polri, seba­gai seorang artis, guru, dosen, MC, dan marketing/sales membutuhkan penampilan apik untuk tersenyum dan berbicara. Gigi menjadi aset yang sangat fantastis.

Untuk merawat gigi pasien ha­rus sadar check up dan memastikan performa gigi (hindari gigi berlubang, tambalan bocor, dan bebaskan karang gigi). Pacaklah gigi yang tidak rata de­ngan perawatan ortotodontia (me­makai kawat gigi/behel) sejak dini.

Sebaiknya enam bulan sekali me­meriksakan agar setelah tamat SMA/SMK tidak tergopoh-gopoh menam­bal dan membersihkan gigi dalam semalam. Ke dokter gigi tidak harus menunggu sakit. Jika ada gigi yang menumpuk atau tidak rapi, pasanglah behel selama satu hingga dua tahun. Diresensi Yustina Windarni, alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment